Sekitar 90 persen penderita gagal ginjal di Indonesia belum tertangani dengan baik. Budaya asuransi di negara ini masih rendah. Padahal, biaya pengobatan gagal ginjal sangat besar dan harus dilakukan seumur hidup. Akibatnya, karena alasan biaya, banyak penderita gagal ginjal tidak menjalani pengobatan sebagaimana mestinya. Faktor lain, tidak banyak perusahaan asuransi yang bersedia menanggung pengobatan penderita gagal ginjal.

Dalam talkshow Hidup Produktif dengan Ginjal Sehat di radio JJFM, Kamis (27/9), dr Djoko Santoso SpPD K-GH PhD menjelaskan bahwa gagal ginjal dapat terjadi secara mendadak akibat pendarahan liver, luka bakar, dan kolera. Sedangkan gagal ginjal kronik timbul akibat, antara lain, kebiasaan minum obat pereda nyeri, mengidap diabetes, darah tinggi, dan penyakit seperti lupus. Gagal ginjal kronik terbagi dalam lima tahap. Pada tahap kelima, kemampuan ginjal menyaring darah tinggal 15 persen dan harus digantikan ginjal buatan.

“Umumnya ginjal buatan disebut cuci darah. Bila penderita tidak melakukan cangkok ginjal, cuci darah harus dilakukan seumur hidup. Minimal dua kali seminggu dengan durasi 4-5 jam setiap kali cuci darah,” ujar dr Djoko.

Cuci darah dibedakan menjadi cuci darah mesin dan cuci darah mandiri. Cuci darah dengan mesin harus dilakukan di rumah sakit. Sedangkan cuci darah mandiri dilakukan sendiri oleh penderita. Sebelumnya, di perut penderita dibuat sebuah lubang dan dipasangkan selang halus untuk jalan keluar-masuk cairan pembersih.

Biaya sekali cuci darah di Indonesia Rp 700-900 ribu. Sedangkan di luar negeri lebih mahal. Di Singapura, misalnya, Rp 1,75 juta sedangkan di Tokyo malahan mencapai Rp 3,5 juta. Biaya tersebut belum termasuk tindakan tambahan seperti transfusi darah. (lee)