Sungguh merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi SIDDHI Surabaya mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Bapak yang super sibuk dan penuh aktivitas ini. Setelah melewati beberapa kali pembatalan perjanjian bertemu yang disebabkan kesibukan beliau, akhirnya team penulis SIDDHI Surabaya berhasil bertemu dan mewawancarai beliau di Vihara Buddhayana pada suatu sore yang indah.

Siapa sih Beliau itu …..?!!!
    
Bpk. Rudi BudimanBapak yang sore hari ini mengenakan stelan batik yang rapi itu bernama Rudi Budiman. Selain dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, Pak Rudi, demikian biasa beliau dipanggil, merupakan salah satu pendiri SIDDHI Surabaya dan menjabat KETUA SIDDHI yang pertama di Surabaya.
Mari kita ikuti perbincangan santai kami dengan Pak Rudi yang ditulis dengan gaya bertutur…..

Masa kecil ….

Saya lahir di kota Mojokerto 18 Desember 1959. Saya lahir bukan di rumah sakit, tapi di rumah bersalin biasa dibantu oleh seorang bidan. Rumah bersalin itu menjadi kenangan bagi saya karena sekarang telah berubah menjadi Mojosari Indah Mall yang kebetulan saya adalah salah satu pemegang saham di Mall tersebut hingga saat ini.

Awal mulai bekerja ….

Semasa kecil, orang tua saya membuka toko kelontong di kecamatan Mojosari. Berhubung saya merupakan anak tertua dari lima bersaudara, saya wajib membantu menjaga toko kalau tidak sedang ke sekolah. Kebetulan letak toko dekat pasar sehingga jam 5 pagi sudah ramai sekali. Mau tidak mau, toko juga harus  dibuka jam 6 pagi sampai jam 9 malam tanpa istirahat.
Saat itu sistem penjualan masih kuno, semua pekerjaan dikerjakan sendiri secara manual. Saya merangkap sebagai sales, kasir, kadang ikut angkat seperti kuli. Itu merupakan tempat latihan fisik dan mental bagi saya yang waktu itu masih duduk di Sekolah Menengah Atas.

Dan setiap hari Senin, saya harus ke Surabaya untuk mengambil barang-barang buat dijual di toko.  Sebagai anak tertua, saya yang harus melakukan itu semua dan tidak ada yang bisa menggantikan sehingga setiap hari Senin saya harus bolos sekolah. Saya pernah beberapa kali ditegur guru kelas dan akhirnya dipanggil menghadap guru BP (Bimbingan Konseling, red.) dan kepala sekolah.  Sempat terjadi perdebatan kecil, ya… saya ceritakan apa adanya, antara tugas dan kewajiban,  memang itulah kondisi yang harus saya jalani. Ibu saya harus menjaga adik-adik saya yang masih kecil. Jaman dulu tidak ada baby sister seperti sekarang, sementara ayah saya harus menjaga toko. Sebagai anak tertua saya berkewajiban untuk membantu orang tua mencari nafkah. Sebagai siswa walaupun setiap Senin tidak masuk, saya tetap menunaikan tugas sekolah dan mampu berprestasi.
Akhirnya pihak sekolah mau mengerti dan saya satu-satunya murid yang diberi ijin khusus untuk libur sekolah di setiap hari Senin. Lucunya teman-teman sekelas saya sangat membantu dan kompak, setiap hari Sabtu saya sudah menitipkan buku catatan pelajaran Senin ke beberapa teman dan mereka bersedia secara bergantian mencatatkan mata pelajaran hari senin kedalam buku catatan saya dan menjelaskan pada saya, sehingga saya tidak merasa ketinggalan pelajaran di hari Senin.
Dari situlah saya bisa merasakan kalau bersinergi dengan teman-teman itu sangat luar biasa hasilnya.  Bila tidak ada bantuan dari teman-teman, barangkali saya akan sangat sulit untuk mengejar pelajaran yang tertinggal dihari Senin. Dari pengalaman tersebut, saya menjadi mengerti tentang arti ”kebersamaan” dan ”team work”. Sampai saat ini, disetiap usaha dan pekerjaan, saya selalu menerapkan sistim kerjasama,  pendelegasian dan keterbukaan.

Masa Remaja …..
 
Seperti umumnya remaja-remaja di dunia, tidak peduli di jaman apapun, anak-anak remaja selalu heboh penuh rasa ingin tahu. Saya juga demikian, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, atas se-ijin guru agama waktu itu, setiap pelajaran agama saya selalu berpindah-pindah kelas. Saya mencoba mempelajari agama Islam, Kristen, Katolik dan Buddha, saya ikutin semua. Akhirnya setelah  saya pahami lebih dalam, agama Buddha yang menjadi pilihan saya.  Saya dibaptis langsung oleh Yang Arya Bhiksu Ashin Jinarakittha (Suk Khong) pada tahun 1975 dan diberi nama Buddhist ”NYANA PUTRA’.
Saya kemudian juga terpilih sebagai ketua Perkumpulan Pemuda Pemudi Buddhist Mojokerto (P3BM).
Dan di tahun 1982,  saya menjadi ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) HIAP THIAN KHONG Mojosari.  Saya ingat betul kejadiannya , pada waktu  itu sedang terjadi pertengkaran antar pengurus, masalah bulutangkis di TITD, saya interupsi keras, karena tidak sesuai dengan agenda rapat ; setelah mendengar interupsi saya dan cara saya memaparkan agenda yang harus dijalankan, para pengurus yang hadir saat itu setuju dan menganggap kalau saya mampu memimpin, sehingga akhirnya saya dimasukan menjadi pengurus TITD HIAP THIAN KHONG.  

Awal Bisnis

Karena saya masih punya 4 orang adik yang masih membutuhkan biaya sekolah, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan keperguruan tinggi. Jadi  pendidikan saya di saat itu hanya sampai SMA saja. Tahun 1990, saya mulai mencoba membuka usaha di bidang otomotif joint bertiga bersama teman.  Kenapa saya memilih bidang otomotif? Saya berpikir simple saja saat itu. Saya melihat bahwa dimasa mendatang akan semakin banyak orang membutuhkan alat transportasi untuk bergerak, dan saya melihat sepeda motor adalah sarana transportasi yang sesuai dan bisa dijangkau banyak kalangan, karena itu kami sepakat untuk memulai bisnis sebagai dealer sepeda motor ”SUZUKI”, yang saat itu merk tersebut baru mulai popular.  Ternyata pilihan kami tidak keliru, saat ini usaha kami sudah berkembang mempunyai beberapa dealer di beberapa kota……dan sekarang ini kami mendapat kepercayaan dari IMNI Indo Mobil Nasional Indonesia menjadi salah satu mean dealer di Jakarta wilayah Jabotabek.

Pada tahun 1991, dari hasil keuntungan kami membuka unit usaha lain, seperti Bank Pasar. Tahun 1992 buka lagi usaha lain….. demikian setiap tahunnya kami berusaha untuk mengembangkan usaha bersama para karyawan kami semua ikut terlibat bersinergi membangun usaha….
Di tahun 2000, saya dengan teman-teman dari beberapa bank, melanjutkan kuliah lagi di STIE. Sekarang ini saya sudah menyelesaikan S1, sejak tahun 1991 kita sudah memimpin bank dan saat ini menjabat sebagai direktur utama dari Bank Artha Swasembada dan menjadi pemegang saham di 6 Bank.   
Sampai hari ini usaha yang saya miliki …(bisa dibaca di daftar usaha, red.) semua ini dibangun dengan kerja sama teman-teman. Kiat supaya bisa akur dalam menjalin kerja sama, kami memegang prinsip semua yang mendapat tugas menjalankan unit usaha tersebut wajib mempertanggung jawabkan kemajuan atau perkembangan usaha yang dipimpinnya. Jadi kami sesama rekan seperti berlomba menunjukan prestasi terbaik dengan menjunjung tinggi kejujuran, keterbukaan, tidak perhitungan dan tidak boleh membebankan kepentingan pribadi kedalam perusahaan. Perusahaan akan maju kalau pemimpinnya bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya dan mendahulukan kepentingan perusahaan, ini yang bagus !
Motivasi saya dalam bekerja adalah ”Hobby”. Sama seperti kalau  kita melakukan kegiatan yang kita senang atau enjoy, maka hasilnya akan luar biasa dan waktu juga berjalan dengan sangat cepat.
Untuk karyawan yang bekerja di perusahaan kami, ada keterbukaan  manajemen yang mana mereka semua baik dari posisi terendah hingga tertinggi bisa menikmati hasil kerja keras mereka. Secara terbuka mereka tahu berapa modal perusahaan, biaya-biaya dan keuntungan, pembagian yang menjadi hak mereka bila mereka melakukan tindakan/pekerjaan dengan baik. Semua itu dijelaskan dengan detail, sehingga para karyawan itu tahu dan tidak hanya mempunyai ”rasa” memiliki, tapi benar-benar memiliki perusahaan dimana mereka bekerja.
Bagi kami semua karyawan yang ada di perusahaan itu penting, semua ikut saling menyumbang/berkontribusi memajukan perusahaan. Jangan kira office boy itu tidak penting. Office boy itu sangat penting, karena kalau ruangan kerja serta lantai juga kamar mandi tidak dibersihkan, bagaimana customer maupun  staff  yang bekerja di dalamnya bisa merasa nyaman ?         
Motto saya dalam memimpin perusahaan adalah Bos itu jangan suka marah, Bos harus mencari tahu kesulitan/kesukaran yang dihadapi anak buahnya. Kalau Bos itu tahu bahwa anak buahnya melakukan kesalahan, sebagai pemimpin dia harus bisa membina anak buahnya. Kalau anak buahnya tidak mau di bina, maka anak buah tersebut boleh ”dibinasakan”. (” kelakarnya sambil tersenyum…. ” )           
  
Membagi Waktu dengan Keluarga
   
Banyaknya unit usaha dan juga aktivitas sosial yang kami jalani, memang banyak menyita waktu dan konsentrasi; tapi itu tidak berarti kami tidak punya waktu untuk keluarga. Kami sekeluarga sudah berkomitmen dan mendisiplinkan diri untuk setiap hari Minggu adalah hari keluarga. Untuk Sabtu malam anak-anak boleh bermain dengan teman-temannya tapi kalau untuk hari Minggu, acara sendiri-sendiri harus dibatalkan. Semua wajib berkumpul bersama, melakukan kegiatan bersama, seperti makan di luar / di dalam rumah bersama-sama. Dan kami juga berkomitmen untuk melakukan liburan bersama-sama dalam setahun 2 kali, bisa dibulan Juni, liburan sekolah anak-anak atau liburan lebaran dan Natal  tahun baru.
Komitmen waktu untuk keluarga ini memang wajib kami terapkan. Karena pada hari-hari biasa kami sulit bisa bertemu/berkomunikasi dengan santai,  masing-masing punya tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan. Anak-anak sibuk dengan sekolah dan les-les pelajaran.

Waktu untuk Kegiatan Pribadi

Di sela- sela kesibukan saya, masih sempat menyisihkan waktu setiap hari sebelum tidur atau bangun tidur melakukan meditasi sekitar 5 sampai 10 menit, untuk menenangkan hati dan pikiran, relaksasi. Karena sering menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam, jam tidur saya selalu di atas jam 12 malam, dan sebelum berangkat tidur saya biasanya  melakukan sembahyang sebentar, tepat di jam 12 malam, meditasi, kemudian  tidur.  Jam 6 pagi saya sudah bangun dan menyaksikan anak-anak bersiap-siap berangkat sekolah. Lalu saya berolah raga sebentar, meditasi, baca koran dan siap-siap ke kantor.
Bagi saya tidur 6 jam itu sudah cukup, kualitas tidur itu yang penting, bukan kuantitas. Karena semua tergantung pada pikiran, tidur sampai 10 jam juga tidak membuat kita segar pagi harinya kalau sebentar-bentar terbangun.

Setiap minggu pagi, saya selalu usahakan bisa mampir ke vihara 1 – 2 jam untuk mengikuti kebaktian, sudah menjadi kebiasaan saya dan ada terasa menganjal / tidak nyaman bila tidak ke vihara.
 
Kegiatan Sosial

Saat ini selain di SIDDHI, saya menjadi Bapak asuh untuk anak-anak sekolah luar biasa (LB). Tugas kami membantu anak-anak sekolah luar biasa tersebut untuk bisa mengembangkan kemampuan mereka sesuai bakat yang mereka miliki. Misalnya ada anak yang bakatnya melukis, maka kami akan mempersiapkan peralatan lukis untuk mereka seperti tinta, kanvas, dan lain-lain. Bila anak tersebut berbakat di bidang kecantikan seperti gunting rambut, kami juga siapkan tempat latihan dan peralatan. Ada yang tunanetra, punya bakat memijat, kami beri pelatihan. Ketika mereka sudah mahir kami kirim pulang ke rumah orang tua mereka dan siapkan semua sarana dan peralatan untuk buka praktek sehingga mereka mampu mandiri mencari nafkah, tugas kami ini hanya menyiapkan ”pancing” bukan ”ikannya”.
       
Pesan dan Kesan pada Pengurus SIDDHI

Menurut saya kepengurusan saat ini sudah cukup bagus. Pesan untuk pengurus SIDDHI yang sekarang, saya selalu mendukung supaya generasi penerus SIDDHI untuk terus maju melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM). SIDDHI akan menjadi satu organisasi yang solid dan badan otonom Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) yang mandiri secara financial dan sumber pencetak Sarjana dan Profesional yang berkualitas.

Catatan:
Redaksi melakukan editing pada beberapa bagian tanpa merubah makna tulisan.

 

Riwayat Pendidikan:
Formal:
– SD lulus tahun 1972, di Mojokerto
– SLTP lulus tahun 1975, di Mojokerto
– SLTA lulus tahun 1978, di Mojokerto
– Sarjana (S1) tahun 2003 / STIE ABIE, di Surabaya
Kursus / Lain-lain:
– Pendidikan PIMPINAN BPR dan Bank Indonesia Wilayah Jatim Tahun 1991
– Pendidikan ACCOUNT OFFICER  Angkatan V dari BANK EXIM tahun 1992 di Malang

Pengalaman Kerja:
– Pengusaha Textil
– Pimpinan UD. Anugerah Motor Mojosari tahun 1990 s/d 1991
– Komisaris PT. Marani Ripah Globalindo, tahun 2002 s/d sekarang
– Direktur Utama BPR ARTA SWASEMBADA Mojosari tahun 1991 s/d 2008
– Komisaris Utama PT. BPR Terusan Jaya Mojokerto, tahun 1998 s/d sekarang.
– Komisaris PT. BPR ARTA SWASEMBADA Mojosari, tahun 2008 s/d sekarang
– Komisaris PT. Bhakti Persada Saudara Pharma, tahun 2000 s/d sekarang
– Komisaris Utama PT. Anugerah Agung Sejahtera Abadi, tahun 2008 s/d sekarang
– Komisaris PT. Mitraindo Sejahtera Utama, 2007 s/d sekarang.
– Komisaris PT. Sejahtera Sahabat Utama, 2007 s/d sekarang