THE GLORIOUS (ENDLESS) KNOT

THE GLORIOUS (ENDLESS) KNOTSIMPUL TAK BERUJUNG ADALAH suatu hiasan grafis TERTUTUP, yang terdiri atas tali-tali bersudut kanan yang saling menjalin. Hiasan ini sering dihubungkan dengan lambang Hindu srivatsa. Dalam  format yang paling awalnya, hiasan ini nampaknya adalah suatu naga symboP6 dengan dua ular yang dibentuk bergaya. Kemudian, sebuah simbol grafis berkembang dari bentuk tersebut diuraikan sebagai perwakilan suatu lengkungan/keritingan rambut, atau sekuntum kembang dengan empat atau delapan kelopak.

Sebagaimana simpul Tibet tak berujung ini diasumsikan berkembang dari simbol tersebut bukanlah hal yang pasti juga. Saya bisa lebih mudah membayangkan suatu kaitan dengan simbol nandyavarta, suatu format varian swastika, yang paling tidak dalam pembuatannya mengandung beberapa kemiripan dengan simpul tak berujung. Berkaitan dengan peranannya dalam Buddhisme Tibet, tidak ada kenang-kenangan yang masih hidup dari arti-arti sebelumnya yang mungkin, dan tidak ada acuan tulisannya. Bagi orang Tibet, simpul tak berujung adalah simbol klasik untuk tendrel, suatu cara dimana ada kenyataan.

Jalinan tali-tali tersebut mengingatkan kita tentang bagaimana semua gejala/fenomena berkaitan dan bergantung pada kondisi-kondisi dan sebab-sebab. Secara keseluruhan terdiri atas dari suatu pola yang tertutup tanpa celah, yang sekaligus menyatakan gerakan dan ketenangan, semuanya dalam bentuk representasi tentang kesederhanaan yang tinggi dan keselarasan yang seimbang sepenuhnya.

Itulah sebabnya bisa dimengerti bahwa simpul tak berujung adalah salah satu dari simbol favorit dalam budaya Tibet. Yang digunakan tidak hanya dalam hubungannya dengan Delapan Simbol, tapi juga sering digunakan tanpa berkaitan dengan hal lain (sendiri). Mengingatkan pada gambaran tendrel, dan pada waktu yang bersamaan merupakan ungkapan tendrel yang paling sederhana, paling jelas, dan paling ringkas. Oleh sebab itu dipahami sebagai hal yang paling menguntungkan dalam derajat tertinggi. Cara operasi/penggunaan lambang ini selalu dialami pada banyak tingkatan. Oleh karena semua gejala saling berhubungan, penempatan simpul tak berujung pada suatu hadiah atau pada suatu kartu ucapan dianggap untuk membangun suatu hubungan menguntungkan antara pemberi dan penerima. Pada saat bersamaan, penerima dianggap berhubungan dengan keadaan baik di masa datang, yang diingatkan bahwa efek positif di masa depan itu mempunyai akar penyebab di masa sekarang.

Karena simpul ini tidak berawal dan berakhir, simpul ini juga menandakan pengetahuan Buddha yang tanpa batas.

 

THE VICTORY SIGN

THE VICTORY SIGNKONSEP “Lambang kemenangan,” “panji,” dan “bendera” berhubungan dengan berbagai objek dalam budaya Tibet yang terdiri dari berbagai macam hubungan satu sama lain baik dalam kaitannya dengan bentuk atau nama. Dalam Tabel I (hal. 29), saya telah mendaftar berbagai macam penandaan dalam bentuk survei, dan agar lengkap, termasuk juga payung tersebut. Dalam konteks ini, saya mempekerjakan orang yang menggunakan ilmu bahasa Tibet tingkat normal untuk ini, kalau tidak dinyatakan. Lambang kemenangan (rgyal-mtshan) adalah lambang yang dimiliki Eight Symbols. Sama seperti payung, lambang tersebut dibuat dari kain dan kayu, atau imitasi dari bahan logam. Sekilas pada Tabel I menunjukkan bahwa lambang kemenangan tidak diuraikan di manapun di dalam Literatur Tibet klasik.

Pada titik ini, saya bermaksud menyebutkan sebuah bentuk khusus lambang ini yang saya percayai berkembang di Tibet dari berbagai jenis payung yang diuraikan di atas. Terdiri dari suatu silinder kecil kain dengan jumlah paling sedikitnya tiga baris, tetapi biasanya lebih, dengan  lipatan renda kelambu sutera dengan jumlah angka ganjil. Kain diregangkan di atas sebuah bingkai kayu, dan dimahkotai dengan suatu hiasan seperti pada ujung pegangan pedang yang sering dihiasi dengan empat pita sutera. Obyek ini, sering ada dalam tiruan bahan metal, yang ditemukan di dalam dan di sekitar kuil atau biara, dan dikenal sebagai “lambang kemenangan.” Salah satu tanda kemenangan ini, yang digantung di langit-langit sebagai hiasan, persis di tengah aula pertemuan utama dari suatu biara, disebut oleh para biarawan sebagai “payung pusat kuning” (dkyil gdugs-set po). Penandaan ini, dan fakta bahwa obyek seperti itu tidak diuraikan di bagian manapun dalam teks tersebut, membuat saya menyimpulkan bahwa bentuk tersebut mungkin suatu format bertepi-banyak payung kehormatan.

Dengan cara ini, kita bisa menjelaskan bagaimana obyek ini berkembang sebagai format payung yang khusus. Tetapi bagaimana penandaan “lambang kemenangan,” yang diadopsi dari literatur klasik, diterapkan hanya untuk obyek tertentu ini saja tidak bisa lagi diputuskan. Ini merupakan suatu fakta, bahwa bersamaan dengan nama, maksud/arti simbolis juga disampaikan kepada obyek, yaitu “lambang kemenangan terhadap semua perselisihan paham, ketidakharmonisan, atau rintangan” (mi-mthun phyogs-Ls rgyalbai val-rntshan). Dengan demikian, seperti halnya kebanyakan kasus, maksud/arti simbolis tersebut berpindah dari tingkat duniawi ke tingkatan religius.

Oleh sebab itu bagi orang Tibet, lambang kemenangan menandakan terutama pada kemenangan ajaran Buddhisme, kemenangan pengetahuan kebijaksanaan atas ketidak-tahuan atau kemenangan atas semua rintangan, pencapaian kebahagiaan. Pada saat yang sama, lambang tersebut menyertakan harapan untuk membawa keabadian, kekekalan kebahagiaan duniawi yang “cepat berlalu” dan tentang kebahagiaan tertinggi dalam pengertian tendrel.

Lambang ini juga terlihat terlepas dari Eight Symbols, sebagai contoh, untuk perhiasan atap kuil. Atap rumah pribadi di mana ada suatu satuan teks resmi lengkap, Kangyur (bKa=gyur), juga diijinkan untuk dihiasi. Lambang kemenangan dapat berfungsi sebagai perhiasan yang menggantung di dalam kuil, sebagai ornamen baik untuk tiang bendera doa yang panjang (dar-chen) dan tiang bendera untuk bendera nasional Tibet, dan sebagai suatu atribut dewa tertentu, seperti Vaisravana, penjaga kekayaan.

 

THE WHEEL

THE WHEELRoda, seperti simbol grafik lainnya di antara delapan simbol lainnya, terdiri dari pusat, peleg dan umumnya 8 jari-jari, kadang-kadang lebih. Lingkarannya seperti bentuk yang mendasarinya adalah simbol universal yang ditemukan dalam semua kebudayaan. Pada masa pra-Buddha India, roda utamanya mempunyai dua arti, yang pertama sebagai senjata, dan yang kedua sebagai simbol untuk matahari, atau sesuatu berasal dari ini, yaitu untuk waktu atau untuk berbagai macam gerakan melingkar (siklus). Jumlah jari-jari bermacam-macam tergantung pada tradisi, bisa 6, 8, 12, 32, atau seribu. Ini sering disamakan dengan titik-titik arah dari kompas atau dengan gerakan sentrifugal, ketika peleg dilambangkan sebagai elemen yang terbatas. Pusat diinterpretasikan sebagai poros dunia. Roda digunakan sebagai emblem atau artibut deiti-deiti Hindia.

Simbol senjata dari roda masuk Buddhism dalam bentuk roda pelindung sebagai bagian dari visualisasi meditasi dari ritual-ritual tantrik tertentu. Roda pelindung ini digambarkan tanpa peleg. Ini menunjukkan keuntungannya yang dihasilkan secara sederhana dari gerakan senjata yang diayunkan dalam gerakan melingkar.

Bagaimanapun juga, yang paling penting, bentuk yang paling dikenali, dan bentuk yang termasuk dalam kedelapan simbol, adalah roda Dharma yang diperagakan Buddha dalam gerakan pada ceramah pertamanya. Menurut Buddhism, ada bermacam-macam penjelasan pada tiap bentuknya. Salah satu penjelasannya adalah membuat orientasi pada tiga latihan dari praktek Buddhist: pusat berarti latihan pada disiplin moral, yang melaluinya batin di dukung dan distabilkan; jari-jari berarti penerapan  kebijaksanaan dalam kaitannya dengan kesunyataan, yang mana ketidaktahuan dipotong (disini, tanda dari aspek senjata lagi);  pelegnya mempunyai arti latihan dalam konsentrasi, yang memegang praktek  tersebut bersama-sama.

Diantara kedelapan simbol keberuntungan, roda juga mempunyai arti religius murni sebagai simbol ajaran Buddha. Ini mengingatkan kita bahwa Dharma adalah mencakup semua dan lengkap didalamnya. Tidak ada awal dan akhir, dan sekaligus dalam gerakan (berputar) dan diam. Jadi, Buddhist melihatnya sebagai pernyataan kelengkapan dan kesempurnaan dari ajaran, dan keinginan agar ajarannya tersebar lebih luas.

Sumber :

1. The Encyclopedia of Tibetan Symbol and Motifs by Robert Beer.
2. Buddhist Symbols in Tibetan Culture
(Arti dari masing-masing lambang tersebut di atas diterjemahkan oleh Yayasan Suvarnadipa, jl. Kapuas no. 1 Surabaya)