A. Masa Penegasan Ikrar

Dalam kelahiran sebelumnya Bodhisattva terlahir sebagai anak-anak laki-laki bernama Sumedha dari keluarga brahmin yang kaya raya. Orang tuanya meninggal dunia sebelum dia dewasa dan meninggalkan seluruh harta kekayaan untuknya. Harta tersebut diurus oleh bendaharawan. Saat usia beliau sudah menginjak dewasa semua kepengurusan dan kepemilikan atas harta tersebut diserahkan kepadanya.

Namun saat melihat harta tersebut Sumedha merenung sebagai berikut : dalam kehidupan ini orang tua dan leluhur saya telah mengumpulkan harta yang banyak sekali. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah tersebut mereka tidak membawa setelah mereka meninggal. Semua harta tersebut ditinggalkan. Meskipun harta tersebut menjadi milik saya kalau nanti saya mati harta tersebut pun akan saya tinggalkan

Oleh karena itu saat menerima harta tersebut dia pun mengumumkan kepada penduduk yang hidup di daerah tersebut untuk mengambil harta yang dia miliki. Penduduk mengambil harta tersebut dengan senang dan gembira. Kemudian Sumedha memutuskan untuk menjalani hidup sebagai pertapa.

Pada suatu hari, pertapa Sumedha melalui suatu daerah. Masyarakat di sana sedang menyiapkan kedatangan Buddha Dipankara. Mereka bahu-membahu mempersiapkan kedatangan Buddha. Saat mendengar nama Buddha, hati pertapa ini sangat gembira. Dia pun memutuskan untuk membantu masyarakat menyambut kedatangan Buddha. Masyarakat sangat senang dan menyerahkan sebagian pekerjaan kepada pertapa tersebut. Meskipun memiliki kemampuan gaib namun pertapa ini tidak menggunakannya.

Sehingga saat Buddha muncul masih ada genangan air yang belum dibersihkan. Dengan seketika Pertapa Sumedha membentangkan tubuhnya digenangan tersebut. Pada saat Buddha hendak melewati dia berikral untuk menjadi Buddha. Meskipun dia memiliki kesempatan mencapai kesucian. Namun dia tidak mengejar pencapaian tersebut. Dia ingin membantu makhluk-makhluk terbebas dari penderitaan. Buddha dengan kekuatan batinnya melihat pertapa ini memiliki kesempatan untuk menjadi Buddha dia kehidupannya mendatang.

 

A.     MASA TUNGGU DI ALAM TUSITA

Setelah bodhisattva telah menyempurnakan kebajikan baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan. Dia terlahir di Surga Tusita yang merupakan alam terakhir sebelum terlahir sebagai manusia untuk mencapai pencerahan.

            Beliau berdiam di alam tersebut menunggu waktu yang tepat untuk terlahir sebagai manusia dan merealisasi kebenaran dan menacapai kesucian. Adapun 7 (tujuh) hal yang di selidiki oleh seorang Bodhisattva, yaitu :

  1. Alam kehidupan
  2. Usia alam manusia
  3. Apakah Dharma masih ada
  4. orang tua
  5. kedudukan sosial calon orang tua

 

B.     MASA KELAHIRAN

Pada bulan Purnama tahun 623 SM, di taman Lumbini lahirlah seorang Pangeran. Ayahnya adalah seorang raja bernama Suddhodana dan ibunya Maha Maya. Suatu KEAJAIBAN yang luar biasa boddhisatva berjalan dan berhenti pada langkah ketujuh, mengangkat tangan kanan di atas kepalanya dan dengan lantang dia berseru :

Akulah yang terluhur di dunia ini !

Akulah yang teragung di dunia ini !

Akulah yang termulia di dunia ini !

Inilah kelahiranku  yang terakhir

Tak ada lagi kelahiran kembali bagi Ku

Anak ini diberi nama Sidharta yang berarti ’Tercapailah Cita-cita.’ Nama tersebut diberikan karena pasangan ini telah lama mengharapkan kehadiran putra mahkota.

            Kelahiran pangeran ini mengundang perhatian dari pertapa Asitha. Pada saat dia berada di gunung dia melihat adanya bintang timur yang menandakan kelahiran manusia luar biasa. Ketika dia melihat pangeran. Ternyata apa yang dilihatnya itu tidaklah salah. Pangeran memiliki 32 (tiga puluh dua) tanda mayor yang menunjukkan manusia luar biasa. Orang yang memiliki tanda tersebut dalam hidupnya hanya ada 2 (dua) kemungkinan hidup yang akan dijalani, yaitu : menjadi seorang raja yang menguasai alam semesta dengan 7 (tujuh) mestika berupa mestika permaisuri, penasehat, bendahara, cakra, gajah, kuda terbang dan ………. Sedangkan apabila dia menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa dia akan menjadi seorang Buddha, guru para dewa dan manusia.

            Selain 32 (tiga puluh dua) tanda tersebut. Pangeran pun memiliki 80 (delapan puluh) tanda tambahan yang mempertegas manusia luar biasa. Tanda-tanda tersebut beliau miliki merupakan hasil dari penyempurnaan perbuatan dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. Setiap tanda menunjukkan kesempurnaan perbuatan yang telah dilakukan.

            Pada usia 6 tahun pangeran mendapat pendidikan, sastra maupun keterampilan sebagaimana yang dialami para pangeran lainnya. Seperti memanah, menunggang kuda dan keahlian berpedang. Ada hal yang menarik yaitu pada perayaan bajak sawah. Saat para pengawal sibuk dengan acara perayaan. Pangeran duduk bermeditasi. Namun suatu keajaiban sinar matahari yang mengarah ke pangeran Siddharta tidak berpindah. Meskipun hari sudah siang hari.

            Pada usia 16 tahun pangeran menikah dengan putri Yasodhara. Selama kurang lebih 13 tahun sejak pernikahannya yang bahagia. Beliau hidup dalam kemewahan, tanpa mengetahui perubahan kehidupan yang terjadi di luar istana. Siang dan malam payung putih membentang di atasnnya sehingga Beliau tidak tersentuh oleh panas, dingin, debu, daun atau embun.

            Suatu hari beliau meminta ijin kepada ayahnya untuk melihat keadaan sekeliling istana. Ayahnya menyetujui. Namun sebelum pangeran melakukan perjalanannya. Ayahnya memerintahkan kepada penduduk bagi mereka yang sakit, tua maupun mati tidak diperkenankan dilihat oleh Pangeran.

            Sepanjang perjalanan pangeran disambut gembira oleh rakyat. Namun pada suatu persimpang, pangeran melihat sesuatu yang membuka matanya, dia melihat orang tua, orang sakit maupun orang mati. Melihat hal tersebut, membuat hati pangeran pun sedih. Ternyata di dunia ini ada orang yang sakit, tua dan mati. Begitu pun dengan dirinya yang tidak luput dari hal tersebut. Apa arti kekayaan, maupun kebahagiaan kalau harus berpisah darinya.

            Pada saat kelahiran putranya yang diberi nama rahula. Artinya ’ Belenggu’. Karena dengan kelahiran tersebut membuat dirinya sukar untuk berpisah. Namun karena demi kebahagiaan semua makhluk, beliau tetap putuskan untuk mencari obat, bagi yang tua, sakit dan mati. Saat melihat seorang pertapa yang memiliki wajah yang berseri-seri. Dia pun memutuskan untuk menjadi seorang pertapa. Sehingga pada malam hari. Ketika para penghuni terlelap, beliau memutuskan untuk meninggalkan istana. Pada malam tersebut tepat bulan purnama.

             

C.     MASA PERJUANGAN UNTUK MENCAPAI PENCERAHAN

Pangeran meninggalkan istana bersama dengan kusirnya bernama Channa dan kuda kesayangnya bernama Kanthaka. Pada saat berada di sungai Rohini. Pangeran memotong rambutnya dan memerintahkan Channa untuk kembali ke istana. Sementara dirinya akan menjadi pertapa.

Dalam kehidupan sebagai pertapa. Beliau berguru kepada Alara Kalama yang menguasai meditasi ketenangan dan Uddhaka Ramaputra yang menguasai meditasi kekosongan tertinggi. Pertapa gotama mampu menguasai dalam waktu singkat. Karena melihat apa yang diperoleh tersebut bukan tujuan akhir. Maka Beliau pun meninggalkan gurunya dan bertapa.

Pada saat sampai di hutan uruvela dia bertapa bersama 5 (lima) orang pertapa, yaitu Asaji, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Kondanna. Selama 6 (enam) tahun beliau menjalankan pertapaan ekstrim. Sehingga membuat dirinya kurus kering. Apabila beliau menyentuh kulit perutnya ; tulang belakangnya akan tersentuh juga. Demikianlah kulit perutnya melekat pada tulang punggungnya karena kurang makan..

Pertapa Gotama menyadari apa yang dilakukannya adalah sia-sia. Maka dia memutuskan untuk menempuh jalan tengah. Saat 5 (lima) pertapa melihat apa yang dilakukan pertapa gotama, mereka menganggap pertapa Gotama telah gagal dan mereka pun meninggalkannya bertapa sendirian.

Saat berada di Sungai Rohini, pertapa Gotama pun mengucapkan tekadnya. Apabila telah waktunya, maka mangkuk yang ada di tangan ini, ia tidak akan megalir searah arus sungai tetapi akan berlawanan. Apa yang terjadi, ternyata mangkuk itu bergerak melawan aliran sungai.

 

D.    MENAKHLUKKAN PASUKAN MARA

Pada hari itu juga pertapa Gotama melanjutkan pertapaannya. Beliau berikral, ”Meskipun tulang-berulangku berserakkan , darah dan dagingku mengering. Aku tidak akan bangkit dari pertapaan sebelum dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh manusia, semangat manusia, usaha manusia.”

Mengetahui keadaan ini, Mara segera mendekatinya dengan pura-pura berniat baik dan berwelas asih. Katanya, ”O, Pangeran Mulia, sekarang Engkau sangat kurus, Engkau telah kehilangan keagungan tubuhmu, sungguh buruk tubuhmu sekarang. Kematianmu hampir tiba, hanya satu di antara seribu kemungkinanmu untuk tetap hidup. O, Pangeran Mulia, hidup adalah jalan yang lebih baik. Jika Engkau panjang umur, engkau bisa melakukan perbuatan baik. Engkau bisa menjalani kehidupan suci dan melakukan upacara pengorbanan, dan karenanya dapat memperoleh banyak jasa. Apalah gunanya latihan tapa yang berat ini ! Sesungguhnya tidak layak melalui jalan seperti ini !”

Sebagai jawaban terhadap godaan Mara, dengan lantang Bodhisattva berkata demikian : ”O si Jahat, engkau senantiasa mengikat semua makhluk dalam lingkaran samsara, serta yang selalu menghalangi semua makhluk untuk mencapai pembebasan. Engkau datang ke sini hanya untuk dirimu sendiri.”

”Tak kubutuhkan sedikit pun jasa yang menjurus pada lingkaran penderitaan. Mara, hanya mereka yang mendambakan jasa seperti inilah yang bisa engkau pancing seperti ini.”

”Teguh keyakinanku bahwa aku akan segera mencapai Nibbana. Tinggi semangatku yang mampu membakar habis kemelekatan. Tiada banding kebijaksanaanku yang bisa meluluh-lantahkan gunung karang kegelapan batin berkeping-keping. Tinggi perhatian murniku yang mampu membimbingku menjadi Buddha, bebas dari ketidak acuan. Tak tergoyangkan konsentrasiku, seperti gunung Meru yang bergeming saat badai tiba.”

”O, Mara, angin dalam tubuhku yang timbul karena usahaku yang keras mengembangkan appanaka jhana bisa mengeringkan aliran sungai Ganga, Yamuna, Acirawati, Sarabhu dan Mahi. Karena itu dengan usahaku seperti ini, mengapa angin tidak mampu mengeringkan darah yang jumlahnya sedikit dalam tubuhku ini, dengan batinku yang telah terarah ke Nibbana ?”

”Jika darahku mengering, air empedu, lendir, kencing serta zat makanan juga akan emgnering ; demikian pula dagingku akan mengering. Namun, walau darah, air empedu, lendir, kencingserta dagingku dalam tubuhku semuanya mengering seperti ini, batinku menjadi semakin jernih ; demikian pula perhatian murni, kebijaksanaan serta konsentrasiku semakin berkembang dan mantap.”

”Walau aku mengalami sakit yang teramat sangat, kendati pun seluruh tubuh ku telah mengering hingga nyaris menyemburkan api dan meskipun hasilnya aku akan menjadi teramat letih, pikiran ku tidak akan teralih oleh nafsu indarawi. O, mara tampak olehmu adalah kemurnian dan kejujuran dari manusia yang tiada bandingnya, yang telah memenuhi segenap kesempurnaan.”

”Pasukanmu yang pertama adalah nafsu indrawi. Kedua adalah kebencian terhadap hidup suci. Ketiga adalah lapar dan dahaga. Keempat adalah nafsu keinginan. Kelima adalah kemalasan dan kelesuan. Keenam adalah rasa takut. Ketujuh adalah keragu-raguan. Kedelapan adalah dendam dan keras kepala. Kesembilan adalah perolehan, ketenaran dan kehormatan. Kesepuluh adalah memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.

”Inilah pasukanmu yang dengan paksa menghalangi pembebasan manusia, dewa dan brahma dari lingkaran penderitaan. Tak seorang pun kecuali orang yang berani, yang memiliki keyakinan, tekad, semangat dan kebijaksanaan yang tinggi yang mampu untuk mengalahkannya. Kemenangan ini akan mendatangkan kebahagiaan dari Jalan Kesucian, buah kesucian serta Nibbana.”

”Kupakai rumput Munja ini sebagai perlambang bahwa aku tak akan surut. Akan memaluhka, merendahkan dan hina jika aku terpaksa mundur dari pertarungan ini dengan tetap hidup di dunia ini dan engkau kalahkan. Jauh lebih baik bagiku untuk mati di medan laga daripada menyerah pada kekuatanmu.”

”Di dunia ini ada pertapa dan brahmana yang pergi menuju medan laga memarangi kilesa, namun mereka tidak memiliki kekuatan, mereka ditakhlukkan kesepuluh pasukan itu. Mereka bagaikan orang yang tanpa cahaya yang tidak sengaja masuk dalam kegelapan. Mereka tidak mengetahui maupun menapaki jalan dari para suciwan.

 

E.     MASA KEBUDDHAAN

Dengan jalan tengah, pertapa Gotama melaksanakan meditasi, beliau mencapai tingkatan meditasi satu demi satu dan akhirnya dapat mencapai pencerahaan. Beliau pun mengucapkan kata-kata sebagai berikut :

Dengan sia-sia Aku mencari pembuat rumah ini, berlari-lari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir

Menyakitkan Tumimbal lahir yang tidak ada habis-habisnya

O, Pembuat rumah sekarang telah Aku ketahui

Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi

Semua atapmu telah kurobohkan

Semua sendi-sendimu telah ku bongkar

Batinku sekarang mencapai keadaan Nibbana

Dan berakhir sudah semua nafsu-nafsu keinginan

Setelah mencapai pencerahan selama 7 (tujuh) minggu, beliau melaksanan meditasi :

         Minggu I, Buddha duduk di bawah pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari gangguan-gangguan batiniah

         Minggu II, Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi sebagai ucapan terima kasih

         Minggu III, Buddha berjalan mundar-mandir di jembatan emas yang diciptakannya di udara untuk menghilangkan keragu-raguan para dewa

         Minggu IV, Buddha berdiam di kamar permata dan merealisasi ajaran Abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa dan metafisika

         Minggu V, Buddha berdiam di bawah pohon Ajapala Nigrodha (pohon beringin)

         Minggu VI, Buddha bermeditasi di bawah pohon Mucalinda

         Minggu VII, Buddha bermeditasi di bawah pohon Rajayatana

 

F.      MASA PEMBABARAN DHARMA

Pada saat pertapa Gotama mencapai pencerahan Beliau disebut sebagai Buddha. Muncul dalam pikiran Beliau “Apakah sekarang saatnya Saya mengajarkan Dhamma?” Kemudian pikiran ini muncul: “Saya telah menemukan Dhamma kebenaran ini, yang sangat dalam, yang sulit sekali untuk dipahami, sulit sekali dimengerti, damai, agung, bukan didasarkan pada logika, halus sekali dan hanya dapat dipahami oleh orang bijaksana.”

Sedangkan pada umumnya, orang-orang menyenangi hal-hal yang membuai mereka, menuju hal-hal itu dan puas dengan hal-hal itu, adalah sulit bagi mereka untuk memahami, mengerti bahwa ‘Ini disebabkan oleh Itu’, dan segala sesuatu terjadi berdasarkan kondisi yang saling bergantungan. Hal-hal ini pun sulit untuk dipahami, yakni untuk menenangkan semua kegiatan kehidupan, menghancurkan semua kehausan, menghentikan arus kehidupan yang berulang-ulang kali, tanpa nafsu indera, ketenangan batin dan nibbana.

Apabila sekarang ini Saya mengajarkan dhamma, dan orang-orang tidak dapat memahami apa yang Saya ajarkan, maka keadaan itu akan melelahkan dan sia-sia belaka.”

Ketika itu dewa Maha Brahma Sahampati menyadari apa yang dipikirkan oleh Buddha Gotama, kemudian muncul pikiran: “Dunia akan lenyap dan binasa, karena Buddha Gotama mengurungkan niatnya untuk mengajarkan Dhamma.”

Selanjutnya bagaikan seorang yang gagah perkasa yang merentangkan atau merapatkan kedua tangannya yang telah direntangkan, Maha Brahma lenyap dari alam Brahma, dan muncul di depan Buddha Gotama.

Setelah Maha Brahma membuka jubah pada bagian bahu kanannya, dan dengan kaki kanan yang ditekukkan serta tangan beranjali ke arah Buddha Gotama, Dia berkata: “Bhante, Semoga Bhagava mengajarkan Dhamma! Karena ada makhluk-makhluk yang mata mereka hanya dikotori debu sedikit saja, mereka akan dapat mengerti Dhamma, tetapi bila mereka tidak mendengar Dhamma, maka mereka akan meninggal tanpa memperoleh manfaat yang besar.”

Maha brahma tersebut memohon sebanyak 3 (tiga) kali. Pada permohonan ketiga tersebut. Buddha yang penuh cinta kasih dan kasih sayang menyadari permohonan Maha Brahma, dan karena kasih sayangnya kepada semua makhluk, maka Beliau melihat dunia dengan Mata-Kebuddhaan. Dengan Mata-Kebuddhaan Beliau dapat melihat makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori sedikit debu saja, dan makhluk-makhluk yang mata mereka dikotori banyak debu; ada makhluk yang inderanya peka, ada yang tidak peka; ada makhluk yang bersifat baik dan ada yang buruk; ada yang pintar dan ada yang bodoh; di antara mereka ada yang menyadari adanya bahaya-bahaya dalam kehidupan di alam-alam dan bahaya dari perbuatan salah.

Buddha memutuskan untuk membabarkan Dharma yang indah pada permulaan, Indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya, kepada gurunya pertama, yaitu Alara Kalama. Namun gurunya tersebut telah meninggal dunia. Begitu pun gurunya bernama, Uddhaka Ramaputra, gurunya ini pun telah meninggal dunia. Kemudian Buddha putuskan kepada 5 (lima) teman bertapanya. Pada saat bertemu Buddha bersabda kepadda mereka :

“Dengarkanlah, O, Pertapa. Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari kematian. Akan kuberitahukan kepadamu. Akan kuajarkan kepadamu. Kalau Engkau ingin mendengar, belajar dan melatih diri seperti apa yang kuajarkan, dalam waktu singkat Engkau pun dapat mengerti, bukan nanti di kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam kehidupan ini. Apa yang kukatakan adalah benar. Engkau dapat menyelami sendiri keadaan itu yang berada di atas hidup dan mati.

Buddha terus membabarkan Dharma dan Banyak makhluk merasakan kebahagiaan. Seperti orang haus mendapatkan air yang dapat menghilangkan dahaganya. Pada saat murid Buddha telah berjumlah 60 (enam puluh) orang, Buddha bersabda kepada murid-muridnya, sebagai berikut :

“Oh, Bhikkhu, babarkanlah Dharma demi kesejahteraan dan keselamatan banyak orang. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah dharma yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya.

Umumkan tentang kehidupan suci. Terdapat makhluk-makhluk yang matanya tertutup oleh sedikit debu. Kalau tidak mendengar Dharma mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar. Mereka adalah orang yang dapat mengerti Dharma dengan sempurna.”

 

G.    MASA MEMASUKI MAHA PARINIBBANA

Buddha Gotama membabarkan Dharma selama 45 tahun. Sebelum memasuki Maha parinibbana Buddha mengumpulkan para muridnya. Buddha memberikan kesempatan kepada murid-muridnya untuk bertanya.

            O, Bhikkhu, mungkin ada di antara kalian yang masih ragu-ragu atau bimbang terhadap Buddha, Dharma dan Sangha, terhadap Sang Jalan dan pelaksanaannya. Engkau boleh mengajukan pertanyaan !”  Jangan di kemudian hari Engkau mempunyai pikiran,” Guru, meskipun berada dan berhadapan muka Kami lalai untuk bertanya kepada Beliau.