Obesitas atau kegemukan merupakan salah satu faktor risiko penyebab penyakit ginjal kronik. Timbunan lemak karena kegemukan dapat mengganggu lapisan pembuluh darah. Berarti pula, berpotensi mengganggu ginjal yang notabene merupakan gelung darah.

“Akibatnya kualitas darah juga terganggu. Agar tidak semakin parah, seseorang yang gemuk harus menciptakan keseimbangan tubuh. Sebaiknya gunakan cara nonfarmakologi,” kata dr Djoko Santoso SpPD K-GH PhD dalam talkshow Hidup Produktif dengan Ginjal Sehat di radio JJFM, Kamis (18/10).

Yang dimaksud dengan nonfarmakologi, lanjutnya, berarti tidak menggunakan obat-obatan sama sekali. Pada tahap awal seseorang yang kegemukan dapat berupaya menurunkan berat badannya sepuluh persen. Caranya dengan berolahraga dan mengubah gaya hidup. Misalnya, mengurangi makanan yang manis maupun asin dan meningkatkan konsumsi makanan kaya serat. Hentikan pula aktivitas merokok dan kebiasaan buruk lainnya.

Satu hal yang perlu diingat, ujar dr Djoko, “Menurunkan berat badan harus bertahap. Mengurangi berat sepuluh kg memerlukan waktu sampai setahun. Penurunan berat badan secara drastis justru berdampak buruk terhadap kesehatan.” Diakuinya, menurunkan berat badan bukan hal mudah. Diperlukan tekad dan upaya kuat.

Kapan seseorang dikategorikan gemuk? Ada beragam cara untuk menentukannya. Misalnya, dengan memperhatikan berat badan relatif dan indeks massa tubuh (body mass index). Cara paling sederhana adalah mengukur lingkar perut. Untuk ukuran Indonesia, batas atas lingkar perut laki-laki 90 cm dan wanita 80 cm. Bila lingkar perut Anda lebih dari itu, berarti Anda termasuk gemuk. (lee)