I.    MISIONARIS AGAMA BUDDHA
Pada saat Buddha telah memiliki 60 (enam puluh) orang Biku, Buddha bersabda, “Para Bhikkhu pergilah mengembara demi kebaikan orang banyak, atas dasar kasih dan sayang terhadap dunia, untuk kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan para dewa dan manusia.”(Vinaya Pitaka I : 21)
Pembabaran Buddha Dharma tidak untuk menghimpun pengikut, atau membuat seseorang meninggalkan gurunya, melepaskan kebiasaan dan cara hidupnya, menyalahkan keyakinan atau dokrin yang dianiutnya. Beliau hanya menunjukkan bagaimana membersihkan noda, meninggalkan hal-hal yang buruk yang mengakibatkan hal-hal menyedikan di kemudian hari. (Digha Nikaya III : 56 –57)

Seorang yang dapat mempelajari dengan baik-baik, mempertahankan, membacakan dan menjelaskan sutra kepada orang lain akan memperoleh pahala kebajikan yang tak terukur, tak terbatas. (Vajracchedika– Prajnaparamita sutra 15).

II.    PLURARISME AGAMA
Negara Indonesia memiliki aneka Suku, Budaya, Bahasa dan Agama. Dalam keragaman tersebut tidak menciptakan perbedaan. Ini kenyataan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Janganlah kita mengartikan perbedaan sebagai pertentangan tetapi perbedaan adalah keindahan dan kekayaan yang luar biasa.

III.    KERUKUNAN
Kerukunan antar umat beragama sering dijadikan wacana dan diskusi diberbagai forum, pertemuan maupun seminar. Baik lingkup lokal maupun nasional. Pertanyaan yang timbul Apakah negara kita tidak rukun antar agama atau sebaliknya sehingga diperlukan pembicaraan lebih lanjut !”

Dalam sejarah perkembangan agama Buddha, terjadi perkembangan agama Buddha. Pada saat Buddha masih membabarkan Dharma, kita hanya mengenal Buddha Dharma/ Buddhayana. Setelah Buddha memasuki Maha Parinibbana terjadi perkembangan menjadi 2 (dua) pemahaman besar dengan tekad yang sangat luar biasa. Pertama yaitu Staviravada, perkembangan lebih lanjut Hinayana disebut juga Theravada. Kedua Sarvatisvada perkembangan lebih lanjut, Mahayana. Bahkan dalam Mahayana sendiri terbagi lagi menjadi beberapa, antara lain : Amithaba, Saddharmapundarika, Zen dan Tantrayana.

Perkembangan ini merupakan suatu kemajuan dan satu sama lain tidak saling bertentangan. Bahkan menambah keindahan dalam Buddha Dharma. Theravada memiliki keindahan, begitu pula dengan Mahayana. Keindahan indah dipengaruhi pula oleh budaya setempat.

Hal menarik dengan sejarah perkembangan adalah Buddha Dharma dikembangkan dengan dasar cinta kasih dan kasih sayang. Kita tidak akan melihat adanya pertumbahan darah dalam misi membabarkan ajaran Buddha.  Dharma dikembangkan dan disesuaikan dengan tradisi setempat. Sehingga masyarakat tempat ajaran Buddha berkembang mendapat manfaat lainnya. Keberadaan ajaran Buddha memang diharapkan. Selama ajaran Buddha berkembang kerukunan tetap dijaga dengan kehidupan dan budaya setempat.

Buddha menasehati muridnya dalam membabarkan Dharma disesuaikan dengan bahasa setempat. Sehingga budaya lokal tetap ada dan Dharma dengan mudah dapat dimengerti dan dipahami oleh siapapun dan dimanapun.

kita pun dapat menjumpai bukti kerukunan yang tetap terjaga sebagaiman terukir dalam piagam Asoka, bunyinya sebagai berikut :
“Janganlah kita menghormati agama kita sendiri dan mencela agama lain.
Sebaliknya agama lain pun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu.
Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita berkembang.
Selain menguntungkan agama sendiri juga agama lain.
Apabila berbuat sebaliknya kita merugikan agama sendiri dan agama lain.”

Dalam hubungan ke dalam ajaran Buddha dibabarkan sesuai dengan kemampuan para pendengarnya. Seperti cara Buddha menuntun Culapanthaka yang tak pandai menghafal berbeda dengan Ananda yang intelektual.  Begitu pula kepada Kassapa dari Uruwela yang mahir ilmu gaib dan kepada Mahakasyapa yang menerima transmisi tanpa kata-kata. Perbedaan materi yang dibabarkan adalah untuk kemajuan dan kesejahteraan para pendengarnya.

Dalam hal ini kita tidak dapat mengatakan Ajaran yang satu adalah ajaran tertinggi sementara ajaran yang lain adalah ajaran terendah. Tinggi atau rendah adalah dualisme berpikir. Pokok materi ajaran adalah memberikan kebahagiaan dan mampu menunjukkkan jalan pencerahan. Kalau pada ajaran yang dianggap sebagai tertinggi namun tidak dapat menyejukkan hati dan menuntun ke arah pencerahan, apakah kita dapat katakan sebagai ajaran tertinggi !” Begitu pun dengan ajaran yang dianggap rendah namun dapat mengarahkan orang menuju realisasi diri. Apakah tepat menyebut sebagai ajaran rendah !”

Dharma yang dibabarkan dengan berbagai cara tersebut satu sama lain berhubungan dalam menciptakan kebahagiaan hidup saat ini, kebahagiaan di kemudian hari dan pencerahan diri. Sebagai halnya dengan samudera yang mempunyai satu rasa, yaitu rasa garam. Demikian pula dengan Dharma hanya mempunyai satu rasa, yaitu Rasa Kebebasan.

Seorang yang dapat mempelajari dengan baik-baik, mempertahankan, membacakan dan menjelaskan sutra kepada orang lain akan memperoleh pahala kebajikan yang tak terukur, tak terbatas. (Vajracchedika – Prajnaparamita sutra 15)    

Kerukunan beragama adalah sangat penting, apalagi dalam kehidupan di negara ini dengan beragam agama, budaya dan seni. Sikap menghargai perbedaan yang ada sebagai suasana keindahan perlu untuk dipahami, dilaksanakan dan dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari. Agama Buddha mendukung plurarisme beragama. Esensi yang dilihat bukan pada terfokus pada ritual semata.

IV.    BRAHMA VIHARA
Empat kediaman luhur sering disebut pula Brahma Vihara yang terdiri dari : metta (cinta kasih), karuna (belas kasihan), mudita (simpati) dan upekkha (keseimbangan batin).

IV.1. Metta – Cinta Kasih
Metta merupakan cinta kasih yang sifatnya universal kepada semua makhluk. Pengertian semua makhluk, tidak hanya kepada manusia semata tetapi kepada makhluk-makhluk lainnya, seperti, binatang, makhluk penghuni alam neraka, hantu, Asura bahkan makhluk yang tingkatan lebih tinggi pun yaitu dewa tetap kita pancarkan.

Cinta kasih ini terpancar ke segala penjuru tanpa ada pembatasan, tanpa melihat latar belakang budaya, agama, suku, ras atau golongan tertentu.

Cinta kasih seyogyanya dipancarkan seperti seorang ibu yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk anak tunggalnya. Demikian pula hendaknya kita memiliki sifat cinta kasih dan menganggap orang lain sebagai anak tunggal yang dimaksud.

Dalam pelafalan doa, pengembangan sifat cinta kasih ini, umumnya dipraktekkan secara bertahap, yaitu penumbuhan cinta kasih dalam diri sendiri dan pengembangan kepada semua makhluk, seperti : “Semoga saya berbahagia, semoga saya terbebas dari penderitaan, semoga saya terbebas dari kebencian, semoga saya bebas dari penindasan, semoga saya bebas dari kesulitan, semoga saya dapat menjaga kebahagiaan saya sendiri.”

Setelah itu pengembangannya kepada semua makhluk, seperti : “Semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua makhluk bebas dari kebencian, semoga semua makhluk bebas dari penindasan, semoga semua makhluk bebas dari kesulitan. Semoga mereka dapat menjaga kebahagiaannya sendiri.”

Sifat tersebut hendaknya dikembangkan setiap saat, direnungkan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Dengan pengembangkan sifat tersebut, sifat negatif berupa kebencian yang kita miliki akan menurun. Karena Kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih.

Dalam Visuddhi Magga disebutkan manfaat bagi mereka yang mengembangkan sifat metta, yaitu : Dia tidur dengan tenang; dia tidak bermimpi buruk; dia dicintai oleh manusia; dia dicintai oleh makhluk bukan-manusia; dia akan dilindungi oleh para dewa; api, racun dan senjata tidak bisa melukainya; pikirannya mudah terkonsentrasi; kulit wajahnya jernih; dia akan meninggal dengan tidak bingung; dan jika tidak menembus alam lebih tinggi, dia akan terlahir kembali di alam Brahma.

Dalam Anggutara Nikaya, Buddha menunjukkan ada lima cara untuk mengatasi kebencian atau kemarahan, yaitu : jika kebencian atau kemarahan timbul kepada siapapun, maka kembangkanlah sifat cinta kasih, kasih sayang, simpati atau keseimbangan batin kepadanya ; orang tidak memperhatikan dan memikirkannya ; menerapkan fakta kepemilikan karma.

Ada kisah tentang seorang pemburu yang hidupnya selalu diisi dengan berburu hewan yang ada di hutan. Suatu hari, Bodhisattva Avalokitesvara melihat dan merenungkan dengan penuh cinta kasih kepada pemuda tersebut. Apabila pemuda itu tidak dibantu akan membawanya ke kelahiran di alam penderitaan. Kemudian Bodhisattva mengubah wujudnya menjadi seorang pertapa.

Di suatu tempat dia berpapasan dengan pemburu itu dan menyapanya. Apa pekerjaan anda dan sedang apa anda berada di hutan ini ?” Pemburu ini pun menjawab bahwa dia adalah seorang pemburu yang ulung sedang berburu hewan. Bodhisattva bertanya kembali. “Anda mengatakan sebagai seorang pemburu ulung. Berapa ekor hewan yang anda peroleh dengan sekali memanah ?” Pemburu tersebut menjawab, “Tentu saja satu ekor !”
Apa !” Anda mengatakan sebagai seorang pemburu yang ulung tetapi hanya dapat memanah satu ekor saja dengan satu busur panah. Benar-benar tidak masuk akal !” Kata Bodhisattva tersebut. Pemburu itu balik bertanya, “Apa pekerjaan Anda sendiri ?” Apa anda pun dapat memanah ?” Bodhisattva menjawab, “Saya adalah seorang pertapa. Saya pun dapat memanah. Kalau saya kehendaki dengan satu kali memanah maka 100 ekor hewan akan saya peroleh bahkan semua makhluk di dunia ini.

Oh, anda benar-benar pertapa yang kejam, tidak penuh belas kasihan. Bagaimana anda dapat  berbuat demikian !” Pertapa ini pun menjelaskan, “Panah yang saya gunakan berbeda dengan panah yang engkau pakai. Saya memanah mereka dengan cinta kasih. Sehingga siapapun yang terkena panah saya tersebut akan merasakan pancaran cinta kasih dan akan menyebar ke makhluk lainnya. Selain itu orang yang telah mendapat pancaran cinta kasih, dia akan mendapatkan kebahagiaan dan terlahir di alam bahagia. Lalu bagaimana dengan hewan yang anda panah ?” Makhluk yang terkena panah akan menderita dan mengalami kematian. Apakah itu perbuatan yang terpuji dan membawa kebahagiaan !”

Mendengar hal ini pemburu tersebut menjadi sadar bahwa orang yang dihadapinya tersebut bukanlah orang yang biasa tetapi orang suci. Dia pun meminta maaf telah berlaku kasar dan memohon untuk diterima sebagai muridnya. Dengan cinta kasihnya pertapa ini pun mengajarkan Dharma. Sehingga pemburu tersebut dapat mengenal  dan mempraktekkan kebenaran. Semenjak saat itu dia tidak lagi berburu.

Pada suatu kesempatan Buddha menjelaskan kepada murid-muridnya mengenai sifat kebencian dan kemarahan yang timbul, diibaratkan dengan :
Pertama: Orang yang memahat dinding cadas. Pahatan tersebut akan bertahan lama. Seperti orang yang membiarkan sifat kebencian timbul tidak diatasi tetapi selalu mereka simpan. Tipe orang ini sangat sukar untuk memberi maaf dan melupakan segala kejadian atau  perlakuan buruk yang telah dia terima. Kebenciannya begitu tinggi dan sukar untuk diatasi. Bertahan bertahun-tahun bahkan ada yang sampai meninggal.

Kedua Orang yang melukis di atas pasir. Lukisan ini bertahan akan cukup lama. Tipe orang ini kebencian dan kemarahan tetap timbul dan bertahan tidak lama. Tidak bertahun-tahun. Kebenciannya akan hilang hanya menunggu waktu saja.

Ketiga Orang yang melukis di atas air. Lukisan tersebut akan bertahan sesaat kemudian hilang dengan sendirinya. Tipe orang ini adalah mereka marah atau benci setelah itu hilang dengan sendirinya.

Keempat Orang yang melukis di udara. Lukisan dengan seketika hilang dan lenyap dari pandangan mata. Tipe ini tidak menyimpan kebencian dan kemarahan yang ada dia dengan mudah memaafkan dan melupakan setiap kejadian yang ada.

Pada suatu pertemuan Dharma Mingyur Rinpoche mengisahkan tentang kehidupan perumah tangga yang terjadi di negara Barat. Seorang ibu tua yang hidup bertetangga dengan orang lain. Tetangganya selalu membuat dia jengkel, marah dan kesal.

Setiap kali dia membersihkan halaman rumahnya, dia selalu melihat adanya kotoran sampah tetangga yang dibuang sembarangan ke halamannya.

Untuk beberapa saat ibu ini dapat menahan diri meskipun hatinya sangat kesal. Suatu hari ibu tua ini sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya lagi, dia menemui tetangganya dan menceritakan keluhannya. Bukannya ditanggapi dengan baik, malahan tetangganya tersebut mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar dan dia pun menyatakan sengaja untuk melakukan hal tersebut.

Ibu ini bertambah sedih dan kecewa. Suatu saat dia bertemu dengan Rinpoche dan menceritakan hal yang sama. Rinpoche menganjurkan kepada ibu tersebut untuk mengembangkan cinta kasih.

Saat pertama Ibu ini mempraktekkan cinta kasih sangatlah sulit. Karena saat terbayang wajah tetangganya, kemarahan, kekesalan dan kebencian ibu ini muncul. Bukannya dia mengembangkan cinta kasih tetapi sifat kebencian yang timbul.

Namun dia tidak putus asa, dia mencoba lagi. Dengan raut wajah yang sedikit kesal, jengkel dan marah. Dia mencoba mengembangkan sifat cinta kasih meskipun dengan hati sedikit terpaksa, dia tetap melanjutkan. Hal ini terus diulangi dan diulangi akhirnya dia pun terbiasa dan mampu mempraktekkan pengembangan sifat cinta kasih.

Biasanya saat dia bertatap muka dengan tetangganya, mereka seperti dua ekor macan yang siap bertarung. Kali ini ibu tua tersebut dapat mengendalikan dirinya dengan baik meskipun dalam hatinya ada perasaan takut. Dia mencoba untuk tersenyum. Tetangganya yang melihat hal ini sedikit kaget. Dia menganggap ibu tua ini mungkin sedikit tidak beres. Dia pun mengabaikannya. Saat berpapasan berulangkali ibu tua selalu mencoba untuk tersenyum padanya. Tetangganya yang sering membuat dia tidak nyaman pun merasa tidak nyaman dan timbul perasaan bersalah. Tetangga ini pun menemui nenek tersebut dan meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan selama ini. Akhirnya mereka menjadi teman yang baik.

Orang sering menyimpan kebencian. Meskipun kejadian yang melatar belakangi timbulnya kebencian ini telah berlalu lama sekali. Kejadiannya mungkin terjadi tiga bulan yang lalu, 1 (satu) tahun, 2 (dua) tahun, 5 (lima) tahun, 10 (sepuluh) tahun, 20 (dua puluh) tahun atau waktu yang lebih lama. Pada beberapa orang sifat ini masih tetap ada. Malah terkadang sifat kebenciannya bertambah besar dan menjadi-jadi.

Sifat kebencian membuat kita marah, kesal dan tidak tenang saat mengingat kejadian lampau tersebut. Apalagi kita bertemu dengan orang yang dimaksud maka kita bertambah menderita.

Buddha bersabda kebencian tidak akan berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih. Oleh karena itu, apabila kita memiliki sifat kebencian maka sepatutnya kita akhiri saat ini pula. Selama kita masih hidup kita masih dapat berupaya.

Suatu latihan sederhana dapat kita terapkan adalah mengembangkan cinta kasih kepada orang yang tidak kita senangi. Seperti semoga dia sehat, bahagia dan sukses. Untuk pertama hal ini terasa sukar namun tidak berarti tidak bisa. Saat kita dapat melakukan hal tersebut maka kebencian yang ada akan berkurang dan akhirnya hilang dengan sendirinya. Kita akan merasa bahagia dan tidak dipenuhi oleh kebencian lagi. Metode ini sangat sederhana dapat dilakukan setiap saat dan dimana saja daripada kita harus meminum obat agar lupa dari kejadian atau permasalahan yang membuat timbulnya kebencian.

IV.2. Karuna – Belas kasih
Sifat belas kasih timbul saat kita melihat penderitaan yang dialami, diterima dan dihadapi oleh yang lain. Kita sebaiknya menghindari untuk menyakiti kepada makhluk apapun,   baik secara fisik maupun ucapan. Baik secara sadar maupun tidak sadar. Kita perlu terus melatih dan tidak membeda-bedakan satu sama lain.

Terkadang karena pengaruh sifat keserakahan yang berkembang dalam diri kita, membuat kita tidak senang, saat melihat orang lain mengapai keberhasilan, kesuksesan atau kekayaan. Apalagi orang yang memperoleh hal tersebut kita tidak senangi. Dalam diri kita muncul pikiran orang lain tidak layak menerima penghargaan, pengakuan dan kesuksesan. Hanya diri kita yang patut. Sehingga setiap saat orang lain sukses kita merasa tidak nyaman dan tersaingi.

Suatu contoh sederhana saat melihat orang yang tidak disenangi mengalami bencana. Orang tersebut akan merasa senang dan bahagia di atas penderitaan orang lain. Kejadian ini banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Sifat belas kasih seakan-akan tertutup untuk orang yang tidak kita senangi dan hanya untuk orang yang kita sukai saja. Dalam hal ini kita membeda-bedakan yang baik dan yang tidak baik. Sifat seperti itu tidaklah baik untuk kita kembangkan.

Pada saat orang yang kita anggap baik melakukan perbuatan tercela atau tidak menyenangkan, sifat belas kasih ini pun lenyap dan kita merasa sangat kecewa sekali. Mengapa orang tersebut tega membalas kebaikan yang telah kita lakukan kepadanya.  Dalam hal ini kita masih mengharapkan imbalan atas belas kasih yang telah kita lakukan. Sepatutnya kita kembangkan belas kasih karena kita memandang orang tersebut betul-betul patut dibantu, ditolong dan tanpa memikirkan balasan apapun.

Pengembangan sifat belas kasih dilakukan dengan mengharapkan orang lain terbebas dari segala persoalan dan permasalahan yang dihadapi, seperti “Semoga semua makhluk terbebas dari segala penderitaan.” Menurut Visudhi Magga, setiap orang hendaknya  berusaha untuk memiliki perasaan kasih sayang pada saat menyaksikan sesuatu yang menimbulkan perasaan belas kasihan.

Suatu kisah zen yang perlu kita cermati, yaitu kisah guru Zen Bunkei Eitaku. Ketika Guru Zen ini mengadakan persamuan agung, siswa-siswa dari seluruh Jepang datang menghadiri pertemuan tersebut.

Di antara kerumunan tersebut ada salah satu siswa memiliki perilaku menyimpang, dia suka mengambil barang milik orang lain dan dia pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencopet uang siswa yang hadir. Perbuatan ini diketahui oleh siswa lainnya.   

Siswa-siswa menjadi marah dan ingin memukuli. Namun gurunya langsung meminta yang lainnya untuk bersedia memaafkan perbuatan siswa tersebut. Apa kata salah satu siswanya, “Tidak bisa. Dia telah dilepas berulang kali. Sekali ini tidak boleh dimaafkan lagi !” Yang lainnya pun berkata, “Apabila guru tidak menghukum, kami akan pergi meninggalkan guru!”

Guru yang penuh belas kasih ini pun berkata kepada mereka, “Kalian adalah orang-orang yang baik dan bijaksana. Kalian dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika bukan saya, siapa lagi yang dapat memberikan dia petunjuk !” Saya akan meminta dia di sini. Jika kalian ingin pergi. Apa boleh buat !” Mendengar kata-kata ini, bhikkhu yang mencuri tersebut menjatuhkan diri dan air mata mengalir di wajahnya. Semenjak saat itu dengan kesungguhan, dia bertekad tidak lagi mencuri.

Betapa besar pengaruh belas kasih kepada yang lain. Meskipun orang melakukan kesalahan kita tidak perlu menjadi sakit hati dan marah secara berlebih. Hal itu hanya akan membuat kita semakin benci. Tetapi dengan belas kasih kita akan merasa bahagia. Sungguh luar biasa !”

Ada lagi kisah kesabaran dari Guru besar Arya Asanga, Beliau bermeditasi untuk bertemu dengan Bodhisattva Maitreya. Selama 9 (sembilan) tahun pertama telah dijalani namun dia tidak melihat adanya tanda-tanda kehadiran dari Maitreya. Dia pun memutuskan untuk menghentikan latihannya dan kembali ke desa. Saat mau menuruni gunung dia melihat seorang bapak sedang memikul batu besar dari atas gunung untuk dibawa turun. Pertapa ini pun bertanya, “Mengapa Bapak melakukan hal tersebut ?” Bapak ini menjawab dia berkehendak memindahkan gunung karena menghalangi pandangannya. Pertapa ini pun kembali bertanya, “Bagaimana hal ini dapat terjadi, ini sangat tidak memungkinkan !” Bapak itu pun menjawab selama orang memiliki ketekunan hal itu tidak akan menjadi kendala.

Pertapa ini pun merenungkan dengan sungguh-sungguh. Akhirnya dia kembali lagi bertapa. 1 (satu) tahun dijalani dia tidak menemukan tanda-tanda atau kehadiran dari Maitreya. Dia memutuskan untuk berhenti. Saat berada di desa dia melihat ada seorang bapak sedang mengosok-gosok besi dengan kain. Bapak ini melakukan dari pagi sampai sore harinya. Pertapa ini bertanya, “Apa yang sedang Bapak lakukan ?” “Saya ingin membuat jarum dari besi ini,” jawab Bapak tersebut. Bagaimana hal ini bisa terjadi !” tanyanya. Bapak ini menjawab selama orang punya ketekunan maka hal ini tidak sulit.

Melihat hal ini dia kembali bertapa. 2 (dua) tahun pun berlalu. Hal sama terjadi dia tidak melihat adanya tanda kehadiran Maitreya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk turun gunung. Saat di tepi sungai dia melihat adanya seekor anjing yang kesakitan. Perutnya digerogoti oleh belatung. Timbul rasa belas kasih dari pertapa. Dia pun mendekati anjing tersebut dan berkehendak memindahkan belatung tersebut. Namun dia berpikir apabila diangkat dengan tangan akan menyebabkan belatung tersebut mati. Akhirnya dia putuskan untuk memindahkan dengan lidahnya. Dia mencoba menjilat belatung yang ada pada anjing tersebut namun tidak sampai. Dia mencoba lagi mengulurkan lebih jauh namun hanya menyentuh ruang hampa.

Seketika itu juga di depannya hadir Bodhisattva Maitreya. Pertapa ini pun mengeluh, mengapa Maitreya tidak muncul selama 12 (dua belas) tahun masa latihannya. Maitreya pun tersenyum, senyuman ini menghilangkan rasa kekesalan yang dia alami. Kemudian Bodhisattva menjelaskan bahwa selama ini sebetulnya Beliau hadir namun karena belas kasih dan batin masih tertutup sehingga pertapa ini tidak dapat melihat kehadirannya. Setelah peristiwa tersebut pertapa itu dapat mengembangkan sifat belas kasih maka dengan sendirinya perwujudan Maitreya ada di depannya dan Bodhisattva pun membabarkan ajaran Dasar kepadanya.

Kita pun dapat melihat sifat belas kasih Buddha. Saat Buddha menaklukan hati pembunuh yang kejam bernama Angulimala. Sebetulnya Angulimala adalah orang yang baik. Namun dia diperdaya oleh gurunya yang jahat. Pada saat Angulimala belajar kepada Gurunya, dia termasuk murid yang cerdas dan disayangi. Gurunya memiliki isteri muda yang tertarik sama Angulimala. Namun Angulima menolak cinta dari isteri gurunya tersebut. Isteri gurunya marah dan membuat rencana untuk menyingkirkan Angulimala. Rencana ini pun berhasil membuat Gurunya tidak senang sama Angulimala. Menyadari Angulimala adalah seorang murid yang patuh, maka dia membuat syarat untuk lulus sebagai muridnya, Angulimala harus dapat menggumpulkan jari orang sebanyak 1.000 buah.

Karena rasa taat yang tinggi dia melakukan apa yang diminta gurunya. Dia selalu mengambil satu jari dari orang yang telah dibunuhnya tersebut dan jari tersebut dijadikan kalung. Berjalannya waktu dia pun berhasil menggumpulkan jari sebanyak 999 buah. Berarti hanya tinggal 1 (satu) jari saja.

Pada pagi hari tersebut Buddha yang penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang. Beliau melihat dunia dengan mata batinnya. Siapa yang dapat mencapai pencerahan !” Ternyata Beliau menemukan bahwa telah waktunya bagi Angulimala mendapat ajaran Dharma. Apabila dia tidak mendapatkan ajaran kebenaran maka dia akan mengalami hidup menderita berkepanjangan di alam penderitaan.

Hari yang sama itu ibunya yang sangat menyayangi anaknya takut Angulimala mendapat bahaya karena ada rencana raja untuk menangkapnya hidup-hidup karena telah membuat keresahan kehidupan masyarakat setempat dan mengancam keamanan negara.

Saat Angulimala melihat kehadiran ibunya dia sudah tidak dapat berpikiran jernih. Hasrat membunuhnya begitu tinggi maka dia pun berkehendak melakukan hal tersebut. Beruntung Buddha muncul dihadapannya dan Angulimala mengurungkan niatnya untuk membunuh Ibunya tetapi ke Pertapa yang tidak lain adalah Guru junjungan kita.

Angulimala dengan sekuat tenaga mengejar Buddha. Buddha yang Maha Suci dan Sempurna berjalan dengan tenang tanpa ada rasa takut. Angulimala terus mengerahkan seluruh tenaganya dan kemampuannya. Namun dia tidak mampu mengejar Buddha. Karena merasa lelah dan tak berdaya. Akhirnya dia pun berteriak, “Wahai pertapa, berhentilah, jangan berlari terus!”

Sebaliknya Buddha berkata, “Saya telah berhenti. Anda sendiri yang terus berlari !” Angulimala berkata kembali, “Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa anda telah berhenti dan saya yang tidak berhenti. Padahal saya telah berhenti dan tidak dapat mengejar Anda.

Buddha menjelaskan kepada Angulimala. Saya mengatakan bahwa saya telah berhenti karena saya telah meninggalkan pembunuhan maupun penganiayaan kepada makhluk lain dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Sementara anda mengatakan telah berhenti, kenyataannya masih menyakiti makhluk-makhluk lain. Bagaimana hal ini bisa terjadi !”

Mendengar apa yang telah dikatakan Buddha, Angulimala menjadi sadar bahwa orang yang dihadapinya adalah orang yang sangat luar biasa. Hatinya pun luluh. Kemudian dia memohon Buddha untuk menerima dia sebagai salah seorang muridnya. Buddha penuh belas kasih pun menerima dan membimbing Angulimala sampai mencapai pencerahan.

Dalam kehidupan ini terkadang kita melihat adanya orang yang melakukan perbuatan jahat, seperti menyakiti orang lain dengan kejam, memperkosa, membunuh atau menganiaya orang yang dianggap sebagai musuh dengan kejam dan tanpa ada penyesalan sama sekali. Malah terkadang merasa begitu bangga dengan perbuatan kejamnya. Seakan-akan kehidupan makhluk lain tidak berharga dan makhluk lain layak diperlakukan dengan kejam. Ini jelas perbuatan yang tidak baik. Bagaimana pemikiran itu dapat timbul ?”

Hal ini disebabkan sifat belas kasihnya belum muncul. Dalam kurun waktu tertentu bahkan ada yang selama kehidupan mereka telah dibentuk sedemikian rupa dengan pikiran-pikiran yang kejam. Sehingga terhadap perbuatan-perbuatan jahat mereka menganggap sebagai hal yang biasa dan tidak perlu ditanggapi serius. Kejahatan menjadi watak dan terekam dalam bawah sadarnya sebagai hal wajar saat perbuatan jahat dilakukan.

Seperti saat orang yang membunuh serangga. Orang yang melakukan perbuatan tersebut tidak merasa bersalah sama sekali. Saat orang menyemprot obat anti serangga, mereka melakukan dengan tanpa ada beban kesalahan. Orang menganggap serangga memang layak untuk dibunuh atau dimusnahkan. Serangga dapat membawa bibit penyakit. Malah ada orang merasa bangga saat menangkap hewan-hewan buruan dengan keadaan hewan tersebut yang sangat memprihatinkan. Mengapa ?” Karena membunuh, menangkap dan membawa hewan dengan keadaan apapun sudah menjadi kebiasaan. Dalam pikiran mereka telah terbentuk bahwa hewan tersebut memang layak ditangkap, dibunuh atau disiksa. Dasar pemikiran tersebut berlaku pula dengan orang-orang melakukan perbuatan jahat. Mereka merasa tidak bersalah. Seakan-akan diakui dalam komunitas tertentu sebagai perbuatan baik malah perlu diberi penghargaan. Meskipun hal ini sangat disayangkan !”

Dalam tatanan moral, belas kasih dikembangkan tanpa memandang ukuran makhluk. Apakah ukuran besar, sedang atau kecil. Apakah mereka manusia atau bukan manusia. Siapapun perlu kita tolongi dan kasihi. Bahkan apakah dia orang baik atau buruk tidak menjadi kendala atau pembeda.

Jangan belas kasih ini diartikan sempit. Kita harus hidup bersama terus-menerus dan tak terpisahkan dengan orang jahat dan kejam. Sementara kita masih dalam proses latihan. Ini jelas tidak bijak. Sangatlah tidak wajar orang hidup satu kandang dengan hewan buas. Setiap saat kalau orang tidak waspada, orang  tersebut dapat dimangsa dan menjadi korban atas kelalaiannya. Ini pun usaha yang sia-sia.

Kita perlu tahu, mengasihi dan peduli akan keberadaan makhluk lain. Ukuran belas kasih pun tergantung dari tingkatan moral masing-masing. Hanya orang itu sendiri yang tahu.

IV.3. Mudita – Simpati
Sifat simpati ini timbul karena kita memahami dan menyadari bahwa iri hati atas keberhasilan, kesuksesan atau kekayaan orang lain tidak akan membawa kebahagiaan sebaliknya membuat kita menderita. Kita perlu memberikan penghargaan atas keberhasilan orang lain. Apapun namanya dan siapapun mereka. Kita perlu bersimpati.

Ada orang malah berpikiran berbeda. Pada saat orang lain sukses mereka merasa iri dan menganggap kesuksesan tersebut adalah hasil usaha yang tidak benar. Malahan keberhasilan, kesuksesan dihubung-hubungkan dengan ritual mistik yang tidak dapat diterima secara nalar.

Pengembangan sifat mudita, yaitu mengharapkan yang lain bahagia. Seperti : “Semoga semua makhluk tidak melenyapkan kebahagiaan yang telah mereka peroleh.” Tetapi terus menerus mengembangkan kebajikan dimanapun berada.  

Pada saat orang lain menghadapi masalah mereka merasa begitu bahagia. Padahal kalau kita menghadapi hal serupa kita berharap orang lain mau mengerti dan memaafkan atas kesalahan maupun kelalaian yang terjadi.

Pada saat orang lain meraih kesuksesan, menduduki jabatan tertentu, kita dapat memberikan ucapan selamat atas keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai. Saat  orang membuka suatu usaha baru kita dapat memberikan ucapan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti papan ucapan, sms atau karangan bunga. Ini merupakan suatu bentuk simpati.

Kita terbiasa menganggap sebagai hal wajar atas prestasi dan keberhasilan seseorang.  Karena memang selayaknya orang hidup berbuat yang terbaik, sukses dan berhasil. Seakan-akan kita dikatakan tidak memiliki perhatian dan simpati. Ini yang banyak ditemukan dalam masyarakat. Namun pada umumnya orang sangat mengharapkan simpati atas usaha dan kerja kerasnya. Sehingga tidak salah kita perlu simpati atas jerih payah yang telah dilakukan. Dalam batasan umat awam perhargaan itu tetap dibutuhkan. Mungkin kita menganggap kita tidak perlu tetapi tidak dengan orang lainnya. Oleh karena itu kita tidak boleh hanya berpegang pada diri sendiri.

Ada suatu kisah tentang kehidupan seekor raja monyet. Ia selalu melindungi monyet-monyet lain dengan cinta kasih dan kasih sayang. Ia pun memperingatkan kepada monyet-monyet untuk tidak membiarkan satu buah mangga terhanyut ke sungai karena akan membawa bencana. Selama beberapa waktu monyet-monyet ini hidup tenang. Namun pada suatu ketika ternyata ada monyet yang lalai ia tidak memperhatikan adanya buah mangga yang telah matang jatuh dan terbawa arus sungai menuju hilir.

Pada saat itu raja dan permaisuri ada di hilir sungai sedang bersenang-senang. Melihat adanya buah aneh dan bau yang sangat harum, mengudang perhatian raja. Raja memerintahkan para pengawalnya untuk mengupas buah mangga dan mencicipi apakah berbahaya atau tidak dan bagaimana rasa buah tersebut. Setelah dicicipi buah ini tidak berbahaya dan sangatlah enak. Raja ini pun mencicipi dan merasakan betapa enaknya.

Rasa buah mangga tersebut terus terbayang-bayang dalam benaknya. Karena tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, raja memerintahkan kepada para pengawalnya untuk menelusuri dan mencari dimana asal buah tersebut tumbuh dan berada.

Mereka pun melakukan perjalanan menelusuri arah sungai dan hutan. Akhirnya mereka sampai di hutan tempat buah itu tumbuh. Tampak di depan mereka monyet-monyet sedang asik memakan buah-buah mangga tersebut. Hal ini membuat raja marah. Raja pun memerintahkan para pengawalnya untuk mengusir dan memanah monyet-monyet yang sedang asyik bermain dan memetik buah-buah mangga.

Monyet-monyet menjadi ketakutan dan berlari tanpa tujuan. Melihat kejadian ini, raja monyet yang memiliki ukuran badan besar. Ia melihat rakyatnya mengalami kesulitan dan keputusasan. Dia pun maju dan mengarahkan mereka ke tempat yang aman. Karena jarak pohon satu dengan lainnya sedikit jauh. Hal ini akan menyulitkan monyet biasa meloncat dan melewati pohon tersebut. Maka raja monyet ini pun meloncat dan mengenggam cabang pohon lainnya. Dia menjadikan tubuhnya sebagai jembatan penghubung pohon yang satu dengan pohon lainnya. Monyet-monyet yang ada pun melewati dan menginjak-injak punggung raja monyet tersebut. Beban yang datang terus-menerus membuat raja monyet ini mengalami kelelahan. Akhirnya tidak kuat lagi menahan beban raja monyet itu pun terjatuh.

Raja yang melihat semua kejadian ini merasa kagum, simpati dan bersalah. Dia memerintahkan kepada pengawalnya untuk merawat dan mengobati luka-luka atau rasa sakit yang ada. Setelah raja monyet ini mulai membaik maka raja bertanya kepadanya, “ “Wahai, raja monyet, Mengapa engkau membiarkan tubuhmu diinjak-injak oleh monyet lain !” Mengapa engkau tidak menyelamatkan diri sendiri atau berlari sebaliknya malah melakukan hal tersebut !” Raja monyet menjawab, “Wahai baginda, sebagai raja tentunya tidak pantas melihat dan membiarkan rakyatnya yang sedang mengalami kesusahan dan penderitaan. Apalagi melarikan diri sendiri. Dia harus mengembangkan rasa simpati atas penderitaan kaumnya dengan menjadikan tubuhnya sebagai jembatan.

IV.4. Upekkha – Keseimbangan batin
Buddha selalu menekankan kepada para muridnya untuk selalu menjaga keseimbangan batin. Tidak tergoyahkan atas segala perubahan yang terjadi. Karena kehidupan sifatnya netral hendaknya dalam memandang segala hal dengan pikiran terbuka.

Pada saat kita dipuja atau pun dicela. Kita tidak harus menunjukkan kesedihan atau peluapan emosi yang luar biasa sebagai penunjukan suka cita. Hal ini tidak akan membawa kemajuan latihan batin. Bahkan akan menghalangi, membuat kita lalai pada tujuan hidup dan penyempurnaan diri. Sehingga keadaan apapun yang kita alami terimalah sewajarnya.

Dalam Brahmajala Sutta, Buddha memberikan tips menghadapi pembincangan miring atau pujian mengenai Dharma, sebagai berikut :
“Para Biku, jika ada orang berbicara menentang Aku, atau menentang Dharma atau menentang Sangha. Janganlah karena hal itu engkau menjadi amarah, benci atau menaruh dendam. Jika engkau merasa tersinggung dan sakit hati, hal itu akan menghalangi perjalananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika engkau merasa jengkel dan marah ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang  menentang kita, bagaimana engkau dapat menilai sejauh mana ucapannya benar atau salah ?

Jika ada orang yang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Aku, Dharma, atau Sangha, engkau harus menjelaskan apa yang keliru dan menunjukkan kesalahannya dengan menyatakan berdasarkan hal ini dan hal itu, ini tidak benar, ini tidak begitu. Hal demikian tidak ditemukan di antara kami dan bukan pada kami.

Pengembangan dari sifat upekkha, yaitu dengan pemahaman atas apa yang makhluk lain alami adalah hasil apa yang mereka perbuat, mereka adalah ahli waris dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri. Karma baik atau buruk yang telah mereka lakukan, mereka sendiri juga yang akan menjadi pewarisnya.

Guru Hakuin adalah seorang guru Zen yang ternama. Suatu hari ada seorang gadis hamil dia tidak mau mengatakan kepada orang tuanya siapa yang telah melakukan. Karena terus didesak, gadis ini pun mengatakan Hakuin. Orang tuanya yang mendengar hal ini  sangat marah dan mereka pun mendatangi dan memaki Hakuin. Namun guru tersebut tetap dalam kondisi tenang menghadapinya dan tidak ada kemarahan sedikit pun. Dia hanya mengatakan, “Begitu Ya ?” Saat gadis itu melahirkan, anak yang dituduhkan sebagai hubungan gelap diserahkan kepada guru Zen.
    
Penduduk mulai tidak menghargai dan menghina atas perbuatan yang terjadi. Bhikkhu ini tetap tenang dan tidak tergoyahkan. Sebaliknya dia merawat dengan baik bayi tersebut. setahun kemudian gadis yang menuduh Guru Zen telah menodainya, menceritakan kejadian sebenarnya bahwa anak yang dikandungnya dulu bukanlah hasil hubungan dengan Guru Zen melainkan dengan seorang pria yang bekerja di pasar ikan. Dia tidak pernah berhubungan dengan Guru tersebut. Orang tuanya mendengar hal ini merasa sangat bersalah dan menyesal telah menuduh hal yang tidak pantas dan tidak benar kepada Guru tersohor tersebut. Mereka pun menemui Guru Zen ini dan meminta maaf. Mereka juga mengambil kembali bayi yang telah diserahkan kepada Guru Zen. Sekali lagi guru ini menyambut dengan hal umum. Seakan-akan tidak ada kejadian sama sekali.

Inilah keseimbangan batin yang luar biasa. Saat dihina kita tidak marah begitu pula saat dipuji kita tidak terlalu bersuka ria. Semua itu dijalani seperti apa adanya. Tidak terbawa dan terjebak ke dalam konsep dualisme dan/ atau membeda-bedakan. Hidup dihadapi dan dijalani dengan sikap sewajarnya. Menghadapi kehidupan dengan realita.

Seperti kisah kehidupan Bodhisattva sewaktu hidup sebagai petani. Saat dikabari bahwa anaknya telah meninggal digigit ular. Beliau sama sekali tidak tampak sedih dan kecewa. Tetapi Beliau hadapi dengan penuh ketenangan dan seakan-akan tidak terjadi peristiwa penting. Hal ini membuat raja Sakka menjadi penasaran terhadap sikap petani ini. Maka dia pun mewujudkan diri sebagai seorang penduduk dan diantaranya dia bertanya. Mengapa petani ini tidak sedih atau menangis ?” Apakah anak yang telah meninggal tersebut tidak berbakti ?” Petani ini menjawab dengan tenang, seperti sebuah guci yang telah pecah tidak dapat satukan secara utuh begitu pula dengan orang yang telah meninggal, tangis dan sedih tidak akan membuatnya kembali. Mengapa harus bersedih. Selain itu di dunia ini tidak ada yang kekal. Orang yang lahir akan mengalami kematian cepat atau lambat. Buat apa kita bersedih.

Tampak dalam cerita tersebut Buddha menunjukkan orang harus menghadapi kehidupan ini secara realita tidak terbawa oleh kondisi luar. Kehidupan ini sangat berharga. Bukan dengan sedih dan tangis yang dapat menyelesaikan permasalahan. Bahkan kalau mau disebutkan, apabila dalam kehidupan yang telah kita jalani, tulang-tulang dalam kelahiran sebelumnya tersebut dikumpulkan maka tumpukan tulang belulang akan membentuk gunung setinggi gunung Semeru. Begitu pula apabila darah dan cairan tubuh ditampung maka cairan tersebut akan mengisi bumi ini lebih besar dari lautan. Dengan memahami hal ini buat apa bersedih dan menangis !”