A. PENDAHULUAN
Paticca Samupada merupakan salah satu hukum yang sangat penting dalam membahas mengenai hukum kebenaran dalam agama Buddha. Ajaran yang terkandung dalam hukum ini sangat dalam. Agar dapat dipahami dengan benar kita perlu untuk mempersiapkan diri dengan pelatihan meditasi.

Hukum ini tidak menjelaskan mengenai asal mula alam semesta. Tetapi dalam hukum ini kita dapat mempelajari mengenai hukum sebab musabab yang saling bergantungan, empat kesunyataan mulia dengan jalan Beruas Delapan.

 

Untuk mempermudah pemahaman menganai hukum ini. Kita akan melihat dari gambar Roda Samsara atau roda kehidupan. Lukisan gambar ini bermula dari kisah dua kerajaan yang satu sama lain memiliki hasil kekayaan alam yang berbeda. Raja Bimbisara terkenal dengan hasil alam berupa tekstil sedangkan Raja Udrayana terkenal dengan kekayaan batu mulia, berupa emas, berlian dan permata.

Suatu hari Raja Bimbisara menerima hadiah dari Raja Udrayana berupa pakaian perang bertahta emas dan permata. Apabila batu mulia tersebut ditaksir harganya, maka akan sulit untuk mencari benda yang seimbang dengan harga dan bagusnya hadiah tersebut. Hal ini pun dialami oleh Raja Bimbisara. Saat Beliau membuka hadiahnya, raja sangat terpesona dan terkejut. Mengapa ?” Karena benda yang diberikannya merupakan benda yang sangat bernilai. Sementara itu hadiah yang diberikan tentu perlu untuk dibalas dengan hadiah yang lebih tinggi minimal setara dengan apa yang dia terima.

Raja pun memanggil para penasehat untuk diajak bicara mengenai hadiah apa yang akan diberikan kepada raja Udrayana. Para penasehat yang hadir mengalami kesulitan. Akhirnya salah seorang dari mereka mengusulkan untuk bertanya kepada Buddha permasalahan yang terjadi dan apa hadiah yang paling bermanfaat untuk diberikan ?”

Pada saat Raja Bimbisara menghadap dan menjelaskan kepada Buddha, Buddha yang maha cinta kasih dan kasih sayang memberikan petunjuk untuk diluangkan dalam lukisan yang kita kenal sebagai RODA SAMSARA.

Gambar dari Roda samsara tampak mengerikan. Tetapi, janganlah kita terjebak dari penampilan luarnya. Apabila kita mampu mempelajari dengan teliti. Gambar ini memuat ajaran yang sangat berharga dan dapat mendorong kita memiliki jalan Dharma. Memotivasi kita untuk selalu berusaha merealisasikan kebenaran menuju Pencerahan.

B. PENJELASAN
Gambar yang tersaji tersebut terdiri dari beberapa bagian dan lingkaran, yaitu :
1.    Lingkaran dalam yang tampak dalam lukisan ada tiga ekor jenis hewan
2.    lingkaran diluarnya. Ada sebaian hitam dan ada sebagian putih
3.    Lingkaran ketiga tampak ada lima belahan alam
4.    Lingkaran keempat terdapat 12 (dua belas) mata rantai yang saling berhubungan.

Ad. 1
Lingkaran Dalam yang tampak ada tiga ekor hewan. Hewan-hewan tersebut memiliki arti yang sangat dalam. Hewan tersebut terdiri dari babi, burung petengger dan ular.

Tentu kita semua telah mengetahui 3 (tiga) jenis hewan tersebut. Lukisan babi melambangkan kebodohan. Apabila kita cermati babi hidupnya hanya diisi makan siang dan malam. Lukisan burung melambangkan keserakahan. Seperti burung yang tidak pernah menyerah untuk selalu menguasai kelompoknya dan tidak mau berbagi dengan kelompok lainnya. Pada saat ada kelompok lain yang masuk ia akan mengusirnya jauh-jauh. Sementara gambar ular melambangkan sifat kebencian, seperti ualr yang setiap saat mendesis.

 

Ad. 2
Lukisan setengah lingkaran hitam dan dan setengah lingkaran putih melambangkan alam kehidupan yang akan dituju oleh makhluk-makhluk tersebut.

Lingkaran putih menunjukkan kelahiran yang akan akan datang di alam bahagia, seperti Surga.

Sementara ½ (setengah) gambar lingkaran hitam melambangkan kelahiran di alam rendah dan penderitaan.

Alam-alam tersebut, yaitu alam Neraka yang selalu mengalami penderitaan dari karma yang diperbuat pada masa menjalani hidup terserbut. Alam setan adalah makhluk yang sangat menderita makanan dan minuman.

 

 

 

Ad. 3
Dalam lingkaran tersebut kita dapat melihat ada 5 (lima) belahan. Masing-masing belahan menunjukan alam kehidupan, yang terdiri atas : alam neraka, alam setan, alam hewan, alam manusia dan alam dewa.
 
Alam Neraka
Makhluk-makhluk yang menghuni di alam ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Kondisi panas dan dingin yang menusuk. Membuat makhluk-makhluk yang menghuni mengalami penderitaan. Kondisi yang begitu menderita, mereka tidak mampu untuk menahannya. Sehingga mereka berteriak, menangis tiada henti-hentinya. Semua kondisi serba menderita.

Alam Setan
Makhluk yang menghuni di alam tersebut mengalami kelaparan dan kehausan yang luar biasa. Ukuran perut yang demikian besar, sementara mulut sebesar jarum. Membuat mereka sangat menderita. Makanan dan minuman tidak kunjung tiba. Bukan hanya satu, dua hari tetapi dapat bertahun-tahun. Mereka betul-betul menderita. Sementara apabila ada makanan ada, saat mereka akan memakannya. Makanan ini berubah menjadi bara. Begitu pun dengan minuman, pada saat sampai di mulutnya. Minuman ini berubah menjadi mendidih. Mereka menjerit-jerit atas hal tersebut.

Alam Hewan
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam hewan. Mereka memiliki kebodohan dan rasa takut yang luar biasa. Meskipun ada beberapa hewan yang dapat dilatih, tetapi mereka tidak dapat mengembangkan pikirannya. Setiap saat hewan mengalami rasa takut dan gelisah. Takut dibunuh, disakiti oleh makhluk-makhluk lain. Karena setiap saat hidupnya terancam.

Alam manusia
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam manusia mengalami penderitaan dan kebahagiaan. Dalam alam manusia memungkinkan orang mencapai pencerahan. Karena kondisi mendukung untuk latihan pengembangan diri. Kelahiran di alam manusia merupakan suatu berkah yang sangat berharga. Namun kita jarang menyadari kesempatan kehidupan kita sangat langka. Sehingga ada orang yang menyia-nyiakan kehiduapan tanpa mempersiapkan pondasi karma untuk kehidupan mendatang. Sebagian masih lelap. Hidup tanpa tujuan yang pasti. Pada saat menuju kematian mereka mulai gelisah dan takut. Namun semua itu telah terlambat.    Oleh karena kelahiran di alam manusia sangatlah berharga, dharma dapat kita pelajari, pahami dan realisasi.  

Alam Dewa
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam dewa mereka hidup penuh dengan kebahagiaan. Sepanjang waktu mereka bahagia. Namun kebagiaan ini tidaklah kekal, sesuai dengan karma yang dimiliki mereka akan terlahir kembali di alam lain. Dalam alam dewa makhluk-makhluk yang menghuni di alam tersebut sangat sulit memahami Dharma. Mereka cenderung asik dengan kebahagiaan yang dialaminya. Sehingga dharma yang penuh keindahan tidak mampu untuk menyentuh batin mereka bahkan menyadari terhadap realita kehidupan. Alam dewa pun mengalami penderitaan berupa Depresi melihat keagungan dewa yang lebih baik berkahnya, dewa kuat cenderung menekan dewa lemah, bertempur dengan asura dan keinginan yang tinggi

Ad. 4
Lingkaran luar yang memiliki 12 (dua belas) mata rantai, satu sama lain saling berhubungan.

Rantai Pertama

Tampak gambar orang tua yang memegang tongkat dan mencoba untuk berjalan. Dalam melakukan aktivitasnya, orang tua ini berjalan terkadang tanpa hambatan, pada kesempatan lain jatuh menabrak batu atau lubang yang ada di sekitarnya.
Gambar ini melambangkan kegelapan batin atau kebodohan. Sikap yang tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan. “Kebodohan merupakan khayalan yang paling dalam, yang mana membuat kita berkelana selama ini di dalam Samsara”  

Kegelapan batin atau kebodohan ini tidak dapat membedakan sifat alami dari apa yang tertampak maupun tidak tertampak. Seperti orang yang membedakan antara teman dan musuh. Orang akan memperlakukan teman dengan baik. Mereka akan menyabutnya dengan terhormat, penuh kehangatan dan kegembiraan. Sementara terhadap musuh, mereka akan memperlakukan berbeda sekali. Mulai dari sikap bicara, cara tatapan maupun perlakuan kepada musuh tersebut. Pada saat ada pertanyaan pada kita, ” Apakah kita memiliki teman ?” Apakah kita memiliki musuh ?” Orang-orang akan menjawab dengan spontan, ”Ya. Tetapi pada saat pertanyaan lain timbul. Apakah orang yang kita anggap sebagai teman akan menjadi teman sejati selamanya ? Begitu pula dengan orang yang kita anggap sebagai musuh, apakah suatu hari dia dapat menjadi teman ?”

Saat pertanyaan tersebut diutarakan, kita mulai ragu terhadap kata teman dan musuh. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ?” Karena cara pandang kita masih diliputi oleh kegelapan batin yang masih tidak dapat membedakan sifat alami benda.

Kita belum dapat memahami bahwa setiap orang memiliki benih-benih kebuddhaan. Setiap orang memiliki kesempatan menjadi orang suci. Ketika orang tersebut melakukan perbuatan negatif. Mereka masih belum dapat membangkitkan kebuddhaan yang ada dalam dirinya. Sehingga mereka melakukan perbuatan negatif tersebut. Benih kebuddhaan setiap makhluk adalah sama. Perbedaan terletak pada latihan dan kesungguhan/ tekad mengembangkan sifat tersebut.

Kalau kita telah dapat memahaminya tentu kita tidak terjebak kepada konsep dualisme berpikir. Seperti baik – buruk, kaya – miskin, terhormat – tersisih atau ganteng/cantik –jelek. Kita akan melihat segala yang tertampak apa adanya tanpa ada yang ditutupi. Inilah sifat dasar alami makhluk. Karena tidak mengerti sifat tersebut maka timbulah beraneka raga perbuatan yang tercakup dalam rantai kedua.

Rantai Kedua

Tampak ada seorang Bapak yang sedang membuat pot dari tanah liat. Pot buatannya beraneka ragam bentuknya. Pot-pot tersebut ada yang bagus – ada pula yang jelek. Ukurannya ada yang besar – ada pula yang kecil. Ada yang masih dalam proses – ada yang sudah siap dipindahkan.

Gambar ini menjelaskan karena ketidaktahuan/ kegelapan batin. Orang banyak melakukan beraneka ragam perbuatan. Ada perbuatan baik, ada pula perbuatan jahat. Perbuatan baik ada, banyak memberikan faedah – ada pula yang tidak. Perbuatan baik ada yang nilainya besar – ada yang biasa-biasa saja. Tetapi semua itu terus kita lakukan.

Pada saat kita tidak memahami kebenaran. Pada saat tersebut kita tidak ragu-ragu melakukan perbuatan jahat. Membawa kerugian bahkan membahayakan kehidupan makhluk yang ada di sekitar maupun dimana mereka berada.

Perbuatan yang dilakukan tersebut memiliki potensi untuk berbuah. Karena demikian besar perbuatan tersebut, maka menjadi potensi untuk terlahir kembali. Dengan demikian maka timbullah kesadaran menyambung.