Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya menampilkan kisah-kisah hewan yang berjasa pada kehidupan manusia. Mereka tidak hanya membantu pemiliknya bahkan ada pula yang sampai menyelamatkan nyawa manusia. Gerak-gerik hewan yang begitu menarik, lucu dan membawa tawa. Ini menambah simpatik bahkan beberapa orang pun mengurangi makanan dari unsur hewan secara perlahan-lahan bahkan ada yang langsung hidup vegetarian. Sehingga semakin meningkat jumlah vegetarian.

Semakin hari bertambah banyak orang yang mulai vegetarian. Keberadaan tersebut dapat dilihat dari banyaknya depot/ rumah makan yang menyediakan masakan vegetarian dimana selalu dipenuhi dan dipadati oleh pengunjung. Sehingga orang hidup vegetarian tidak akan mengalami kendala dalam memenuhi menu makan sehari-hari atau merasa bosan menu yang menoton. Karena begitu banyak menu pilihan. Bahkan informasi mengenai makanan vegetarian dapat pula dilihat dan dibaca pada toko buku yang membahas hal tersebut dan dapat dipraktekkan langsung di rumah.

Vegetarian ini sendiri yang semula merupakan ajaran agama/ kepercayaan, berkembang menjadi gaya hidup masyarakat. Bahkan alasan orang mengkosumsi vegetarian telah berkembang dan mentransformasi diri dari kesehatan, etika sampai menyentuh lingkungan.

Orang vegetarian saat makan bersama dengan orang yang tidak vegetarian terkadang orang merasa kasihan menu sederhananya, seperti tahu dan tempe. Mereka memandang makanan tersebut belum cukup dan kurang mewah. Seakan-akan makanan ini hanya cocok dikonsumsi orang-orang ekonomi menengah ke bawah. Padahal kalau dilihat dari kadar nutrisinya, makanan tersebut tidak kalah kadar gizi dengan daging yang ada, bahkan lebih baik dan sehat untuk tubuh.

Banyak orang masih merasa ragu-ragu dengan pola hidup vegetarian, apa vegetarian dapat memenuhi nutrisi tubuh dalam aktivitas hidup sehari-hari ? Sungguh tidak benar bila dikatakan seorang vegetarian akan kekurangan gizi. Orang terkadang mempunyai pandangan yang keliru bahwa untuk kerja keras perlu daging dalam jumlah besar guna mencukupi gizi yang dibutuhkan. Jika dikatakan keluarnya tenaga perlu dibantu dengan makan daging. Bagaimana tenaga dan daya tahan kerbau maupun kuda dibandingkan dengan manusia !” Sedangkan mereka seumur hidup hewan-ewan tersebut hanya mengandalkan makan rumput saja ! Apabila dicermati lebih jauh sebetulnya seorang vegetarian akan lebih sehat karena kerja alat-alat tubuh tidak dipaksakan, tidak berkuman, tidak mengandung lemak tak jenuh yang mengakibatkan penyumbatan jalan darah, mudah pencernaannya, bersih darahnya dan sehat hawa pikirannya. Sehingga bagi orang yang mau memulai makanan vegetarian mereka tidak perlu memiliki keragu-raguan atas hal tersebut.

Pada penulisan ini akan dibahasan beberapa hal, mulai dari pengertian vegetarian, alasan-alasan orang menjalankan vegetarian, macam-macam vegetarian dan tips agar sehat dengan vegetarian.

I.    Pengertian Vegetarian
Vegetarian adalah sebutan bagi orang yang hanya makan tumbuh-tumbuhan dan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari mahluk hidup seperti daging, unggas, ikan atau hasil olahannya. Pertama kali istilah Vegetarian digunakan secara formal pada tanggal 30 September 1847 oleh Joseph Brotherton dan kawan-kawan di Northwood Villa, Kent, Inggris. Saat itu adalah pertemuan pengukuhan dari Vegetarian Society Inggris.

Kata Vegetarian ini berasal dari bahasa Latin vegetus berarti keseluruhan, sehat, segar, hidup. Penyebutan secara umum mereka yang tidak makan daging sebelum tahun 1847 sebagai ‘Pythagorean’ atau mengikuti ‘Sistem Pythagorean’. Definisi asli dari ‘vegetarian’ adalah dengan atau tanpa telur atau produk olahannya. Definisi ini masih digunakan hingga sekarang oleh Vegetarian Society.
Apabila kita cermati sejarah dunia, pola hidup vegetarian sudah ada jauh sebelum masehi, seperti yang diterapkan oleh masyarakat yang hidup di India dan Tiongkok. Praktek yang mereka jalankan tersebut bertujuan menghormati dan mengasihi semua makhluk hidup.

II.    Ragam vegetarian
Ragam vegetarian dapat dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat kekuatannya meninggalkan konsumsi produk hewani.  

Ada kelompok yang paling ketat tidak hanya meninggalkan produk hewani, mereka hanya makan bagian tanaman yang dipanen tanpa merusak tanaman pokoknya. Mereka menolak makan kentang atau bayam karena cara memanennya harus mencabut seluruh tanamannya. Bahkan mereka juga tidak mau menggunakan bahan asal hewan dalam bentuk apapun dalam kehidupan sehari-harinya.

Ada pula kelompok yang paling longgar, mereka masih mengkonsumsi  jenis daging tertentu dan meninggalkan daging merah (daging dari hewan mamalia) atau daging yang menurut agama/ kepercayaan harus dihindari dan tidak boleh dikonsumsi. Sehingga kita jangan heran pada saat ada hidangan daging tertentu tidak dikonsumsi mereka lebih memilih makanan dari unsur nabati tapi pada momen yang lain mengkonsumsi daging lainnya.

Pengelompokkan Vegetarian yang lazim dikenal di masyarakat ada 3, yaitu :
1.    Pesco/pollo Vegetarian (semi-vegetarian) adalah kelompok yang masih mengkonsumsi produk daging tertentu misalnya daging ayam dan ikan tapi meninggalkan kelompok daging merah.
2.    Lacto-ovo Vegetarian adalah kelompok yang masih mengkonsumsi telur dan produk susu dan menghindari segala jenis daging termasuk ikan. Penyebutan kelompok yang mengkonsumsi susu tapi tidak mengkonsumsi telur disebut lacto-vegetarian, sedangkan yang mengkonsumsi telur tapi tidak mengkonsumsi susu disebut ovo-vegetarian.
3.    Vegan adalah Vegetarian murni yang hanya mengkonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Kelompok ini sama sekali tidak mengkonsumsi produk hewani maupun turunannya, termasuk gelatin, keju, yogurt. Mereka juga menghindari madu, royal-jeli dan produk turunan serangga. Bahkan sebagian penganut vegan menghindari penggunaan produk hewani seperti kulit hewan ataupun kosmetik yang mengandung produk hewani.

III.    Fisiologis Tubuh Manusia
Ada beberapa data pendukung manusia lebih cenderung Vegetarian, yaitu :
1)    Mulut. Mulut manusia terbuka kecil, sedangkan binatang pemakan daging seperti anjing mempunyai mulut yang terbuka lebar sehingga segumpal besar daging bisa masuk ke dalam mulut.
2)    Susunan Gigi. Manusia mempunyai gigi Seri yang memotong tajam dengan gigi geraham yang datar atau rata digunakan untuk melumatkan dan mengunyah makanan sama seperti hewan herbivora (pemakan tanaman). Sedangkan pemakan daging (karnivora) mempunyai gigi taring yang panjang, kuat dan tajam untuk merebut dan merobek-robek daging. Gigi taringnya tajam di sisinya sampai mendekati rahang yang digunakan untuk memotong daging.
3)    Gerakan Rahang. Gerakan rahang pemakan daging searah buka dan tutup saja. sedangkan hewan pemakan tanaman mempunyai tiga gerakan rahang yang berbeda – vertikal atau ke atas dan ke bawah ke samping, atau ke sisi-sisi dan ke depan dan ke belakang seperti manusia.
4)    Usus. Pemakan daging memiliki perut yang sederhana, usus kecil yang pendek, dan usus besar yang sangat pendek, lurus dan licin. Sedangkan pemakan tanaman mempunyai kapasitas perut yang lebih besar dengan bagian-bagiannya yang seringkali rumit, misalnya perut ternak piaraan/sapi yang berlipat-lipat ganda. Usus kecilnya sangat panjang dan usus besarnya panjang dan licin. Usus manusia tidak berbentuk seperti para pemakan daging.
5)    Jalur Keringat. Pemakan tanaman berkeringat melalui kulit sama seperti manusia, sedangkan hewan pemakan daging berkeringat melalui mulut.
6)    Ludah manusia mengandung enzim ptilin, sama seperti hewan pemakan tanaman, yang digunakan untuk mencerna tepung, tajin.
7)    Manusia meminum air dengan mengisap/menyedot seperti pemakan tanaman. Sedangkan semua hewan pemakan daging menghirup dengan lidah mereka.
8)    Garam empedu manusia seperti hewan pemakan tanaman dan bukan seperti pemakan daging

IV.    Lima Alasan Orang menjadi Vegetarian
IV.1.     Alasan Agama
Ada beberapa agama di dunia ini menganjurkan umatnya untuk menjadi seorang  Vegetarian, termasuk agama Buddha. Meskipun demikian pandangan vegetarian menjadi salah satu pembahasan menarik, panjang dan cukup alot. Terlepas dari segala macam pertimbangan yang ada. Sisi baik Vegetarian tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan dipuja oleh para bijak. Maka sepatutnya latihan ini perlu dikembangkan.
Buddha merupakan guru para dewa dan manusia, memiliki cinta kasih tanpa batas. Artinya pancaran cinta kasih tidak hanya untuk manusia saja, tetapi semua makhluk tanpa batas, termasuk pada hewan. Kita dapat melihat hal tersebut dalam Anguttara Nikaya II : 72, yang berbunyi :
“Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki dua pun Aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyak pun Aku memiliki cinta kasih.”

Lebih lanjut di kitab Jataka 37, berbunyi :
“Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan di sekelilingnya, tak terbatas di mana pun.”  
Ada beberapa pendapat menyatakan bahwa Buddha tidak menaruh perhatian pada vegetarian. Mereka mengutip pada 5 permohonan Dewadatta agar dijadikan sebagai Vinaya (aturan kebhikhuan), yaitu  : Bhikkhu hidup dari dana yang diterima dan tidak boleh memakan ikan atau daging (vegetarian), bhikkhu selamanya harus hidup di hutan; mengenakan jubah dari bekas sampah dan kuburan; dan hidup di kaki pohon. Buddha menanggapi permohonan tersebut bahwa bhikkhu yang menyenangi boleh melakukannya. Beliau tidak secara tegas menyatakan menolak atau menerima hal tersebut sebagai suatu keharusan. Ajaran Buddha bukanlah suatu ajaran yang ekstrim. Penyataan tersebut tidak dapat diartikan bahwa praktek vegetarian adalah hal yang perlu diabaikan.

Selain itu, persembahan dana makanan terakhir yang dipersembahkan oleh Cunda, si pandai besi, adalah makanan istimewa yang bernama sukaramaddava yang berarti ‘kaki babi’, sehingga disimpulkan bahwa Buddha Gautama memakan kaki babi yang empuk. Padahal kita tahu juga banyak sekali nama makanan ataupun tumbuhan yang menyerupai nama binatang karena ciri-cirinya, seperti jambu monyet, lidah buaya, kumis kucing, jamur kuping, daun kaki kuda, rumput lidah lembu, longgan (mata naga)dan sebagainya. Literatur yang ada memperlihatkan bahwa sukaramaddava adalah sejenis jamur yang empuk dan sangat sulit ditemukan karena tumbuhnya tersembunyi di hutan belantara, dan diketahui babi hutan sangat menyenangi jamur tersebut dimana biasanya dengan gampang dapat ditemukannya dengan cara dikais keluar menggunakan kakinya, sehingga dinamakan ‘jamur kaki babi’.

Walaupun demikian kita perlu pula melihat situasi dan kondisi yang terjadi, berpikir secara jernih dan terbuka. Tidak mengkondisikan orang lain melakukan pembunuhan baik langsung atau tidak demi kelangsungan hidup. Bukan hidup untuk makan. Sekalipun Buddha mengkonsumsi daging dalam menjalani hidup pertapaan yang sangat tergantung pada umat dan tidak dapat menolak apa yang diberikan sepanjang tidak melanggar vinaya. Namun bagi para perumah tangga situasinya akan berbeda kita bebas menentukan pilihan sesuai dengan kekuatan finansial dan selera makan. Apalagi pada saat makan di tempat restaurant sea food yang jelas menawarkan makanan unsur hewani. Kita berada dalam kondisi menentukan hidup atau matinya hewan yang ada tersebut.

Meskipun pola kehidupan bhikkhu maupun bhikkhuni dalam mengumpulkan makanan dari umat dimana agak sukar menghindari persembahan makanan dari unsur hewani. Dalam Vinaya Pitaka, Mahavagga VI 31 : 2, Buddha dengan bijaksana, bersabda : “Para Bhikkhu, saya mengijinkan kamu untuk memakan ikan dan daging yang murni dalam tiga hal yaitu : jika mereka tidak terlihat, terdengar atau dicurigai telah dibunuh. “
Bahkan lebih lanjut pada Vinaya Pitaka, Buddha menekankan pada Bhikkhu ada 4 jenis daging dengan jelas dianjurkan untuk tidak dimakan, yaitu :
1.    Daging manusia
2.    Daging Gajah dan Kuda
3.    Daging Anjing
4.    Daging ular singa, harimau, macan kumbang, beruang dan hyena
Komentar Ajahn Bramavamso dalam buku, “What the Buddha said about eating meat, Beliau berpendapat bahwa : Daging manusia, sudah sepantasnya bahwa manusia tidak memakan daging manusia ; Daging Gajah dan Kuda , dianggap sebagai binatang kerajaan ; Daging Anjing dianggap menjijikan ; sedangkan daging ular singa, harimau, macan tutul, beruang dan hyena karena akan mengundang pembalasan binatang dari spesies yang sama.

Sementara itu, apa akibatnya bila seorang umat Buddha membunuh binatang dan dipersembahkan kepada para Bhikkhu?” Buddha menyatakan bahwa perbuatan demikian dikategorikan sebagai perbuatan buruk yang menimbun kamma buruk.

Uraian lebih lanjut dapat dilihat di Jivaka sutta :
“Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup untuk Tathagata atau murid Tathagata adalah menimbun banyak kamma buruk (apunna) dalam lima cara yaitu dalam hal ini, ketika ia berkata:
“Pergi dan tangkap seekor binatang’, inilah cara pertama ia menimbun banyak kamma buruk.
Selanjutnya, sementara binatang itu ditangkap, binatang ini menderita kesakitan dan tekanan batin sebab kerongkongannya terasa sakit, inilah cara kedua menimbun kamma buruk.
Begitu pula ketika ia berkata: ‘Pergi dan bunuh binatang itu’, inilah cara ketika ia menimbun banyak kamma buruk.

Sementara binatang itu dibunuh, binatang itu mengalami kesakitan dan penderitaan, inilah cara keempat ia menimbun banyak kamma buruk.
Demikian pula, bilamana ia memberi kepada Tathagata atau muridnya sesuatu yang tidak pantas diberikan, inilah cara kelima ia menimbun kamma buruk.
Jivaka, ia yang membunuh makhluk hidup (binatang) untuk Tathagata atau muridnya adalah menimbun kamma buruk dalam lima cara ini.”

Apabila ditelaah dengan bijaksana maka kita dapat melihat bahwa sebaiknya umat yang baik dalam melakukan persembahan makanan pada sangha adalah makanan nabati/ vegetarian. Hal ini sangat baik bagi dirinya dan dalam menghimpun karma baik. Persembahan tersebut tentunya dengan nutrisi yang baik. Bagaimana pun Bhikkhu juga manusia memerlukan nutrisi yang cukup dan makanan yang layak dalam menempuh hidup suci.

Ada suatu kisah inspiratif mengenai kehidupan 30 orang yang gemar melakukan perbuatan baik semasa hidupnya. Pemimpinnya bernama Magha dan memiliki 4 orang isteri. Isteri-isterinya selalu mendukung perbuatan kebajikan suaminya tersebut. Bahkan 3 isteri pun tidak tinggal diam ikut melakukan perbuatan baik sementara 1 isterinya tidak cakap dalam kebajikan. Atas perbuatan baiknya tersebut 33 orang tersebut terlahir di alam dewa yang dikenal dengan alam 33 dewa. Pemimpinnya terlahir sebagai Sakka, pemimpin para dewa. Begitu pun dengan 3 isterinya menjadi pendamping dewa tersebut. Namun dewa ini merasa ada yang kurang atau tidak lengkap. Setelah diselidiki ternyata salah seorang isterinya tidak terlahir di sana. Dengan segala kemampuannya, akhirnya Sakka menemukan bahwa isterinya tersebut terlahir sebagai seekor burung bangau. Namun dia tidak memiliki daya menjadikan sebagai dewi.

Dengan berbagai upaya beliau menceritakan kepada burung  tersebut mengenai asal-usul kehidupan lampau dan mengajarkan perbuatan baik dengan menjalankan aturan 5 sila. Salah satunya adalah menghindari perbuatan pembunuhan. Padahal burung ini hidup dengan memakan ikan. Namun burung ini tetap memperhatikan nasehat Sakka, ia dengan kesungguhan menjalankan latihan menghindari makanan yang sengaja dari pembunuhan. Ia tidak mengkonsumsi ikan yang masih hidup atau langsung ditangkap. Tetapi ia mengelilingi sekitar pantai dan mencari ikan yang kurang beruntung terbawa ombak ke daratan dan mati. Ia memastikan ikan yang dijumpainya betul-betul mati. Kalau masih hidup ia tidak akan menjadikan santapan. Akibat perbuatan ini ia terlahir sebagai manusia dan Sakka terus berupaya mengajarkan dharma sehingga tumpukan kebajikan meningkat dan dia pun terlahir di alam 33 dewa dan menemani Sakka.
Salah satu pemikiran menarik lainnya dari guru besar di Tibet, yaitu : Jamgon Khungtrul Rinpoche. Beliau berkata, “Jangan dengan sengaja mengambil kehidupan (membunuh) makhluk hidup apapun, walaupun itu adalah seekor semut; karena untuk hal yang menyangkut kehidupan, tidak ada istilah ‘besar’ atau ‘kecil’.”
Sehingga sering para bhikkhu Tibet dalam membangun rumah ataupun mencangkul tanah, terlihat lebih banyak menyita waktu untuk memindahkan terlebih dahulu cacing-cacing ke tempat yang aman sebelum melakukan pekerjaannya tersebut. Sekalipun hal ini dikatakan tidak efisiensi waktu. Namun itulah kenyakinan yang dimiliki oleh mereka.