Dalam buku Bodhisattva vows disebutkan secara garis besar motivasi manusia terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
1.    Motivasi tahap awal
2.    Motivasi tahap menengah
3.    Motivasi tahap akhir

Adapun yang dimaksud motivasi tahap awal yaitu motivasi yang dimiliki manusia pada umumnya. Pada motivasi tahap awal terbagi lagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu motivasi tahap awal yang sempit, motivasi tahap awal sedang dan motivasi tahap awal tinggi.
A.    MOTIVASI AWAL
1.    Motivasi tahap awal yang sempit
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : orang yang hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Dalam usaha mencapai tujuan hidupnya dia tidak memiliki kebimbangan atau keraguan untuk menyakiti makhluk lainnya. Dia hanya memikirkan kepentingan sendiri. Kebahagiaan yang dikejar hanya tertampak di depan matanya saja. Meskipun mereka melakukan perbuatan jahat untuk mencapai tujuan, mereka tidak peduli. Sehingga dalam mencapai kebahagiaan tersebut sering kali mereka merugikan orang lain. Apa yang hanya dipikirkan adalah kebahagiaan dirinya sendiri. Pada motivasi tahap awal yang sempit ini tidak memiliki nilai kehidupan religius.

Orang-orang yang tergolong dalam motivasi tahap awal ini adalah mereka yang melakukan serangkaian perbuatan jahat, baik menyakiti, membunuh, menyiksa makhluk lain, mencuri harta kepunyaan orang lain, melakukan perbuatan asusila secara paksa. Semua untuk kebahagiaan mereka semata.

Harta yang dikumpulkan dengan cara salah tersebut mereka habiskan dengan foya-foya dan mabuk-mabukkan. Setelah habis mereka melakukan serangkaian kejahatan lagi.

Dalam melakukan kejahatan tersebut mereka tidak memiliki rasa penyesalan sama sekali, yang ada dipikirannya bagaimana dia memuaskan nafsu keinginan rendah tersebut. Kalau ada orang yang mencoba menasehati, mereka akan menganggap orang tersebut sebagai duri dalam daging hanya menghalangi dan mengganggu kesenangannya. Kebaikan orang lain tidak ada arti baginya. Bahkan terkadang orang yang telah berbuat baik dan berjasa, mereka pun tidak sungkan untuk menyakiti apalagi orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali. Kalau niat jahatnya dihalangi mereka akan bertambah menjadi-jadi.

Tidak ada jasa dan kebaikan dalam dirinya. Dia pun tidak memperdulikan hal tersebut. Seperti sering kita temui adanya anak yang begitu jahat dan tidak berbakti kepada orang tuanya, memaksa ibunya yang telah bekerja keras mengumpulkan harta dengan hasil keringat sendiri diminta dan dipaksa untuk diserahkan padanya agar dapat membeli minuman keras. Sementara dia sendiri meskipun memiliki tubuh yang kuat tidak bekerja. Menghabiskan waktu bermalas-malasan saja di rumah atau bersama teman-temannya berpesta pora.

Ada lagi orang yang telah dibesarkan dengan susah payah dan diberi kepercayaan memegang jabatan tertentu di suatu perusahaan. Orang ini berani menyalahgunakan kepercayaan tersebut, menggelapkan uang perusahaan dimana pemiliknya adalah orang yang baik hati dan berjasa dalam hidupnya. Atas perbuatannya tersebut membuat perusahaan pemiliknya mengalami kerugian yang besar.

Hal lainnya adalah orang yang menggunakan dana sosial yang telah dikumpulkan dengan susah payah, untuk kegiatan/ kepentingan umum dipakai untuk kepentingan sendiri. Padahal dana tersebut sangat diperlukan untuk realisasi kegiatan sosial.

2.    Motivasi tahap awal sedang
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : tidak dapat disangkal semua orang menghendaki kebahagiaan. Namun dalam mencapai kebahagiaan tersebut pada motivasi tahap awal yang sedang sedikit ada kemajuan. Di samping melakukan perbuatan jahat mereka pun sudah melakukan perbuatan baik. Bahkan antara perbuatan jahat dan baik terkadang seimbang.

Pada motivasi tahap ini, terkadang orang melakukan tindakan kejahatan karena terpaksa oleh keadaan. Seperti dia telah dipecat dari suatu perusahaan. Sementara dia memiliki anak dan isteri. Anaknya membutuhkan susu untuk pertumbuhan. Sedangkan dia beserta keluarga harus makan. Untuk beberapa bulan dia dapat menghidupi keluarga dari uang ganti rugi perusahaan. Namun saat uang tersebut telah habis dia meminjam pada beberapa tetangga. Kejadian ini hanya berlangsung singkat. Sementara pekerjaan tidak kunjung didapat.

Orang-orang tidak ada yang mau lagi meminjamkan dia uang. Karena pinjaman sebelumnya belum dibayar sebaliknya meminta pinjaman yang baru. Bagaimana dia dapat melunasinya !” Akhirnya karena desakan keluarga dan anaknya yang menangis terus menerus, dia menjadi gelap mata. Dia pun mulai mencuri barang milik orang lain untuk membiayai hidupnya tersebut.

Dalam hal ini kita melihat perbuatan yang dilakukannya didorong keadaan mendesak dan hasil perbuatan negatif tersebut dipergunakan untuk kebaikan yaitu membiayai dan menghidupi keluarganya. Di sini masih ada nilai positif.

Ada lagi cara mengumpulkan harta dengan membohongi orang lain. Sehingga dijadikan sebagai profesi. Meskipun demikian dia pun masih melakukan perbuatan baik. Masih mau membantu orang yang kesusahan. Satu sisi dia melakukan perbuatan negatif pada sisi lain dia pun mengumpulkan kebajikan. Inilah motivasi tahap awal yang sedang.

3.    Motivasi tahap awal yang tinggi
Mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : orang yang tidak hanya memikirkan kebahagiaan kehidupan saat ini saja. Mereka telah mengerti adanya kehidupan mendatang. Oleh karena itu mereka pun melakukan serangkaian perbuatan baik agar terlahir di alam bahagia. Pada motivasi tahap awal yang tinggi ini sudah memiliki nilai religius.

Orang yang berada pada motivasi tahap ini mereka suka melatih kemurahan hati, melatih disiplin moral, sering melakukan kegiatan ritual dan perbuatan kebaikan lainnya. Hidupnya tidak hanya diisi untuk mengejar harta, kedudukan dan kekayaan semata untuk kehidupan ini. Tetapi dia pun meluangkan waktu untuk melakukan kebaikan demi kehidupan mendatang yang lebih baik.

Dia pun telah memiliki pengertian bahwa segala keadaan yang berkondisi adalah tidak kekal. Begitu pun dengan harta yang telah dikumpulkan kalau dia meninggal tidak dapat dibawa. Karena itu dia tidak memfokuskan secara penuh pada harta, kedudukan dan kekuasaan.

Seperti diajarkan dalam agama orang yang berbuat baik mereka akan terlahir di alam surga. Sedangkan orang yang berbuat jahat akan terlahir di alam neraka. Dengan memiliki keyakinan tersebut dia terus melakukan kebaikan dan menghindari dari kejahatan.

Sekarang coba kita renungkan kita termasuk ke dalam kelompok motivasi yang mana dari ketiga motivasi awal tersebut !” Kita sendiri yang mengetahui secara pasti. Terkadang dalam kondisi yang tidak stabil atau kesadaran menurun orang yang telah berada dalam motivasi tahap awal yang tinggi bisa menuju motivasi tahap awal yang rendah. Sehingga tidaklah menjadi jaminan penampilan luar atau kebiasaan sederhana yang kita lihat sepintas menunjukan orang berada dalam motivasi tertentu. Hal ini harus kita pahami bahwa kehidupan ini penuh dengan perubahan.

Oleh karena ini Buddha menekankan latihan meditasi agar kita selalu sadar, waspada dan penuh perhatian terhadap apa yang terjadi. Tidak membiarkan pikiran berkelana secara liar dan tidak menentu. Dengan cara begini kita dapat menekan perbuatan negatif.

B.    MOTIVASI TAHAP MENENGAH
Ciri-ciri dari motivasi tahap menengah sebagai berikut : orang yang telah mengerti bahwa betapa berharganya kehidupan manusia. Terlahir sebagai manusia merupakan berkah utama. Suatu kesempatan yang langka dan luar biasa. Karena tidak semua makhluk dapat dengan mudah terlahir sebagai manusia.

Dalam ilmu biologi disebutkan untuk terlahir sebagai calon manusia, sperma harus berjuang di antara satu juta sperma lainnya. Itu pun tidak menjadi jaminan bahwa sperma yang ada selalu berhasil dan membuahi telur sehingga terbentuklah calon makhluk. Kalau kita telah terlahir sebagai manusia kita adalah orang yang unggul pada permulaan dan yang paling beruntung di banding dengan lainnya.

Dalam Sutra diuraikan Kesempatan untuk terlahir sebagai manusia diumpamakan seperti kesempatan seekor kura-kura untuk memasukkan sebuah gelang tepat ke lehernya, sementara ia muncul kepermukaan setiap seratus tahun sekali dan gelang karet terus bergerak terbawa ombak (Samyutta Nikaya V : 457 )

Buddha membandingkan jumlah manusia bagai sedikit pasir yang tercolek dengan ujung kuku tangan-Nya, sedangkan yang terlahir bukan sebagai manusia di alam-alam lain sebanyak pasir di atas bumi (Samyutta Nikaya II : 263)

Sangatlah sulit untuk terlahir sebagai manusia, tetapi sangatlah mudah juga untuk lenyap. Oleh karena itu kita harus menggunakan sebaik-baiknya. Lebih lanjut betapa berharganya kehidupan manusia dapat kita lihat dalam buku The Joyfull  Path of the Good Fortune disebutkan : Kelahiran sebagai manusia dikatakan memiliki 18 keistimewaan, yaitu : 8 ciri pembebasan dan 10 Keberuntungan

Adapun 8 ciri pembebasan terdiri dari :
–    4 (empat) pembebasan dari kelahiran di luar manusia, yaitu : tidak terlahir di alam neraka, tidak terlahir di alam Setan kelaparan, tidak terlahir sebagai hewan, tidak terlahir sebagai dewa
–    4 (empat) pembebasan dari kondisi yang yang menghambat/ menghalangi untuk latihan spiritual, yaitu : Negara tidak mengenal ajaran Agama, Negara di mana tidak ada ajaran Buddha Dharma, Tidak memiliki tubuh Fisik maupun mental cacat,
Dimana pandangan salah berkembang

1.    Pembebasan dari kelahiran di alam neraka
Makhluk yang terlahir di alam neraka keadaan lingkungan dan tubuh jasmaninya penuh dengan penderitaan. Sehingga tidak memungkinkan mereka dapat mendengarkan, merenungkan atau melaksanakan Dharma.

Pada saat kita mengalami penderitaan fisik, kita tidak dapat mendengarkan Dharma dengan baik, membaca buku-buku Dharma atau duduk bermeditasi. Begitu pula makhluk-makhluk yang terlahir di alam neraka mengalami siksaan luar biasa daripada apa yang kita alami di alam manusia. Mereka mengalami penderitaan tersebut dalam kurun waktu yang tidak terhitung. Alangkah beruntungnya kita tidak terlahir di alam neraka.

Janganlah kita menganggap kelahiran di alam neraka sebagai hal biasa dan tidak perlu diperhatikan. Kalau kita telah terlahir di alam itu sangat sulit untuk ke luar darinya.

2.    Pembebasan dari kelahiran di alam setan kelaparan
Makhluk yang terlahir di alam setan mereka mengalami kelaparan dan kehausan. Saat kita lapar kita tidak dapat berpikir banyak untuk latihan spiritual dan tidak dapat mengembangkan diri untuk mendengarkan, membaca buku Dharma. Makhluk-makhluk di alam setan mengalami rasa lapar dan haus setiap saat. Sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan Dharma. Alangkah beruntungnya kita tidak terlahir di alam setan.
Kalau kita bicara mengenai setan ternyata di negara yang satu dengan negara lainnya memiliki perbedaan dalam perwujudannya. Di Indonesia, setan diilustrasikan dengan memakai pakaian putih yang sering disebut dengan pocong. Apabila kita melihat bentuk penggambaran tersebut kita menjadi merinding karena ketakutan.   

Kalau sosok pocong tersebut ditonton oleh orang Barat, mereka bukannya takut malahan tertawa terbahak-bahak dan berkomentar bentuk setannya lucu seperti badut. Pengilustrasian di Barat, mereka memakai pakaian jas dengan kerah berdiri dan giginya bertaring. Ini baru seram bagi mereka.

Tetapi penggambaran seperti itu bagi orang Tionghoa, mereka pun ketawa. Bentuk setannya terlalu rapi seperti orang mau ke kantor saja. Bentuk penggambaran mereka adalah memakai pakaian dinasti kerajaan dan meloncat-loncat. Penampilan seperti itu pun untuk negara lainnya adalah lucu.

Terlepas dari hal tersebut, umat Buddha tidak mempersoalkannya. Mereka adalah makhluk yang perlu kita bantu bukan kita takuti atau benci. Mereka sama seperti kita. Mereka terlahir di alam tersebut karena tumpukkan karma kebajikannya kurang. Lebih banyak bobot karma buruk atau faktor karma lainnya.

Apabila kita lihat waktu tanpa awal dalam siklus perjalanan hidup ini kemungkinan mereka pernah memiliki hubungan keluarga atau hubungan yang dekat dengan kita. Oleh karena itu selagi kita memiliki kesempatan, seyogyanya kita dapat mendedikasikan kebajikan untuk mereka pula.

Sehingga tiada alasan yang tepat bagi kita untuk menghindar dan menganggap mereka sebagai makhluk rendah yang tidak perlu di tolong maupun dianggap sebagai sumber kejahatan. Hal ini tidaklah bijaksana.

3.    Pembebasan dari kelahiran di alam hewan
Meskipun ada beberapa hewan pandai mencari makanan dan dapat menuruti kehendak kita, seperti anjing. Tetapi tidak memungkinkan bagi mereka untuk melatih pikiran ke tingkat pencerahan. Karena hewan mengalami kebingungan dan kebodohan yang luar biasa. Bahkan kita mendorong mereka untuk bermeditasi, mereka tidak akan mampu sepenuhnya memperhatikan pesan kita. Untuk mereka nasehat spiritual kita bagaikan tiupan angin ke telinganya. Alangkah beruntungnya kita tidak terlahir di alam hewan.

Oleh karena itu dengan alasan apapun janganlah kita membiarkan diri kita berharap untuk terlahir di alam hewan. Terkadang kita temui orang-orang sepintas lalu melihat hewan hidup enak dengan makanan berlimpah dan disayangi oleh majikannya. Mereka pun mengharapkan untuk terlahir sebagai seekor hewan agar dapat mendapat perlakuan seperti itu.

Mereka tidak pernah melihat lebih jauh, hewan yang mereka lihat adalah hewan yang beruntung tetapi banyak pula hewan yang tidak beruntung dan hidup dari mengais-ngais sampah dan selalu diusir oleh orang-orang. Bahkan terkadang sering dilempari dengan batu-batuan oleh anak kecil maupun orang dewasa. Sehingga tidaklah bijak kita yang telah terlahir sebagai manusia memiliki pikiran yang bodoh demikian dengan hanya melihat sepintas lalu saja.

Pada hewan tertentu hidupnya dari memangsa hewan lainnya, hewan ini dipenuhi sifat kebencian dan kebengisan yang sangat tinggi. Kesempatan bagi mereka terlahir di alam yang lebih tinggi lagi bertambah sangat sulit dibanding hewan jenis lainnya.

Kalau kita cermati cerita tersebut, kita tidak boleh menganggap suatu perbuatan negatif sebagai hal yang sepele. Terkadang hal yang kita anggap kecil dapat mengakibatkan hal yang besar dan mempengaruhi kehidupan kita lebih jauh. Oleh karena itu sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan hendaknya kita tidak melakukan perbuatan jahat.

Seperti seorang pencuri ayam yang melakukan kejahatannya. Kejahatan ini terungkap. Dia di tangkap dan dihajar masa sampai babak belur. Wajahnya sampai tidak berbentuk. Sementara orang yang melakukan kejahatan berat seolah-olah hidupnya tanpa ada gangguan atau rintangan yang berarti.

4.    Pembebasan dari kelahiran di alam Dewa
Makhluk-makhluk yang terlahir di alam dewa mengalami usia yang panjang. Mereka hanya mengalami dua pikiran yang halus, yaitu saat mereka menyadari kelahiran sebagai dewa dan saat mereka mau meninggal.

Sisanya kehidupan mereka dihabiskan seperti keadaan mimpi yang mana seperti batu tanpa pikiran, tidak mencerap apa-apa. Meskipun hidupnya panjang mereka tidak dapat menarik manfaat untuk praktek Dharma. Saat mereka meninggal mereka terlahir kembali di alam lain.

Selain hidup panjang dewa-dewa di alam berbentuk juga tidak berkesempatan melaksanakan Dharma karena mereka isi kehidupannya dalam keadaan ketenangan. Mereka tidak mengalami penderitaan seperti kita.

Mereka tidak pernah melihat penderitaan makhluk-makhluk lain sehingga mereka tidak punya kesempatan untuk mengembangkan realisasi, belas kasih maupun Boddhicitta. Dalam Dharma terlahir di alam dewa sepenuhnya tidak berarti,  alangkah beruntungnya kita tidak terlahir di alam Dewa.

Dari hal tersebut di atas kita dapat memahami, Mengapa alam dewa tidak menjadi prioritas kelahiran berikutnya bagi umat Buddha. Malahan sebelum pencapaian realisasi kita berharap agar dapat terlahir di alam manusia dan selalu dekat dengan Buddha Dharma. Tidak salah jalan dan selalu memiliki kesempatan untuk menyempurnakan diri. Bahkan pada beberapa Guru Besar Tibet, seperti para lama dan Rinpoche mereka selalu berharap terlahir di alam manusia. Meskipun kalau kebajikannya memungkinkan mereka terlahir di alam bahagia. Namun mereka bertekad dan mengarahkan hidupnya terlahir sebagai manusia agar dapat mengajarkan Dharma dan menyempurnakan diri.

5.    Pembebasan dari kelahiran di Negara tidak mengenal ajaran Agama
Apabila kita terlahir di negara tidak punya hukum (liar/ buas) dan tidak aman atau di mana tidak ada toleransinya. Hal ini tidak memungkinkan kita untuk menjumpai dan melaksanakan Dharma.

Ada beberapa tempat di bumi ini tidak ada agama atau orang-orang dapat ditahan bahkan disiksa apabila mereka melaksanakan ajaran agama.  Ada banyak tempat dimana orang tidak punya kesempatan bertemu dengan guru pembimbing spiritual yang dapat melatih pikiran mereka. Alangkah beruntungnya kita tidak terlahir di sana.

6.    Negara dimana tidak ada ajaran Buddha Dharma
Seperti apa yang dikatakan oleh Bhikkhuni Dai Ma , saat membabarkan Dharma di Vihara Buddhayana Surabaya. Beliau mengatakan perjalanannya ke Indonesia merupakan yang pertama kali. Apa yang Beliau dengar di luar seakan-akan tidak ada ajaran Buddha. Ternyata sampai saat di Indonesia, beliau sangat kaget dan senang masih ada Agama Buddha. Meskipun jumlahnya sedikit dibanding dengan yang lain, agama Buddha masih diberi kesempatan untuk berkembang dan Umat Buddha dapat melaksanakan ajaran Buddha. Lebih jauh lagi keberadaannya diakui oleh pemerintah sebagai salah satu agama di Indonesia. Oleh karena itu, kita harus berbahagia dan menyukuri masih memiliki kesempatan untuk belajar Buddha Dharma.

7.    Pembebasan dari kelahiran fisik maupun mental yang tidak sempurna
Apabila kita terlahir dengan mental yang tidak berfungsi dengan baik, tidak memungkinkan kita mengerti dan melaksanakan Dharma dengan mudah begitu pula fisik yang tidak lengkap mempersulit kita untuk berhubungan dengan ajaran

Jika kita terlahir buta kita tidak dapat membaca buku-buku Dharma dengan mudah. Jika kita tuli kita tidak dapat mendengarkan Dharma. Begitu pun fisik lain yang tidak sempurna menghalangi kita mengunjungi pusat Dharma, Vihara atau meditasi. Alangkah beruntungnya kita terbebas dari mental dan fisik yang tidak sempurna.

Pada umumnya kita tidak pernah menyukuri dengan keadaan yang kita terima. Sebagian selalu melihat ke atas dan ke samping. Mereka melihat orang-orang sukses, mengapa dirinya tidak. Orang-orang kaya, mereka tidak. Tetapi mereka tidak melihat ternyata di sekitarnya ada orang dengan segala keterbatasan fisik dan mental tapi dapat bertahan dan berprestasi dengan baik. Sepatutnya dengan fisik dan mental yang lengkap dan sempurna kita lebih mudah untuk meraih yang kita harapkan serta memberikan sumbangsih yang lebih besar bagi kesejahteraan semua makhluk.

8.    Pembebasan dari Pandangan salah
Memiliki pandangan salah merupakan halangan utama untuk mempraktekkan Dharma karena ia menghalangi kita untuk mengembangkan keyakinan pada Dharma. Keyakinan sendiri merupakan dasar pencapaian setiap latihan spiritual. Alangkah beruntungnya kita terbebas dari pandangan salah.

10 keberuntungan
5 (lima) keberuntungan pribadi, yaitu : Terlahir sebagai manusia, Terlahir dan berdiam di tempat dimana ajaran Dharma berkembang, Terlahir dalam mental dan fisik yang sempurna, Tidak melakukan dari 5 perbuatan jahat yang sangat berat. Memiliki keyakinan pada Tri ratna

5 (lima) keberuntungan tempat yang diharapkan, yaitu : Terlahir dimana Buddha ada, Terlahir dimana Buddha mengajarkan ajaran, Terlahir dimana ajaran Dharma masih dibabarkan, Terlahir dimana orang-orang masih melaksanakan Dharma, Terlahir dimana ada para pelindung Dharma dan Donatur untuk para praktisi Dharma

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, dalam beberapa tulisan disebutkan mengenai masa kurun masa Dharma yang terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu : Masa Kejayaan, Masa Peralihan dan Masa Kemunduran.

Pada Masa Kejayaan berlangsung pada saat Buddha membabarkan ajaran pertama kali, sampai 500 tahun kemudian. Pada masa ini, orang-orang sangat mudah dan cepat mempelajari, memahami, mempraktekkan dan merealisasi Dharma. Karena semua sumber yang murni masih tersedia dan mendukung untuk praktek Dharma sepenuhnya.

Orang dapat merealisasi langsung meskipun hanya dengan mendengar satu atau beberapa bait Dharma yang telah dibabarkan Buddha. Seperti lima orang pertapa yang pertama kali mendengarkan Dharma secara langsung dari Buddha. Mereka dapat mencapai tingkatan kesucian tertentu pada saat tersebut.

Begitu pula dengan Sariputta, Beliau dapat mengerti dan merealisasi penyampaian Dharma secara tidak langsung dari Bhikkhu Asajji. Pada saat tersebut Bhikkhu Asajji sedang mengulang Dharma yang telah Beliau terima dari Buddha dan melafalkan terus menerus dua baris Dharma. Adapun bunyinya sebagai berikut segala yang timbul ada sebab dan sebabnya telah direalisasi oleh Buddha. Sariputta yang mendengar hal ini langsung mengerti dan mencapai tingkatan kesucian tertentu.

Dia pun menghampiri Bhikkhu Asajji untuk diuraikan lebih lanjut. Namun Bhikkhu ini hanya tahu sebatas itu saja dan menganjurkannya untuk langsung menemui Buddha.

Selain itu para bhikkhu yang telah mendapat dasar meditasi dari Buddha, mereka langsung melaksanakan teknik meditasi yang telah disampaikan tersebut dalam waktu yang singkat mereka dapat mencapai realisasi Dharma dan tingkatan kesucian.

Pada Kisah-kisah Zen, kita dapat membaca orang-orang dengan mudah mencapai tingkatan kesucian. Terkadang Guru-guru Zen hanya dengan beberapa perbuatan saja dapat membuat muridnya langsung merealisasi Dharma.

Oleh karena itu masa tersebut dikatakan sebagai masa kejayaan. Sehingga mereka yang terlahir di sana memiliki karma baik dan dapat merealisasi dengan cepat.

Setelah berlalunya masa kejayaan maka timbul masa peralihan. Pada masa ini berlangsung sampai 1.000 tahun kemudian. Pada masa ini untuk merealisasi Dharma dibutuhkan usaha yang keras. Pembabaran Dharma belum dapat membuat orang langsung merealisasi Dharma. Meskipun orang telah melaksanakan meditasi dibutuhkan waktu yang lama dalam merealisasi kebenaran. Tidak seperti masa sebelumnya dengan mudah mencapai hasil.

Pada saat ini ajaran yang disampaikan cenderung membutuhkan praktek meditasi  dengan usaha keras dan memakan waktu relatif lama. Sedangkan pembabaran Dharma yang telah didengarnya masih diperlukan praktek lebih lanjut. Tidak bisa hanya dengan mendengar saja orang langsung terealisasi.

Sedangkan pada masa kemunduran berlangsung 10.000 tahun kemudian. Pada masa ini meskipun orang-orang dengan mudah mendengarkan, mendapatkan sumber-sumber ajaran, guru-guru Spritual atau tempat pelatihan Dharma. Bahkan untuk mendengarkan Dharma dapat dilakukan di rumah dengan hanya menghidupkan kaset. Malahan saat mendengar dapat sambil tidur atau melakukan aktivitas lainnya. Penghargaan terhadap permata yang tak ternilai mulai menurun. Kalau dilihat pada pada Masa awal orang mendengarkan Dharma dengan penuh rasa perhatian, ketulusan dan keseriusan. Kemantapan dalam perhatian dan kewaspadaan mulai menurun. Sehingga Dharma yang telah mereka dengar belum dapat membuat pikiran orang langsung tercerahkan. Menjalankan Meditasi pun membutuhkan usaha yang keras. Karena itu metode yang diberikan pada jaman ini yang relatif lebih mudah untuk dilaksanakan dan mencapai hasil, yaitu dengan pelafalan mantra atau nama Buddha.

Karena untuk melaksanakan meditasi banyak alasan yang timbul. Seperti kesibukan kerja, tidak mengerti teknik yang benar, tempat latihan tidak mendukung dan berbagai alasan lainnya. Bahkan saat bermeditasi menghadapi bentuk-bentuk pikiran telah membuat mereka menyerah, jenuh dan kelelahan. Semangat untuk menghayati dan mendalami Dharma mulai menurun seiring dengan aktivitas yang dijalani. Bahkan mereka mencari cara instan untuk mewujudkannya. Apakah dimungkinkan !”

Pada akhir masa kemunduran ini ditandai semua teks Buddhis hilang, jubah bhikkhu berubah warna menjadi putih. Semua reliks Buddha, seperti gigi, tulang, kuku dan rambut hilang dari tempat relics, stupa dan pagoda. Tempat Buddha mencapai pencerahan dibawah pohon Bodhi, Bodhgaya akan lenyap setelah diberi penghormatan terakhir oleh para dewa.

Kembali lagi pada motivasi tahap menengah ini mereka telah mengerti betapa berharganya kehidupan manusia. Sehingga mereka tidak ingin menyia-nyiakan begitu saja. Meskipun  mereka memiliki kemampuan dapat melihat 5 (lima) kelahiran berikutnya. Semua kelahiran di alam bahagia dengan segala berkah, kekuasaan, kejayaan dan kekayaan. Namun hal tersebut masih belum cukup buat mereka. Mengapa ?” Karena mereka tidak mengetahui bagaimana dengan kehidupan keenamnya atau seterusnya. Apakah mereka dapat tetap mempertahankan kebahagiaan dan segala hal yang telah diperolehnya tersebut ?” Tidak ada yang dapat memberikan jaminan. Sedikit kesalahan saja dapat membawa pada penderitaan yang panjang.

Oleh karena itu mereka bertekad menjadi seorang Arahat. Merealisasi kebenaran dan tidak ingin terlahir kembali di alam manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut mereka menjalani kehidupan tidak berumah tangga, menjadi seorang pertapa baik di gua, gunung maupun di hutan-hutan. Menjalani sisa kehidupan dalam merealisasi Dharma. Dengan segala keadaan sebagai pertapa mereka jalani penuh dengan kedisiplinan yang tinggi dan kebahagiaan. Melepaskan segala kemelekatan dalam meraih tujuan hidup yang suci bagi mereka.

C.    MOTIVASI AKHIR
Pada motivasi akhir, cirinya orang telah memiliki pengertian yang mendalam. Memang benar kelahiran sebagai manusia merupakan berkah yang termulia. Sehingga tidak boleh disia-siakan kesempatannya.

Saat mau terlahir maupun telah terlahir sebagai manusia ternyata banyak orang yang telah berjasa bagi kita. Sehingga kita dapat mengalami keadaan seperti ini. Orang yang paling berjasa pertama kali adalah ibu kita, selama sembilan bulan sepuluh hari, dia harus mengalami penderitaan panjang dan luar biasa. Apabila kita lihat proses sebelum kita dilahirkan di dunia ini. Ibu kita semula tubuhnya terawat dengan baik, saat mengandung dia tidak memperdulikan lagi. Satu-satunya pikiran yang timbul bagaimana kita dapat terlahir dengan sehat dan tidak kekurangan apapun. Selama masa kandungan dengan sangat hati-hati dan telaten agar kita dapat terlahir selamat.

Saat kita telah lahir tidak berarti tugasnya pun telah berakhir. Dia tetap menjaga, merawat dan memelihara. Membekali dengan segala kebutuhan dan kepandaian agar kita tumbuh menjadi manusia yang hebat. Meskipun terkadang dalam membesarkan diri kita. Keadaan ekonomi tidak mendukung, dia dengan tanpa malu meminjam uang dari tetangga agar kita dapat hidup dan mendapat pendidikan yang layak. Meskipun begitu lapar melihat kita belum makan, makanan yang ada ditangannya diserahkan kepada kita. Agar kita tidak menjadi lapar.

Perjuangannya tidak berhenti begitu saja. Meskipun beliau telah menjadi seorang nenek yang sangat tua dan lunglai beliau tetap saja bertanya bagaimana keadaan kita. Selama hayat masih dikandung badan, beliau akan terus memperhatikan dan merasa masih mempunyai tanggung jawab yang belum selesai.

Di samping ibu adalah ayah, dengan segala perjuangan menghidupi dan memberi nafkah kepada kita. Beliau pun tidak pernah mengeluh atau merasa menyesal dalam membesarkan kita. Meski tindakan yang kita lakukan terkadang menyakiti hati mereka. Mereka tetap menyayangi dan mengasihi kita.

Selain orang tua, saudara-saudara  kita pun ikut merawat dan menjaga kita. Kalau ada yang mengganggu mereka akan menghalau dan menghadapinya terlebih dahulu. Meskipun saudara kita terkadang menghadapi orang yang menganggu orangnya jauh lebih besar, kuat dan seram, mereka mereka tidak gentar atau merasa ketakutan. Mereka tetap membela dan melindungi kita agar kita tidak diganggu dan disakiti siapapun.

Kemudian kerabat kita, teman-teman kita. Bahkan satu sosok yang sering kali kita lupakan dan menganggap mereka sebagai orang yang tidak berarti atau berharga. Sehingga kita tidak pernah mau memikirkannya, yaitu musuh. Dalam keadaan tertentu mereka secara tidak langsung ikut andil dalam membina fisik dan mental kita menghadapi realita kehidupan ini.

Musuh dengan kata-kata yang pedas, tajam dan menyakitkan mereka mengucapkan kesalahan-kesalahan dan kebodohan yang telah kita lakukan. Yang mana hal tersebut sangat sulit kita peroleh dari tempat yang lain. Secara tidak langsung mereka mengajarkan kita sabar, waspada dan berani menghadapi tantangan di depan mata. Sehingga kita ada dengan segala kemampuan sampai saat ini dengan segala pengalaman hidup.

Apabila kita hitung jumlah orang yang berjasa dengan diri kita sendiri. Ternyata jumlah orang yang sangat berjasa dalam hidup kita ini lebih banyak. Oleh karena itu kita tidak akan melupakan jasa mereka tersebut. Kita tidak menginginkan mereka hidup menderita. Pada motivasi tahap akhir ini mereka bertekad untuk mencari obat mengatasi penderitaan hidup semua makhluk. Dirinya hanya seorang, sementara makhluk yang ada jumlahnya tidak terbatas. Kalau kita hanya memikirkan kebahagiaan sendiri tentunya tidak pantas dan tidak bijaksana. Sementara di sekeliling hidup kita masih banyak orang yang menderita dan membutuhkan bantuan kita. Oleh karena itu tekadnya ingin menjadi seorang Buddha. Dengan menjadi Buddha mereka dapat membantu makhluk lain tanpa batas.