I. Hukum Tertib Kosmis
Ajaran Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh Hukum atau Proses Alam.  Hukum yang mengatur alam semesta dinamakan hukum tertib kosmis. Hukum tersebut terdiri dari 5 macam, yaitu :
I.1. Hukum Fisik Anorganik/ Utu Niyama/ Physical Laws
– Fenomena musiman dari Angin dan Hujan.
– Hukum-hukum yang tepat mengenai Pergantian Musim.
– Karakteristik peristiwa dan perubahan musim.
– Sifat alamiah dari panas, dingin dll.
I.2. Hukum Biji-Bijian atau Fisik Organik/ Bija Niyama/ Biological Laws
–   Padi tumbuh dari biji.
–   Rasa manis dari gula tebu atau madu.
–   Uniknya karakteristik dari buah tertentu.
–     Teori ilmu pengetahuan tentang Sel dan Gen, serta kemiripan pada Anak Kembar mungkin dapat dijelaskan berdasarkan pada hukum ini.

I.3. Hukum Perbuatan dan Akibatnya /Kamma Niyama/ Moral Laws
–    Tindakan yang sengaja ataupun tidak disengaja menghasilkan hasil  yang baik dan buruk.
–    Sesuai benih yang ditabur

I.4. Hukum Pikiran dan Psikis /Citta Niyama /Psychic Laws
Proses Kesadaran, Kelanjutan Kesadaran, Kekuatan Pikiran, Termasuk Telepati, Telesthesia, Mata Dewa, Telinga Dewa, Kemampuan mengingat Hal-Hal Lampau (Retro-Cognition), Kemampuan Meramal (Premonition), Kemampuan memBaca Pikiran dan  Fenomena Psikis lainnya yang tidak dapat dijelaskan  oleh Ilmu Pengetahuan Modern

I.5. Hukum Realita/ Dhamma Niyama/ The General Law of Cause and Effect
Gejala Alam yang terjadi pada saat kelahiran terakhir seorang Bodhisattva. Hukum Gravitasi dan hukum-hukum alam lainnya juga dimasukan dalam kelompok ini.

II. INTERDEPENSI HUKUM YANG SATU DENGAN YANG LAIN
Kelima Niyama tersebut sebenarnya Tidak Terpisahkan satu sama lain. Lima Niyama itu secara integratif menunjuk satu realitas, Beroperasi dalam satu kesatuan, Terkait dan saling bergantungan satu sama lainnya. Istilah yang diberikan untuk menunjuk keterkaitan tersebut di atas adalah Interdependensi.

Interdependensi antara Dhamma Niyama dengan Kamma Niyama terwujud dari kaitan yang erat antara gerakan benda-benda di kosmos dengan karma kolektif makhluk, misalnya ada meteor yang jatuh di suatu lokasi dan menewaskan banyak penduduk setempat. Interaksi antara kedua hal ini yang menyebabkan mengapa meteor itu jatuh di tempat tersebut dan tidak tempat lain. Selain mengapa hanya orang-orang itu saja yang tewas, sementara yang lainnya selamat.

Kini kita akan membahas interdependensi antara Bija Niyama dengan Kamma Niyama. Sebagai contoh, energi negatif yang di hasilkan dari pembantaian binatang secara terus menerus (kamma niyama) bisa mencapai titik tertentu yang mengaktivasi kan munculnya Wabah Penyakit Baru. Munculnya penyakit baru itu berasal dari kuman yang bermutasi atau bahkan kuman baru (bija niyama). Ternyata setelah orang berhasil menemukan obat bagi penyakit baru itu, muncul kuman baru yang lebih ganas.

Siklus ini tidak akan pernah berakhir selama kita masih mengkonsumsi binatang dalam skala yang luar biasa. Industri pemotongan hewan merupakan salah satu penyebab utama dari hal ini. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa banyak penyakit yang timbul sebagai akibat mengonsumsi daging berbagai jenis hewan. Wujud lain dari interdependensi tersebut adalah pengaruh karma manusia pada kualitas, jumlah spesies, proses pembuahan, dan kesuburan dari aneka flora yang tumbuh di bumi.

Contoh interdependensi antara Citta Niyama dengan Kamma Niyama adalah seorang yang melakukan pemurnian pikiran melalui sila dan samadhi akan mendapatkan kekuatan batin, bisa membaca pikiran orang lain, dan lain-lain.

Interdependensi antara satu niyama dengan niyama lainnya terjalin secara kontinu atau sinambung terus menerus dan dinamis. Sebagai contoh, dalam interdependensi Utu Niyama dengan Kamma Niyama, maka segala apa yang kita lakukan (kamma niyama) juga akan mempengaruhi iklim dunia (utu niyama) misalnya, jika energi karma negatif yang dihasilkan dari akumulasi keserakahan umat manusia telah mencapai titik tertentu, maka akan terjadi gangguan pada alam atau ekosistim yang dapat berupa: musim hujan tak datang pada waktunya; musim kering terlalu panjang, disusul dengan badai hujan yang terlalu ekstrim, dan bencana-bencana lainnya.

Bukti nyata akibat dari akumulasi kerakahan manusia, maka akan terjadi gangguan pada alam maupun ekosistim

III.    Global Warning
Global Warming (Pemanasan Global) adalah fenomena dari naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya efek rumah kaca. Efek rumah kaca di atmosfer meningkat akibat adanya peningkatan kadar gas-gas rumah kaca, antara lain karbon dioksida, metana, ozon. Pemanasan Global atau Global Warming saat ini menjadi isu internasional.
Pemanasan Global mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu perubahan iklim dunia dan kenaikan permukaan air laut. Kenaikan temperatur dan mencairnya es di Greenland adalah sebuah bukti tak terbantahkan bahwa bumi sedang menderita atas kenaikan suhu yang amat besar. Bila kondisi ini dibiarkan terjadi, maka inilah awal dari Bencana Global. Kondisi ini besar kemungkinan akan bersifat “Irreversible” – tak akan bisa kembali seperti semula.

Istilah Efek Rumah Kaca (Green House Effect) berasal dari pengalaman para petani di daerah iklim sedang yang menanam sayur-mayur dan bunga-bungaan di dalam rumah kaca. Yang terjadi dengan rumah kaca ini, cahaya matahari menembus kaca dan dipantulkan kembali oleh benda-benda dalam ruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar infra merah.

Namun gelombang panas itu terperangkap di dalam ruangan kaca serta tidak bercampur dengan udara dingin di luarnya. Akibatnya, suhu di dalam rumah kaca lebih tinggi daripada di luarnya. Inilah gambaran sederhana terjadinya Efek Rumah Kaca (ERK).

Sebenarnya Gas rumah kaca tidak lah berbahaya jika tidak berlebihan, hal yang berlebihan inilah yang menyebabkan kefatalan. Gas rumah kaca yang memberikan kehangatan pada bumi sangat membantu kelangsungan hidup kita. karena kehidupan di bumi ini sangat memerlukan panas yang cukup.

Lapisan atmosfir terdiri dari, berturut-turut: troposfir, stratosfir, mesosfir dan termosfer: Lapisan terbawah (troposfir) adalah yang yang terpenting dalam kasus ERK. Sekitar 35% dari radiasi matahari tidak sampai ke permukaan bumi. Hampir seluruh radiasi yang bergelombang pendek (sinar alpha, beta dan ultraviolet) diserap oleh tiga lapisan teratas.
Yang lainnya dihamburkan dan dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Sisanya masuk ke dalam troposfir. Di dalam troposfir ini, 14 % diserap oleh uap air, debu, dan gas-gas tertentu sehingga hanya sekitar 51% yang sampai ke permukaan bumi. Radiasi yang diterima bumi, sebagian diserap sebagian dipantulkan. Radiasi yang diserap dipancarkan kembali dalam bentuk sinar inframerah.

Akibat dari berbagai radiasi terjadi, kerusakan ozon di lapisan stratosfer menjadi begitu parah. Lapisan ozon melindungi kehidupan di Bumi dari radiasi ultraviolet Matahari. Namun, semakin membesarnya lubang ozon di kawasan kutub Bumi akhir-akhir ini sungguh mengkhawatirkan. Bila hal tersebut tidak diantisipasi, bisa menimbulkan bencana lingkungan yang luar biasa.

IV.    Etika Lingkungan
Penyebab bencana ekologis adalah karena generasi kita tidak memiliki etika masa depan. Kita yang lahir sekitar tujuh puluh hingga dua puluh tahun lalu adalah generasi beruntung. Pernah merasakan segarnya udara setiap membuka jendela di pagi hari. Juga bisa menikmati nyanyian merdu burung-burung bagai simfoni penggetar kalbu. Bila hendak mencari rambutan atau kayu bakar, misalnya, cukup berjalan kaki kurang dari setengah jam, kita pun sampai kita ke hutan lebat.

Tapi, anak-anak yang lahir sepuluh tahun belakangan menemukan dunia yang berbeda. Bagi mereka, terutama yang tinggal di kota, kicauan burung lebih mudah ditemukan di layar komputer. Memang bisa saja kalau mau mendengar langsung di hutan, tapi kini hutan sungguh jauh.

Apalagi udara segar, anak-anak kini akrab dengan udara berdebu & berbau minyak pelumas, walaupun tak disadari karena biasa. Lalu, bumi seperti apa yang dijumpai generasi duapuluh tahun ke depan? Kemungkinan jawabannya yaitu, bumi yang mengerikan !
Kenaikan suhu bumi (global warming) telah menjadi perhatian dunia sejak beberapa dekade belakangan. Industralisasi dituding sebagai penyebab utama. Salah satu akibatnya ialah mencairnya es di kutub yang berakibat naiknya permukaan laut, yang pada gilirannya menyebabkan abrasi kawasan pantai. El-Nino, Badai Katrina dan Badai Rita yang menggulung Amerika baru-baru ini diduga sebagai akibat global warming. Yang paling mudah dideteksi ialah, udara terasa semakin panas. Tahun 2005 dilaporkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah bumi. Kita yang hidup di Surabaya, belum merasakan akibat langsung pemanasan global. Tapi bukan berarti kita aman.

Pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit), terjadi aksi saling tuding antara negara-negara peserta. Negara berkembang mengeluhkan emisi karbon pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor di negara-negara maju. Sebaliknya, negara maju menuduh negara berkembang tidak menjaga kelestarian hutannya sebagai paru-paru dunia. Apakah tudingan negara maju beralasan ?

Kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia, melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif  Walhi, mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sbg penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri).

Es yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permuka an laut bumi – termasuk laut di seputar Indonesia – terus meningkat. Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

Upaya penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan, terutama kalangan LSM. Sudah terlalu banyak tinta ter tuang sejak seperempat abad ini, suara jg semakin parau. Namun langkah ini nampak terseok-seok dibandingkan tingkat kerusakan yang terus meluas. Di Prancis, gerakan sadar lingkungan dimulai tahun 60-an. Di Indonesia dan dunia ketiga lainnya relatif baru dimulai.

Masalah ini dianggap penting sehingga pemerintah membentuk Kementerian Lingkungan Hidup. Penanaman pohon, proyek kebersihan, penghargaan lingkungan, lomba kebersihan, dan sebagainya sudah dilakukan. Tapi kepentingan lain, terutama ekonomi selalu berhasil menggilas upaya penyelamatan lingkungan. Nah kini tiba-tiba dunia terkejut! Ternyata alam sudah sedemikian parahnya

Dulu, alam dan manusia hidup secara harmonis. Tapi kini, homo industrialus mengambil posisi berhadapan langsung secara diametral dengan alam, menjadi musuh tak tertaklukkan.

Kepentingan ekonomi mendorong pengusaha perkayuan menebang hutan secara membabi-buta, juga meringankan tangan pemerintah mengeluarkan izin-izin bagi eksploitasi hutan-hutan alam. Dan, setiap upaya hukum bagi para perusak lingkungan ini selalu saja berputar-putar di tempat yang sama. Padahal bumi sudah sakit, sebagaimana manusia membutuhkan dokter karena suatu penyakit, bumi juga membutuhkan “dokter” untuk alasan yang sama. Idealnya, dokter baik ialah dokter yang membantu pasien mencegah penyakit. Tapi kini lupakan itu! Dokter yang diperlukan lingkungan kita adalah yang bisa mengobati penyakit kronis stadium tertinggi.

Obat terbaik yang bisa diresepkan “dokter” lingkungan adalah mengupayakan : Lahirnya Generasi Sadar Lingkungan. Lahirnya Generasi Sadar Lingkungan karena tak mungkin berharap banyak dari generasi kini. Tumpuan harapan ialah anak-anak yang kini bermain di taman kanak-kanak, atau bayi-bayi yang belajar merangkak, bahkan janin-janin di dalam perut ibunya. Dengan terpaksa dan tega, ke pundak-pundak kecil dan masih lemah ini akan kita timpakan beban berat itu.

Mereka akan memutus mata rantai dengan masa lalu, kemudian membangun masa depannya sendiri. Walaupun terlambat, waktu memulainya adalah kini. Semakin ditunda, kita akan melakukan lebih banyak intervensi dibandingkan perlindungan terhadap alam.

Diyakini bahwa generasi baru itu akan lahir dari proses pendidikan. Pendidikan ekologi yang ditanamkan ke sistem berfikir generasi mendatang akan membentuk kesadaran tentang peran penting mereka sebagai “dokter bumi”. Pendidikan lingkungan bukanlah persoalan sederhana, sehingga cukup puas bila melatih anak-anak membuang sampah pada tempatnya.

Pendidikan lingkungan ialah penetrasi mental tentang paradigma baru yaitu “etika masa depan.” Kesadaran ini mesti hadir dalam pola pikir dan wujud dalam setiap gerak inderawi. “Anak-anak mesti mulai diajak ke semak-semak.”

Akhirnya, tanpa bermaksud memperberat pendidikan dengan muatan Ekologi harus segera bergaung. Alih-alih dikenang sebagai pewaris masalah, dengan upaya ini generasi kita masih punya satu harapan kecil, untuk diingat sebagai penabur benih manusia masa depan yang bijak lingkungan, bukan hanya generasi yang rakus pada alam.

Sebagai penutup, Grant Rosoman mengatakan, “tingkat kepunahan spesies tumbuhan dan hewan saat ini kira-kira seribu kali lebih cepat dibanding zaman sebelum bumi dihuni manusia dan diperkirakan akan mencapai sepuluh ribu kali lebih cepat tahun 2050.” Lalu kita hubungkan dengan kalimat Daoed Joesoef, “di bumi Indonesia ada banyak spesies terancam punah, bahkan ada yang sudah punah. Jika perusakan lingkungan tidak segera dihentikan, maka satu spesies menyusul punah, spesies manusia.”

Empat Kesunyataan Mulia berpusat pada Dukkha atau Penderitaan, yang mana disebabkan oleh Keserakahan, Keangkuhan dan Kebodohan. Pada masyarakat yg konsumeris, kita menjadi kewalahan dengan segala dorongan untuk pemenuhan NAFSU melebihi dari apa yang kita butuhkan. Karena konsumeris, keserakahan untuk hidup dengan mewah secara berlebihan, menjadi ancaman bagi Rumah Kita, Dunia Kita, Bumi Kita.

Di banyak negara, kemewahan men jadi acuan kemajuan ekonomi sebagai sesuatu yang di agungkan. Ajaran Buddha memilih jalan tengah, dimana kita diajarkan untuk mengkonsumsi sesuai dengan apa yg kita butuhkan, kita bisa memilih produk secara bijak & dengan mempertimbangkan dampak terhadap orang lain dan bumi kita.

Buddha mengajarkan Jalan Tengah dan Delapan Faktor Ariya menawarkan petunjuk yang lebih men dukung Kehidupan. Dengan mengikuti Majjhima Patipada dan Hasta Ariya Marga, kita dapat berpartisipasi dalam mengurangi problem Pemanasan Global, yaitu :
a.    Pandangan Benar.
Mengajarkan bagaimana agar kita dapat lebih sadar, sebagaimana kita mengetahui perubahan cuaca  yang terjadi dan akibat pengaruhnya terhadap kita semua?

b.    Pikiran Benar
Apakah kita akan menjadi bagian dari persoalan, atau bagian dari pemecahan persoalan (jalan keluar) yang ada?

c.    Perbuatan  Benar
Kita semua mempunyai peranan dalam tantangan ini, Apa tantangan anda? Perubahan apa yang dapat kita perbuat?

d.    Daya Upaya Benar
Tindakan apa yang paling positif untuk di lakukan, dalam keseharian dan di dalam masyarakat? Bagaimana agar kita terlibat dengan yang lain agar upaya yang dilakukan dapat berakibat lebih efektif?

e.    Ucapan Benar
Bagaimana agar kita dapat menginfor-masikan dan terlibat dengan masyarakat lain agar dapat terus melangkah maju kedepan sambil membangun jembatan dari kebiasaan masa lalu menuju sebuah model baru yaitu praktek bisnis yang akrab dengan lingkungan & kehidupan.

f.    Penghidupan Benar
Keteladanan dalam memenuhi kewajiban hidup sehari hari, dapat diwujudkan dengan tanggung jawab secara konsisten terhadap masa depan dengan mengedepankan Lingkungan yang Bersih dan lebih bergantung kepada enerji yang bersahabat.

g.    Perhatian Benar
Bagaimana kita dapat tetap bersikap tenang, peduli dan penuh perhatian kepada yang lain didalam semua aspek kehidupan di bumi ini, meskipun kepada mereka yang tidak berwawasan masa depan yang lebih baik

h.    Konsentrasi  Benar
Dengan Ketenangan Batin, kita memusatkan Hati dan Pikiran, sehingga kita mendapatkan cara yang terbaik untuk menjelaskan dan bertindak terhadap masalah Pemanasan Global dan Pengaruhnya.

Shakyamuni Buddha juga mengajarkan tentang Pratitya Samutpada yaitu tentang Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan, karena itu setiap Pikiran, setiap Tindakan yang kita lakukan selalu diikuti oleh Konsekuensi. Apa yg kita lakukan hari ini mempunyai Pengaruh Terhadap Masa Depan Global kita – Setiap Pemikiran, Setiap Perbuatan, sekecil apapun, mempunyai pengaruh yang besar. Semua Tergatung kepada kita untuk memilih Pikiran dan Tindakan apa yang akan kita tempuh.

Jikalau kita dapat mengikuti aturan yang sederhana ini maka kita bisa menjadi bagian dari Kampanye Stop Pemanasan Global

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :
1.    Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik
dalam keadaan standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak. Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN menggunakan bahan bakar fosil penyumbang besar emisi).
2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).
3. Bersihkan lampu
(debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).
4.     Jika terpaksa memakai AC, tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24°C.
5.    Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).
6.      Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.
7.    Tanam Pohon di lingkungan sekitar Anda.
8.    Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik     ketimbang memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluar kan emisi karbon. Gunakan kendaraan umum. (untuk mengurangi polusi udara).
10.     Hemat Penggunaan Kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).
11. Say No to Plastic.  Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas       berbahaya ketika dibakar. Atau Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.
12   Jangan membakar sampah, terutama sampah plastik
    Sebarkan berita ini kepada orang di sekitar Anda, agar  mereka turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.