Kami berlindung pada Buddha, Kami berlindung pada Dharma, Kami berlindung pada Sangha

A.    BUDDHA
Demikianlah sesungguhnya Bhagava, Yang Maha Suci, yang telah mencapai penerangan sempurna. Yang Sempurna dalam Pengetahuan dan tindak tanduknya. Yang Berbahagia, pengenal semua alam. Pembimbing umat manusia yang tiada taranya. Guru para dewa dan manusia. Seorang Buddha Junjungan Yang Mulia.
Buddha merupakan sebutan kepada mereka yang telah mencapai pencerahan. Buddha tidak didominasi oleh orang tertentu, tetapi merupakan hasil pencapaian. Semua orang memiliki benih-benih keBuddhaan dan memiliki kesempatan untuk menjadi seorang Buddha. Apakah keinginan tersebut benar-benar diwujudkan atau hanya sekedar impian atau harapan yang tak terealisasi  ?

Buddha adalah Guru para dewa dan manusia.  Kata lain untuk mengungkapkan hal ini adalah guru langit dan bumi. Langit mewakili alam dewa sedangkan bumi mewakili alam manusia dan semua mahluk yang ada di dalamnya.

Kita perlu memahami bahwa Buddha memiliki sifat maha tahu tetapi tidak maha kuasa. Karena Buddha dengan kemampuannya kalau Beliau kehendaki Beliau dapat melihat apa yang dialami oleh semua makhluk, pembentukan alam semesta sampai kehancuran. Namun Buddha tidak Maha Kuasa karena Beliau tidak dapat mengubah karma seseorang. Buddha hanya sebagai Guru pembimbing dan penunjuk Jalan bagi semua makhluk agar terlepas dari penderitaan.

Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Sehingga tidaklah tepat orang mengharapkan Buddha berkenan mengubah penderitaan atau problema hidup ini. Setiap orang harus berusaha menolong dirinya sendiri. Buddha hanyalah penunjuk jalan untuk mencapai Pantai Seberang. Apakah jalan tersebut akan kita ikuti atau tidak pilihannya tergantung pada kita sendiri.

Dalam Sutra disebutkan Jalan yang telah diketemukan tersebut tidak ada bandingannya. Apabila orang dapat menjalankannya dengan baik dan penuh perhatian maka akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan ini dapat dicapai dalam kehidupan ini juga tanpa harus menunggu kehidupan mendatang.

Dalam hal ini dapat kita pahami bahwa kebahagiaan atau penderitaan tergantung pilihan kita sendiri. Kitalah yang menentukan sendiri. Bukan orang lain, bukan dewa, bukan makhluk halus bahkan bukan Buddha sekali pun. Semua adalah tergantung diri sendiri.
Mengapa Buddha dijadikan sebagai tempat perlindungan, yaitu :
•    Buddha telah bebas dari segala ketakutan,
•    Buddha sangat mahir menunjukan jalan pembebasan,
•    Buddha memiliki belas kasih kepada semua makhluk tanpa diskriminasi dan
•    Buddha memberikan manfaat kepada semua makhluk apakah mereka harapkan atau tidak

Pada suatu kesempatan, Sariputra memberi kesaksian bagaimana seseorang dapat memiliki keyakinan yang sempurna kepada Tathagata dan tidak meragukan ajarannya. Keyakinan diuji dengan mengendalikan indera. Dengan keyakinan ini, semangat, kesadaran, konsentrasi dan kebijaksanaan berkembang terus-menerus.

“Sebelum aku hanya mendengar hal-hal ini, sekarang aku hidup dengan mengalaminya sendiri. Kini dengan pengetahuan yang dalam, aku menembusnya dan membuktikannya dengan jelas. (Samyutta Nikaya V : 226)

B.    DHARMA
Dharma telah sempurna dibabarkan Bhagava. Tertampak, tanpa selang waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin dapat diselami orang Bijaksana dalam batinnya sendiri.

Dharma adalah ajaran yang disampaikan oleh Buddha. Kebenaran yang tidak lapuk oleh ruang dan waktu. Mengundang siapa saja untuk melihat dan menyelami sendiri dan merasakan betapa indahnya ajaran Buddha. Indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya.

Dharma dapat diibaratkan sebagai rakit yang dapat membawa orang menyeberangi sungai. Apabila orang tersebut telah sampai diseberang dengan sendirinya rakit tersebut akan ditinggalkan.

Ada sebuah kisah yang menarik tentang dua orang berteman. Suatu hari mereka mendatangi di suatu desa yang baru ditinggalkan oleh para penghuninya. Mereka menemukan setumpuk tali ramin yang ditinggalkan di jalan. Dua orang ini dengan giat mengikat dan membawanya.

Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di desa lain dan menemukan kain ramin. ”Demi kain ramin ini kita mengumpulkan tali ramin. Buang saja tali ramin. Mari kita bawa kain ramin ini.” Tetapi temannya berkata, ”Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang perjalanan. Lagi pula tali rami ini telah terikat rapi. Saya akan tetap membawa tali ramin. Lakukan saja sendiri.”

Temannya membuang tali ramin dan membawa kain ramin. Tidak lama dalam  perjalanan mereka menemukan benang linen, kain linen, kapas, benang katun, kain katun, besi, tembaga, kaleng, timah dan perak. Setiap kali menemukan benda berharga, temannya dengan senang hati selalu menukar dengan benda yang dibawanya. Sementara temannya yang lain tetap mempertahankan pendiriannya tidak mau menukar sama sekali dengan benda lainnya. Meskipun nilai barang yang akan ditukarkan jauh lebih tinggi nilainya.

Tidak lama mereka sampai di desa lain. Di sana mereka menemukan emas. Orang pertama berseru kepada temannya, ”Emas ini adalah yang kita inginkan dari segalanya. Buanglah tali raminmu, saya juga akan membuang perakku, lalu kita bawa emas.” Tetapi temannya berkata, ”Saya telah membawa tali ramin ini sepanjang perjalanan, lagi pula telah terikat rapi. Saya tetap akan membawanya. Bawa saja sendiri.” Temannya membuang perak dan membawa emas.

Saat sampai di rumah, temannya yang membawa tali ramin tidak membawa kebahagiaan bagi keluarganya. Sementara temannya yang membawa emas, membawa banyak kebahagiaan baik keluarganya maupun bagi dirinya sendiri.

Demikian pula dengan pengetahuan Dharma yang telah kita dimiliki. Kita tidak menjadi kaku tetapi justru dapat menjadikan Dharma ini pedoman hidup bukan sebatas pemahaman belaka.

Dharma yang begitu indah kalau tidak dilaksanakan tidak akan membawa nilai yang berharga dan bermakna bagi kita dalam mengatasi problema hidup ini. Karena pengetahuan semata tidaklah cukup kita pun perlu untuk mempraktekkan secara langsung. Meyelami dan merealisasi sendiri.

C.    SANGHA
Sangha adalah siswa Bhagava yang telah bertindak baik, lurus, berjalan di jalan yang benar dan berpenghidupan benar. Terdiri dari empat pasang makhluk suci. Patut untuk dimuliakan dan disambut dengan ramah tamah, patut menerima persembahan serta penghormatan. Inilah ladang pahala yang tiada taranya bagi dunia ini.

Sangha merupakan guru pembimbing yang tiada taranya, jujur, rendah hati, patut dipuja dan dihormati, patut diberi tempat untuk bernaung, makanan dan obat-obatan

Sangha merupakan persamuan para Bhikkhu-bhikkhuni. Sangha merupakan penerus ajaran. Para Bhikkhu dan bhikkhuni yang tekun melatih dirinya untuk merealisasi kebenaran dalam mengapai pencerahan. Sehingga sangha merupakan komunitas orang suci dan merupakan ladang untuk menanam jasa kebaikan yang tiada taranya.

Setelah kita memahami hal tersebut ada suatu pertanyaan sederhana yang sering timbul bagi umat Buddha maupun mereka yang bersimpati kepada agama Buddha, yaitu : Mengapa kita meyakini dan beragama Buddha ?” Suatu jawaban sederhana adalah karena apa yang diajarkan Buddha sesuai dengan kebenaran dan apa yang telah diajarkan tersebut dapat dibuktikan sendiri dan bermanfaat bagi diri kita. Tanpa harus menunggu setelah kita meninggal dunia. Dalam kehidupan ini pula dapat kita selami sendiri dan merasakannya.

Berkenaan dengan hal tersebut, Karena keyakinannya, Ananda pernah mengemukakan bahwa dia beruntung memiliki seorang Guru dengan kekuatan adikodrati yang suaranya menjangkau seluruh jagat raya. Udayi langsung menyindir Ananda, walau Guru memiliki kekuasaan itu, apa gunanya untuk dia. Dalam hal ini adanya keyakinan perlu dilanjutkan Praktek Dharma dalam kehidupan sehari-hari.