Meminum dua liter air putih setiap hari merupakan salah satu cara untuk menjaga kesehatan ginjal. Namun, bila air yang dikonsumsi mengandung zat-zat tertentu, bukan mustahil kesehatan justru terganggu.
“Zat yang terkandung di dalam air berbeda-beda, bergantung sumbernya. Umumnya air yang kita minum berasal dari sumur, PDAM, dan air minum dalam kemasan,” kata dr Djoko Santoso SpPD K-GH PhD dalam talkshow Hidup Produktif dengan Ginjal Sehat di radio JJFM, Kamis (15/11).

Air sumur, lanjutnya, mengandung kalium dan magnesium yang tidak baik untuk kesehatan ginjal. Bila penderita penyakit ginjal kronik mengonsumsinya, bukan mustahil terjadi mual-mual, nyeri di sekujur tubuh, dan muntah hebat.

Sedangkan air PDAM yang paling banyak digunakan masyarakat memiliki kandungan alumunium yang sangat tinggi. Padahal, proses pengeluaran alumunium sangat bergantung pada ginjal. Bila fungsi ginjal terganggu akan terjadi penumpukan aluminium yang membebani kerja ginjal. Tidak hanya itu. Endapan alumunium akan menutup pori-pori yang akhirnya bakal menghancurkan darah.

Dengan kondisi seperti itu, mengonsumsi air minum dalam kemasan sementara ini adalah pilihan terbaik. Sebab, kandungan air minum dalam kemasan tak terkontaminasi. “Ambillah air dari sumber yang tak tercemar,” tandas dr Djoko.

Dijelaskannya, air sangat penting bagi kesehatan manusia. Selain berfungsi untuk metabolisme, air merupakan penunjang lubrikasi. Air juga menjadi pengantar nutrisi yang mendistribusikan zat-zat gizi dari makanan ke seluruh tubuh melalui darah Sekitar 60 persen berat tubuh manusia terdiri atas air. Tetapi, jangan salah. Walaupun penting bagi kesehatan ginjal, meminum terlalu banyak air akan membuat ginjal bekerja terlalu keras. Bukan mustahil akan terjadi paru-paru “tenggelam”. (lee)