Dalam penyempurnaan diri menjadi Buddha, seorang Bodhisattva yang bertekad untuk menolong semua makhluk tanpa batas, mereka selalu melatih enam kesempurnaan dalam setiap saat, setiap waktu dalam kehidupannya yang tak terbatas. Seperti Buddha Gotama, sebelum menjadi manusia Buddha, dalam kehidupannya Beliau selalu menyempurnakan diri dan mengabdikan hidupnya demi kebahagiaan semua makhluk apapun. Mereka tidak akan merasa bahagia kalau ada makhluk lain yang mengalami penderitaan. Berbagai upaya mereka lakukan agar makhluk-makhluk yang menderita dapat diringankan dari beban penderitaan atau terlepas dari Roda Samsara. Sehingga dapat mencapai kesucian mutlak.

Enam latihan tersebut, meliputi : kesempurnaan dalam kemurahan hati, perbuatan baik, kesabaran, semangat, ketenangan, perhatian dan kebijaksanaan.

1.    Kesempurnaan dalam Kemurahan Hati (Dana Paramita)
Dalam melatih kemurahan hati sering kali kita mendengar keluhan, “Bagaimana saya dapat berdana untuk orang lain, memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri saja belum cukup !” Bukannya saya yang berdana tetapi saya yang menerima pemberian dana dari orang lainnya.

Menghadapi pernyataan tersebut. Ada suatu ulasan yang sangat menarik disampaikan oleh Master Shi Yun, Beliau menjelaskan berdana tidak harus selalu uang atau materi semata. Kita dapat memberikan dana dalam banyak bentuk yang penting ada niat untuk memberi.

Kalau kita memiliki materi yang cukup atau berlebih, kita dapat dengan mudah memberikan materi kepada orang-orang yang susah dan membutuhkan. Mungkin materi yang kita berikan tersebut bagi kita tidak terlalu berarti tetapi bagi orang lain belum tentu demikian. Terkadang materi yang kita berikan tersebut, itulah yang memang merupakan harapan mereka atas belas kasih dari kita. Karena ada orang yang kalau tidak dibantu mereka akan bertambah susah dan menderita. Hal ini memang sangat menyedihkan. Inilah realita kehidupan.

Kita tidak boleh berpikiran yang sempit. Apa yang dialami dan terjadi pada mereka itu adalah karma mereka dan mereka yang harus menanggung sendiri. Mengapa saya harus perduli. Lagi pula saya tidak ada hubungan keluarga atau saudara sama sekali dengan mereka. Malahan di antara mereka ada yang sering menyusahkan hidup orang lain.

Bagaimapun mereka juga manusia. Jangankan manusia, apabila kita melihat hewan sakit kita masih memelihara, merawat dan mengobati. Oleh karena itu, kita patut tetap membantu. Kalau kita mengalami hal seperti itu kita pun mungkin membutuhkan bantuan yang lain. Kita hidup tidak sendirian tetapi ada banyak makhluk yang ada di sekeliling kita. Satu sama lain memiliki karma yang berbeda-beda.

Seperti korban bencana alam. Akibat keadaan tersebut mereka kehilangan keluarga, harta dan penghidupan. Mereka membutuhkan materi baik berupa makanan, pakaian, tempat penginapan yang layak. Apa yang ada di sekelilingnya adalah reruntuhan bangunan. Selain itu korban yang cidera maupun meninggal dunia. Siapapun yang melihat akan merasa sedih dan ikut berduka. Keadaan yang sama parahnya adalah mereka yang hidup di negara yang sedang perang. Untuk melakukan aktivitas yang wajar dalam perdagangan tidak dimungkinkan. Apa yang ada hanya ketakutan dan cengkraman bahaya kematian. Sehingga kebutuhan hidup mereka sangat tergantung dari belas kasih orang lain.

Memang betul tidak semua orang hidupnya berkecukupan atau berlebih-lebih. Meskipun ada keinginan kuat untuk membantu orang lain namun keadaan materi tidak memenuhi. Untuk hal ini kalau materi tidak punya, kita dapat memberikan tenaga. Dengan tenaga yang kita punya, dapat membantu pekerjaan yang ada menjadi lebih ringan dan cepat selesai. Kalau suatu pekerjaan dilakukan dengan bekerja sama, beban berat atau kesukaran apapun akan jauh lebih ringan karena ada yang membantu. Sehingga kerja sama begitu penting dalam meraih tujuan bersama.

Sumbangsih tenaga lebih cenderung dapat dilakukan oleh kaum muda dan mereka yang masih kuat. Sementara bagi orang yang telah lanjut usia atau fisiknya lemah, hal ini tidak memungkinkan. Bukannya membantu mengangkat beban yang ada didepannya. Malahan dia sendiri yang akan diangkat oleh orang lain karena kelelahan dan keletihan. Untuk hal ini mereka dapat memberikan dalam bentuk lain, yaitu pemikiran. Pemikiran dapat meliputi ide-ide positif dan membangun. Dengan pengalaman yang telah mereka hadapi atau alami sendiri.

Ide demikian amatlah langka dan berharga. Tetapi kalau tidak ada yang menjalani hanya sebatas wacana. Sehingga hubungan satu sama lain harus bersifat saling mengisi. Dengan demikian dapat memberikan hasil yang maksimal.

Kalau pemikiran tumpul atau tidak tinggi, kita pun dapat memberikan nasehat yang baik. Nasehat ini bagaikan pelita bagi orang yang belum pernah menempuh atau menghadapi rintangan dan tantangan kehidupan.

Tidak semua orang pandai dalam memberikan nasehat kepada yang lain. Ada nasehat yang tujuannya baik karena cara penyampaiannya kurang malah sering salah pengertian dengan orang lain dan menimbulkan kesalahpahaman.

Untuk hal seperti itu mereka masih dapat memberikan senyuman. Saat berjumpa atau berpapasan dengan orang lain kalau kita memberikan senyum persahabatan, orang lain akan menerima dengan persahabatan pula. Meskipun kita tidak mengenal orang tersebut secara dekat. Namun suasana persahabatan dan kekeluargaan terus terjalin dimana pun kita berada.

Ada orang yang saat memberikan senyum bukannya menarik untuk dipandang tetapi malah membuat orang menjadi ketakutan, terhadap hal ini kita dapat memberikan hati yang baik. Mendoakan kesuksesan, kesejahteraan atas usaha dan jerih payah orang lain. Hal ini mudah dilakukan oleh siapapun juga. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak dapat memberikan dana.

Dalam suatu Mata Kuliah Agama Buddha di Universitas Surabaya, sewaktu pertanyaan ini kami berikan kepada Mahasiswa yang mengambil program Agama Buddha, semuanya sepakat untuk menjadi seorang pemberi dana daripada penerima dana. Alasannya memberikan dana lebih baik daripada hanya menerima saja. Berdana dapat memberikan kebahagiaan bagi orang lain.

Dalam berdana ada 3 (tiga) hal yang harus diperhatikan :
1. Pikiran Ikhlas, senang dan bahagia
Dalam Dharma disebutkan ada 3 (tiga) kondisi yang harus diperhatikan, yaitu sebelum memberi, saat memberi dan setelah pemberian tersebut dilakukan hendaknya pikiran bersih, penuh keikhlasan dan tidak ada penyesalan. Minimal dari tiga kondisi tersebut setelah memberi kita harus bahagia dan tidak boleh menyesal atas apa yang telah kita lakukan.

Kalau sebelum memberi kita bahagia, saat memberi kita bahagia namun setelah memberi kita menyesal. Hal ini seperti orang yang hidup pada masa kecil dia mengalami kebahagiaan, saat remaja/ dewasa pun dia tetap bahagia. Namun memasuki usia tua dia mengalami penderitaan dan tidak bahagia.

2. Barangnya harus bersih
Pengertian barangnya harus bersih adalah barang tersebut diperoleh dengan cara sesuai dengan Dharma dan bersih dari segala tindakan melawan hukum atau merugikan makhluk lain. Kadang ada orang yang punya kemauan memberi namun barangnya dari hasil mata pencahariaan yang salah, seperti barang hasil pencurian. Ini pun bukan dana yang bersih.

3. Barangnya kepada orang suci
Berdana kepada orang yang suci, nilai kebajikannya lebih tinggi ketimbang orang biasa. Dalam ukuran kebaikan disebutkan bahwa berdana kepada hewan kebajikannya 100 kali, berdana kepada manusia memiliki moral tidak baik 1.000 kali lipat. Dana diberikan kepada manusia yang bermoral 100.000 kali lipat.  Jasa kebaikannya akan terus melipat 100 kali sampai pada berdana kepada Buddha.

Buddha bersabda, “Siapa yang suka berdana dia akan dicintai dan disukai. Inilah manfaat langsung dapat dipetik dalam kehidupan ini. ”Wajah cantik, suara merdu, kemolekkan dan kejelitaan, kekuasaan serta mempunyai banyak pengikut. Semua ini dapat diperoleh dari perbuatan baik berdana.” (Nidhikhanda Sutta, Samyutta Nikaya I : 2)

Kita dapat melihat salah satu kisah latihan kemurahan hati yang dilakukan Buddha pada kehidupan lampaunya sebagai seorang Bodhisattva. Apabila kita lihat lebih jauh kita akan merasa merinding mendengar betapa hebat pengorbanan yang diberikannya. Pada kehidupan sebelumnya Beliau terlahir di sebuah keluarga mulia. Kemudian dia menjadi pemimpin kelompoknya. Dia memancarkan kemurahan hati dan kesusilaan. Dia memiliki pengetahuan ajaran suci, disiplin diri dan pengetahuan agama. Selain itu, Dia pun memiliki kebijaksanaan dan kerendahan hati.

Dengan diberkahi kekayaan yang tiada bandingannya, Dia melaksanakan praktik kemurahan hati dalam berdana. Dia adalah pemberi dana terbaik, hidupnya hanya bagi kemanusiaan, sungguh jauh dari sikap pelit dan mementingkan diri sendiri.

Dia begitu bahagia melihat para pengemis, sebagaimana perasaan bahagia para pengemis saat melihat dirinya. Dalam sekilas pandang, kedua-duanya sama-sama mengetahui bahwa keinginannya yang terdalam telah terpenuhi. Singkatnya Dia tidak dapat menolak permintaan apapun. Dengan belaskasihnya tidak membuat dia melekat pada harta kekayaan. Sehingga kebahagiaan utamanya menyaksikan orang-orang miskin membawa barang-barang bagus dari rumahnya.

Suatu hari Raja Sakka mendengar kebajikan Bodhisattva dan merasa sangat takjub. Dia pun memutuskan untuk menguji keteguhan hati Bodhisattva. Maka hari demi hari, sedikit demi sedikit dia membuat harta Bodhisattva berkurang bahkan pada suatu malam dia mengambil seluruh hartanya. Dia hanya menyisahkan seutas tali dan sebilah sabit.

Melihat hartanya telah habis, Bodhisattva tetap menjaga batinnya dan tidak terjatuh dalam kesedihan. Dengan berbekal tali dan sabit dia pergi ke ladang dan mengumpulkan rumput-rumputan untuk dijual. Dia tetap berusaha memberi kepada para pengemis.

Dalam keadaan seperti itu pun kembali dengan berbagai cara raja Sakka tetap mencoba menguji kemurahan hati Bodhisattva, namun Bodhisattva tetap teguh dalam pendiriannya. Akhirnya raja Sakka meminta maaf atas perbuatannya dan mengembalikan harta yang telah disembunyikannya.

Apabila kita lihat cara orang memberi berbeda-beda. Semua ini tergantung dari tingkat batin dan kesadaran masing-masing. Umumnya orang memberi sesuai kemampuan hidupnya. Bahkan Buddha menjelaskan membuang air setelah mencuci piring sudah termasuk tindakan kebajikan asalkan diiringi dengan pikiran murah hati, “Semoga partikel-partikel makanan di dalam cucian ini menjadi makanan bagi makhluk-makhluk di tanah.”

Kalau berdana seperti itu saja dapat memberikan jasa kebajikan, berdana kepada manusia tentu jauh lebih tinggi. Untuk manusia yang memiliki aspirasi membantu semua makhluk terbebas dari penderitaan mereka akan memberikan segala hal termasuk hidupnya sendiri. Ini memang sangat luar biasa.

Dalam tradisi utara disamping persembahan kepada makhluk yang tampak, ada pula persembahan kepada makhluk yang tidak tertampak. Termasuk persembahan kepada para Buddha, Bodhisattva maupun kepada makhluk rendah.

Persembahan ini berawal dari kisah banyaknya ibu-ibu perumah tangga yang menangis menghadap kepada Buddha dan menceritakan kesedihan mereka bahwa anak-anaknya telah diculik oleh para Asura. Mereka memohon kepada Buddha berkenan membantu mencari jalan keluar dan menghilangkan ketakutan berpisah dengan putra-putrinya.

Buddha yang penuh dengan belas kasih menyanggupi untuk membantu. Pada dimensi dunia yang lain, para naga pun menghadap kepada Buddha mereka sangat sedih karena anak-anaknya dimakan oleh burung Garuda. Buddha pun menyanggupi untuk mencari jalan keluarnya.

Dengan kemampuan yang luar biasa. Buddha menangkap anak-anak para Asura. Sehingga membuat ibu-ibu Asura sedih dan menangis mencari-cari dimana anaknya berada. Mereka menghadap kepada Buddha. Buddha bertanya, “ Mengapa Anda sedih dan menangis. Para Asura menjawab, “Bagaimana kami tidak sedih anak-anak kami tidak ada. Entah ada di mana mereka berada. Buddha pun kembali bertanya, “Apa kalian pernah merasa pula bagaimana dengan anak-anak manusia yang telah kalian tangkap tersebut. Apakah ibu-ibunya tidak sedih dan menderita. !” Tanya Buddha. Asura ini pun menjawab, “Kami sebenarnya tidak ingin melakukan hal seperti itu, tetapi bagaimana kami dapat mengatasi. Kami pun perlu makan karena itu kami sebetulnya terpaksa.” Buddha berkata, “Kalau ada orang yang memberikan persembahan apakah anda akan menghentikan perilaku buruk tersebut. Mereka pun tidak keberatan dan dengan sekejap mata Buddha pun melepaskan anak-anak para Asura dan menyerahkan kembali ke orangtuanya.

Sementara Buddha berada di alam naga Buddha menemui Burung Garuda dan bertanya kepada burung tersebut. Mengapa anda memangsa para naga ?” Burung Garuda pun menjawab, “Kalau saya tidak memangsa naga, hewan jenis apa yang dapat saya makan !” karena di antara hewan-hewan lainnya naga merupakan hewan yang paling besar. Kalau saya memangsa hewan jenis lain itu tidak cukup untuk mengatasi rasa lapar saya.

Buddha pun berkata, “Kalau ada cara anda mendapat makanan tanpa harus membunuh para naga, apakah anda mau menghentikan membunuh para naga. Burung Garuda ini pun setuju.

Maka berkenaan dengan hal tersebut Buddha pun membuat suatu persembahan untuk dilimpahkan kepada para makhluk Asura, burung garuda maupun makhluk-makhluk lainnya agar tidak menderita kelaparan dan kehausan. Tradisi ritual itu pun sampai saat ini tetap dan masih dipertahankan oleh tradisi Utara. Terlepas dari segala alasan apapun. Kalau kita dapat menciptakan pikiran penuh kemurahan hati dan mau membantu makhluk apapun tentu akan memberikan manfaat bagi siapapun yang melakukannya.

2.    Kesempurnaan dalam Perbuatan Baik (Sila Paramita)
Melakukan perbuatan baik dalam pengertian Buddhis melatih pikiran, ucapan dan perilaku yang baik. Landasan perbuatan baik adalah Hiri (rasa malu melakukan kejahatan) dan Ottapa (rasa takut terhadap akibat kejahatan yang telah dilakukan). Selama orang masih memiliki kedua sifat tersebut maka dia akan mampu mengendalikan dirinya dengan baik dan dapat mengatasi perbuatan jahat yang ada.

Kita tidak boleh menganggap sebagai hal kecil terhadap perbuatan negatif yang ada. Seperti kisah seorang Pertapa yang melakukan pindapata (mengumpulkan makanan) di suatu desa. Pertapa ini ternyata disukai oleh seorang perempuan perumah tangga yang ketagihan minuman keras dan tidak dapat mengendalikan nafsu inderanya.

Perempuan tersebut berharap dapat melakukan hubungan badan dengan pertapa tersebut. Untuk melakukan niatnya maka dengan berbagai cara dia pun mengundang Pertapa itu masuk ke rumahnya. Alasannya ingin memberikan persembahan makanan.

Namun pada saat di dalam rumah dia meminta pertapa tersebut untuk menemaninya minum arak. Tentu saja tawaran ini langsung di tolak oleh Pertapa muda tersebut.

Perempuan itu tetap mengoda Pertapa tersebut, permintaan kali ini adalah berhubungan badan. Pertapa yang menyadari dia adalah seorang pertapa, apa yang diminta tersebut adalah tidak pantas. Kembali dia menolak permintaan perempuan tersebut.

Perempuan ini pun tidak kehilangan akal. Dia mengajukan permintaan ketiga yaitu dia meminta agar pertapa memotongkan ayam untuknya. Tentu saja ini pun ditolak oleh pertapa tersebut.

Akhirnya perempuan ini menjadi sangat kesal karena ketiga permintaan tak satu pun dipenuhi. Dengan nada sedikit mengancam, dia berkata kepada pertapa tersebut. “Saya ingin anda mengabulkan salah satu permintaan saya. Kalau tidak anda lakukan saya akan berteriak dan meminta bantuan penduduk bahwa anda mencoba ingin mengganggu dan memaksa berhubungan badan. Penduduk akan datang dan memukuli anda. Coba pertimbangkan lagi !”

Dengan segala pertimbangan, akhirnya pertapa ini pun mengabulkan permintaan perempuan tersebut, yaitu dia bersedia menemani minum arak. Dia menganggap arak bukan merupakan kesalahan besar, hanya kesalahan kecil saja dibanding dengan pilihan yang lain. Dia pun meneguk arak yang telah disajikan perempuan tersebut sehingga membuatnya mabuk.

Dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri, perempuan ini meminta dia melakukan hubungan badan. Pertapa ini pun tanpa sadar melakukannya.  Tidak berhenti sampai di sana, perempuan ini meminta dia memotong ayam yang ada di kandang. Dalam keadaan tanpa sadar pertapa itu pun melakukannya.

Di sini kita melihat, perbuatan yang sekiranya dianggap sederhana atau kecil ternyata memberikan pengaruh yang begitu besar. Bukan hanya satu perbuatan salah saja yang telah dilakukan pertapa tersebut, tetapi ketiga perbuatan tersebut telah dilakukannya. Sehingga dari hal ini kita pun tidak boleh meremehkan atas kesalahan kecil. Kesalahan tetap kesalahan dan kita harus cepat-cepat perbaiki agar tidak menjadi besar dan berkembang lebih jauh.

Dalam Maha Parinibbana Sutta, Buddha bersabda faedah sila, yaitu sila menyebabkan orang memiliki banyak harta kekayaan, nama dan kemashyuran akan tersebar luas, saat dia menghadiri setiap pertemuan tanpa ada keragu-raguan atau ketakutan, karena dia menyadari dia tidak akan dicela atau didakwa orang banyak, memberi ketenangan di saat menghadapi kematian dan akan terlahir di alam yang berbahagia.

3.    Kesempurnaan dalam Kesabaran (Ksanti Paramita)
Pada bulan Magha, saat Buddha berkumpul dengan 1.250 bhikkhu yang datang tanpa diundang, semua memiliki kekuatan gaib (abhinna), murid yang langsung ditahbiskan oleh Beliau dan semuanya adalah Arahat. Pada saat itu, Buddha membabarkan pokok ajaran Dharma salah satu di antaranya, yaitu mengenai, kesabaran merupakan cara pertapaan yang terbaik.

Dalam Jatakamala, saat masih sebagai seorang bodhisattva bernama Sutasomo. Beliau dengan kesabaran dan ketenangan yang luar biasa mengatasi Raksasa yang begitu kejam dan menakutkan. Para pangeran dari negeri seberang telah diculik dan akan dijadikan persembahan untuk dewa api. Siapapun yang melihat raksasa tersebut akan ketakutan dan lari tunggang-langgang. Namun dengan ketenangannya, Sutasoma menghadapi raksasa tersebut.

Pada saat raksasa tersebut telah mendekat ke kerajaan ayahandanya. Sutasoma menyambut dengan keberanian dan kemantapan. Para pasukan kerajaan siap berjuang, membela dan mempertahankan Pengeran. Namun Sutasoma menolak karena belas kasih dan tidak menghendaki pertumpahan darah/ korban yang lebih banyak nantinya akibat perperangan dengan para raksasa. Beliau mengikuti tempat persembunyian raksasa tersebut. Raksasa tersebut mengagumi ketenangan dan keberanian dari Bodhisattva. Meskipun dilihat dari ukuran dan kekuatan fisik, Bodhisattva yang jauh dibandingnya.

Dalam berbagai percakapan Sutasoma mampu menundukkan hati Raksasa yang kejam dan menakutkan tersebut. Pada akhirnya raksasa ini pun meminta petunjuk Dharma dari Sutasoma. Dengan ketenangan dan pengetahuannya Sutasoma membuat hati raksasa yang kejam semakin melunak seperti es yang dibiarkan mencair dengan sendirinya. Bersedia mengikuti apa yang disampaikan. Dalam hal ini Sutasoma mengalahkan raksasa tersebut dengan ketenangan dan kesabaran. Bukan dengan kekuatan fisik.

Kita perlu mengembangkan ketenangan dan kesabaran dalam hidup ini. Kita sering melihat saat orang menghadapi masalah dia begitu terbawa pada arus permasalahan yang ada dan melupakan keberadaan dirinya maupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia benar-benar larut pada permasalahan tersebut dan membuat permasalahan yang dihadapi seakan-akan bertambah besar dan berat.

Siapapun tidak mengharapkan permasalahan. Terlepas dari itu, apabila ada permasalahan yang timbul kita harus cepat mencari jalan keluar bukan hanya larut begitu saja, menyesal, sedih dan marah. Malah terkadang orang-orang yang ada di sekeliling kita, menjadi ikut terbawa suasana yang kita hadapi. Ini bukan cara mengatasi permasalahan yang tepat. Malah menambah masalah yang baru. Karena sudah timbul kita tidak dapat menolak atau mengubah waktu mundur. Satu-satunya cara terima, mengakui dan menyadari sepenuhnya ada permasalahan di depan kita. Selanjutnya dicari jalan penyelesaiannya dengan hati tenang dan penuh percaya diri.

Dengan terus merenung dan mencari jalan keluar bahwa masalah dihadapi ini tidak berarti apa-apa dibanding dengan penderitaan makhluk lainnya. Orang lain dapat mengatasi begitu pun saya dapat melakukan hal yang sama.

Cara mengatasi permasalahan dengan kesabaran dan ketenangan dalam Buddhisme mengundang daya tarik dunia Barat. Pemecahan masalahnya sangat unik. Buddhisme mengenal dan mengakui setiap orang memiliki Boddhicitta atau benih-benih kebaikan, benih-benih kebuddhaan.

Sehingga tidak heran, apabila seorang guru Zen mampu mengubah seorang murid yang semula kurus kering, tidak bersemangat menjadi seorang yang kuat dan gagah berani. Mengapa hal ini dapat terjadi ?” Karena guru ini percaya setiap orang punya benih-benih kebuddhaan. Hanya menunggu orang yang tepat untuk membentuk, mengasah sesuai hasil yang diharapkan.

Bagaimana teknik pelatihan kesabaran ?” Dalam Anggutara Nikaya diuraikan kesabaran dilatih sebagai berikut : “Ketika seseorang kehilangan sanak keluarga, kekayaan atau kesehatan, dia merenungkan sebagai berikut : Inilah sifat alami kehidupan di dunia ini, inilah sifat alami kemampuan keberadaan individu, bahwa 8 (delapan) kondisi dunia terus membuat dunia berputar dan dunia memutar. Delapan kondisi dunia ini terdiri dari Untung – rugi, terkenal – tercemar,  dipuji – dicela, senang – derita. Dengan mempertimbangkan hal ini dia tidak berduka dan tidak khawatir atau meratap atau memukuli dadanya atau menjadi gelisah pada saat kehilangan sanak saudara, kekayaan atau kesehatan.”

Selain itu, Guru Besar Shantideva menyebutkan kesabaran akan memiliki makna, apabila : Kita menyadari orang yang menyakiti kita, mereka itu sebetulnya belum mampu mengendalikan diri sendiri dengan baik. Mereka masih terbawa oleh keinginan jahat yang tanpa disadari tidak baik untuk dirinya. Seperti kata-kata kasar hanyalah sebatas kata-kata saja. Oleh karena itu untuk apa kita membalas perbuatan jahat yang terjadi. Tidak akan membawa manfaat sama sekali.

Kita menyadari apa yang kita terima adalah hasil serupa dari perbuatan kita sebelumnya. Oleh  karena itu janganlah menyakiti orang lain.

Kita menyadari orang memiliki tubuh jasmani. Kalau tidak ada tubuh jasmani tidak ada obyek yang dapat disakiti. Sedangkan tubuh jasmani ini tidak kekal. Untuk apa kita mempertahankan ketidaksabaran ?” Dalam satu kelahiran ke kelahiran berikutnya kita selalu berganti tubuh jasmani. Sementara itu dalam kehidupan yang tak terhitung jumlahnya, kita mungkin memiliki hubungan yang dekat. Seperti mereka mungkin orang tua kita, saudara, guru atau orang yang amat berjasa. Karena mereka begitu berharga, apakah benar kalau kita menyakiti mereka.

Kita menyadari keberadaan mental. Emosi, kebencian dan kemarahan timbul karena kita memiliki perasaan tidak senang terhadap apa yang orang lakukan baik terhadap dirinya maupun orang lain. Perasaan ini sifatnya tidak tetap dan selalu berubah. Oleh karena itu mengapa kita membiarkan perasaan membuat kita menderita.

Kita menyadari keberadaan kita dengan orang lain tidak ada bedanya. Orang yang selalu membedakan dirinya dengan orang lain menciptakan permasalahan sendiri. Mereka masih terbelenggu oleh keakuan. Di mana ke-akuan sendiri adalah kosong. Lalu apa yang dapat dipertahankan !” Seperti kisah ombak kecil dengan ombak besar. Ombak kecil merasa rendah diri, frustasi melihat dirinya berbeda dengan yang lain. Lalu pikiran ombak kecil ini dicerahkan oleh ombak besar. Mengapa ?” Karena baik ombak kecil maupun ombak besar, hakekat mereka adalah air. Keduanya terbentuk sama dari unsur air.

Kita menyadari dan menelaah apakah ada manfaat dari perbuatan tidak baik. Dalam hidup ini perbuatan tidak baik akan membawa penderitaan tidak hanya orang lain tetapi dirinya sendiri. Kalau orang tidak ingin menderita tentu dia tidak akan meyakiti orang lainnya.

Kita menyadari kesabaran adalah bentuk latihan. Latihan penyempurnaan diri yang sangat berfaedah bagi kita sendiri.

Kita menyadari orang telah melatih dan menunjukkan kita ke jalan keBuddhaan. Kita memiliki kesempatan berharga untuk melatih dan memperbaiki sifat-sifat negatif yang ada.

Kita menyadari manfaat positif kesabaran. Kita akan hidup rukun dengan setiap orang. Apakah orang tersebut sangat baik maupun orang yang sangat menjengkelkan. Kita tidak akan goyah, diterima dan disukai siapapun. Karena keberadaan kita tidak merupakan ancaman. Tetapi kita dianggap sebagai teman yang baik.

4.    Kesempurnaan dalam Semangat (Viriya Paramita)
Motivasi semangat yang luar biasa dapat kita lihat pada saat Bodhisattva Gotama hendak mencapai tingkat kesucian, Beliau berikrar : “Biarlah hanya kulit, otot dan tulangku yang tersisa, biarlah darah dan daging di tubuhku mengering, Aku tetap tidak akan mengendurkan semangat sampai aku berhasil mencapai apapun yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia, semangat manusia, usaha manusia.” (Anggutara Nikaya II : 12)

Semakin banyak kita menghadapi masalah dan rintangan hidup. Janganlah kita artikan beban permasalahan kita berat. Sebaliknya hal ini menjadikan kita menjadi orang yang besar dan kokoh. Seperti otot tubuh, selama kita melatih terus dan menghadapi beban berat, maka otot lengan bertambah besar dan kokoh. Berbeda dengan mereka yang tidak melatih ototnya akan melemah dan tidak bertenaga. Bahkan otot yang tidak terlatih saat diberi beban kecil akan membuat sakit dan tak berdaya.

Apabila kita perhatikan dengan seksama ada suatu kebiasaan baik yang dilakukan oleh orang tua kita yang perlu untuk terus diikuti dan dikembangkan, yaitu puja bakti setiap pagi dan sore hari. Mereka berdoa agar dapat menghadapi hidup ini dengan tegar dan penuh semangat.

Awal hari yang baik ini kalau dapat dijaga maka sepanjang pagi kita akan dipenuhi suasana kebahagiaan dan kedamaian. Begitu pun kalau siang dan malam dapat dijaga serta dipertahankan maka sepanjang hari tersebut merupakan hari berbahagia bagi kita.

Semangat perlu untuk dijaga, dipertahankan dan ditingkatkan. Janganlah kita mudah patah semangat takut persaingan dalam segala hal. Suatu contoh menarik dalam dunia usaha. Pada suatu kawasan, lokasi atau mal tertentu ditempati pedagang-pedagang barang yang sama. Mereka tidak takut persaingan atau lari dari area tersebut. Malahan dari waktu ke waktu jumlah pedagangnya terus bertambah. Apa artinya !” Hal ini menunjukkan adanya peluang usaha berada disana. Selain itu memiliki prospek yang baik untuk berusaha dibanding dia menjajakan dagangannya di suatu tempat terpisah dan berdagang sendirian.

Suatu hukum umum kalau suatu usaha mendatangkan untung tentunya akan timbul banyak pedagang yang sama. Jadi semakin banyak pedagang berarti semakin terbuka lebar kesempatan sukses. Bukan sebaliknya, menunggu hanya kita yang bermain sendiri. Kalau barang tersebut tidak dikuasai sendiri, kemungkinan lain barang yang ada tidak umum atau tidak disukai pasar.

Dalam Sigalavada Sutta ada hal yang harus dihindari oleh seorang perumah tangga adalah sifat pemalas, dengan berbagai alasan selalu menghindar dari kewajiban yang harus dilakukan. Alasan terlalu pagi, terlalu siang, terlalu malam, terlalu dingin, terlalu panas, sehingga dia tidak melakukan hal apapun. Waktunya hanya dihabiskan dengan bermalas-malasan saja. Semasa muda tidak dipergunakan secara maksimal dalam mengisi hidup ini. Hal ini tidak akan membawa kebaikan untuk masa tua-nya nanti.

Kita tidak perlu takut gagal dalam menghadapi kehidupan ini. Cobalah kita cermati dengan seksama bagaimana seekor ulat yang tidak menarik untuk dipandang tapi ia dapat tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang memikat dan menawan hati. Pada saat sebagai seekor ulat berbulu. Ulat ini berjuang sendiri tanpa dibekali apapun oleh kedua orang tuanya. Tetapi ia dapat menjalani dan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dalam kehidupannya. Setiap saat ia dapat dimakan oleh serangga-serangga, burung-burung atau hewan lainnya. Di samping faktor-faktor lain yang menghambat dan mengancam hidupnya.

Dengan berjalannya waktu ia dapat hidup bahkan kalau sudah sampai waktunya ia pun dapat mengubah wujudnya dari ulat yang tidak menarik menjadi seekor kupu-kupu yang disukai oleh semua orang.

Begitu pun dalam menjalani kehidupan ini. Kita harus memiliki semangat yang kuat dan selalu berpegang pada jalan Dharma. Karena setiap makhluk memiliki boddhicitta. Kalau ini dapat dipertahankan maka kehadiran kita akan menjadi orang yang sangat dibutuhkan dan diharapkan oleh siapapun juga. Kita menjadi pelita dan penerang bagi semua.

5.    Kesempurnaan dalam Perhatian (Dyana Paramita)
Melatih perhatian dan kesadaran setiap saat, selama kematian belum tiba, tubuhku masih sehat- tidak sakit,  aku masih kuat dan muda aku akan terus melatih menuju kesempurnaan.

Hidup ini sangat berharga dan waktu berlalu begitu cepat. Oleh karena itu, setiap saat kita perlu sadar dan mawas diri terhadap apa yang kita lakukan. Bahkan sewaktu santai kita pun tidak membiarkan pikiran mengelana tidak menentu tanpa arah tujuan yang jelas.

Seperti saat berada dalam perjalanan, kalau tidak ada orang yang diajak bicara, sebaiknya kita tidak sia-siakan waktu dengan terus melatih diri. Kita isi waktu kita dengan pelimpahan jasa kebajikan, pengembangan sifat-sifat luhur, seperti cinta kasih, kasih sayang, simpati dan keseimbangan batin atau melakukan pelafalan nama Buddha.

Setiap saat merupakan waktu yang berharga dan dapat memberikan kebahagiaan bagi orang yang sadar dan penuh perhatian. Kita tidak harus mencari kebahagiaan di luar diri sendiri. Semua tergantung dari cara kita melatih perhatian dan pikiran ini. Meskipun kita berada di tempat yang sangat indah. Kalau kita tidak cermat, perhatian dan pikiran tidak ke sana. Keindahan yang ada tidak memiliki nilai dan makna. Apalagi orang tersebut tidak dapat mengendalikan pikiran dan perhatian dengan baik. Tempat yang indah tersebut dapat menjadi tempat yang sangat menyiksa dan membosankan.

Kita terkadang masih kurang memaknai kehidupan ini dengan baik. Hidup ini tidak diisi dengan perhatian dan kesadaran. Kita biarkan pikiran kita mengembara tanpa arah dan tujuan. Hidup ini sekedar formalitas saja. Namun saat ditanya kematian mereka menolak dan masih berharap hidup dengan usia panjang. Mengapa ?” Karena mereka masih ingin menikmati kebahagiaan. Langkah-langkah apa yang telah dan atau yang akan dilakukan ?” Jawabannya tidak tahu. Sementara kehidupannya tetap tidak diisi maksimal.

Waktu yang dimiliki semua orang sama, yaitu 24 jam sehari. Waktu ini akan menjadi cepat atau lambat tergantung cara kita mengolahnya. Namun kita harus menyadari bahwa dalam waktu 24 jam tersebut, setiap jam mengandung 60 menit, setiap menit mengandung 60 detik. Sementara setiap detik masih dapat dibagi lagi menjadi beberapa waktu yang terkecil. Meskipun waktu yang sangat kecil tersebut kita miliki dengan maksimal akan membawa perubahan hidup yang berarti.

Bahkan kita telah membaca bagaimana kota Hirosima dan Nagasaki di Jepang, hancur dalam hitungan detik. Belum lagi bencana-bencana alam lainnya. Begitu pula dengan orang yang berhasil hanya terpaut beberapa detik dengan orang lain. Dia menjadi juara, pengusaha sukses atau orang yang dapat selamat dari bencana.

Sehingga tidaklah heran mengapa Buddha selalu menekankan kepada murid-muridnya untuk mempergunakan waktu secara maksimal dalam kehidupan ini. Karena tidak ada yang tahu apakah kita masih dapat bertahan hidup besok, atau beberapa jam, beberapa menit atau beberapa detik.  Seperti pada suatu kesempatan, Buddha bertanya pada murid-muridnya, “Berapa lama kehidupan manusia ?” Muridnya menjawab, “Beberapa hari. Buddha berkata, “Tidak tepat. Murid lain berkata, “Seukuran makanan. Buddha berkata, “Tidak tepat. Murid lainnya menjawab, “Sepanjang nafas. Buddha berkata, “Benar sekali, murid ini mengerti kebenaran.”

Ada suatu kisah tiga orang pemuda yang tinggal di Apartemen lantai 15. pada suatu malam minggu mereka berjalan bersama. Menghabiskan malam minggu dengan berjalan-jalan ke tempat hiburan sampai larut malam.

Setelah merasa senang mereka pun pulang. Namun pada saat sampai di apartemen tersebut. mereka tidak dapat memakai lift yang tersedia karena ada sedikit kerusakan. Sehingga jalan satu-satunya dengan menaiki tangga darurat.

Sementara kalau tidak dilakukan mereka tidak tahu harus tinggal dimana. Akhirnya ketiga orang tersebut memutuskan untuk menaiki tangga sambil mengobrol. Mereka pun menaiki satu lantai demi satu lantai. Pada saat sampai di lantai 5 salah satu temannya yang badannya sedikit lebih lemah meminta untuk membatalkan niat untuk terus naik ke lantai 15 tersebut. namun teman-temannya menghibur. Kita sudah naik ke lantai 5 tinggal 1/3 perjalanan lagi. Mari bangkit dan lanjutkan perjalanan.

Mereka pun menaiki tangga satu demi satu. Pada saat sampai di lantai 10 kembali lagi ada yang merasa lelah dan kehilangan semangat. Teman-teman yang lain terus menghibur. Akhirnya mereka tetap lanjutkan perjalanan. Pada saat berada di lantai 13 salah seorang dari mereka meminta ke yang lain untuk segera memberikan kunci kamar agar dia dapat membuka dan merebahkan tubuhnya saat sampai di kamar.

Namun temannya yang memegang kunci mengatakan bahwa kuncinya ketinggalan di mobil. Hal ini membuat semangat yang ada menjadi hilang.

Bagaimana dengan kehidupan kita sehari-hari. Apakah kita seperti ketiga pemuda tersebut sudah mendekati tujuan membuat kesalahan fatal dan harus menuruni tangga mengambil kunci tersebut.

Kehidupan yang begitu berharga tidak dapat kita perhatikan dengan cermat dan dalam kondisi sadar. Tetapi membiarkan pikiran tidak terkendali dan membuat kita melakukan perbuatan tidak tepat. Kalau perbuatan tersebut masih bisa diatasi mungkin tidak memberatkan tetapi bagaimana dengan perbuatan yang sangat berat yang mana mempertaruhkan hidup kita. Tentu hal ini tidak perlu terjadi.

Oleh karena itu perhatian dan kesadaran sepatutnya selalu kita kembangkan setiap saat dimanapun kita berada. Apapun yang kita lakukan tanpa ada pengecualiannya. Sehingga memberikan hidup penuh makna dan berarti bagi siapapun juga.

6.    Kesempurnaan dalam Kebijaksanaan (Panna Paramita)
Seharusnya setiap orang mengembangkan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan ini. Apa yang kita lakukan apabila salah langkah akan merugikan diri kita sendiri baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kebijaksanaan dapat kita kembangkan setiap saat. Setiap saat pula kita dapat melihat dan mengalami banyak ajaran yang berharga. Karena di alam ini penuh dengan ajaran yang berharga. Pada suatu kesempatan di suatu hutan Buddha memungut daun-daun yang berserakan di hutan dengan tangannya. Beliau bertanya kepada murid-muridnya, mana yang lebih banyak daun-daun di tangannya dengan daun-daun yang ada di hutan. Murid-muridnya menjawab bahwa daun-daun yang ada di hutan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang ada di tangan Buddha. Buddha pun bersabda bahwa begitu pula dengan ajaran yang telah Beliau sampaikan seperti daun-daun yang ada ditangannya.

Dalam Sukkhawati Vyuha kita pun dapat melihat ajaran berharga dapat disampaikan dimana saja dan oleh siapapun. Bahkan disebutkan dalam Sukkhavati. Burung-burung dapat mengajarkan Dharma. Sehingga setiap saat Sukkhavati diisi dengan Dharma.

Kalau kita cermat dan bijak kita pun akan melihat hal yang sama. Seperti kisah Seorang laki-laki telah melakukan perjalanan yang jauh untuk menemui guru zen yang ternama. Sebelum dia sampai di tempat kediaman guru zen tersebut dia harus melalui bukit, sungai, gunung, lembah dan hutan. Saat berjumpa dengan guru Zen yang ternama tersebut, laki-laki tersebut langsung bersujud dan memohon agar diterima sebagai muridnya. Guru ini menjawab dengan sederhana. Apa yang telah engkau lihat dan alami saat datang kemari !” Ini yang sering kita lupakan. Bahkan dalam mencapai tujuan hidup kita tidak menikmati prosesnya.

Hal lain yang bisa kita lihat adalah burung Kasuari. Pada masa kecil orang-orang suka menangkap burung Kasuari, burung ini larinya sangat cepat. Semakin kita kejar ia terus berlari. Hanya saja ada hal yang unik pada burung ini. Saat ia sudah mengalami kelelahan dan tidak mampu berlari lagi. Apa yang dilakukan burung ini ?” Untuk menghindari orang yang mengejarnya, ia langsung memasukkan kepalanya ke dalam pasir dan berdiam tanpa melakukan gerakan apapun.

Burung ini melakukan hal tersebut, ia menganggap dengan tindakannya orang yang mengejarnya tidak akan melihat persembunyiannya. Karena ia tidak melihat orang lain maka ia anggap orang lain pun tidak akan melihat dirinya dan tempat persembunyiannya. Namun nyatanya apa yang burung ini lakukan justru membuat orang-orang dengan mudah menangkap daripada burung ini tidak memasukkan kepala ke dalam pasir. Karena dalam kondisi siap setidaknya ia masih bisa melawan atau mempertahankan diri.

Dalam hidup ini kita pun sering menemukan orang-orang yang masih memegang prinsip burung Kasuari. Orang-orang melakukan kesalahan dan tindakan-tindakan tidak terpuji dan menganggapnya bukan tindakan salah. Tidak berarti orang menyetujui dan tidak melihatnya.

Ada lagi kejadian yang menarik, ada orang pindah keyakinan ke agama lain. Mereka merasa telah terbebas dari karma negatif daripada berkeyakinan pada agama Buddha. Karena pada ajaran barunya dia tidak melihat dan tidak diajarkan mengenai hukum karma secara terperinci. Dengan tindakan tersebut mereka sudah merasa bebas dari beban kejahatan. Apakah hal tersebut benar ?”

Mereka tidak melihat dan menyadari Dharma bersifat universal. Apa yang diajarkan berlaku tanpa mengenal ruang, waktu dan tempat. Apakah mereka percaya pada ajaran Buddha atau tidak, Dharma akan berlaku bagi siapapun juga. Kebaikan akan membawa kebahagiaan sedangkan kejahatan akan membuat orang menderita.

Seperti perbuatan menyakiti orang lain dengan alasan apapun tidak dibenarkan. Apakah kita mau menyakini ajaran Buddha atau tidak, semua keputusan terserah kita sendiri. Namun kita tidak dapat menolak terhadap akibat perbuatan yang telah atau yang akan kita lakukan. Hal sederhana, yaitu perasaan gelisah akan menghantui, raut wajah yang tegang dan tidak bersahabat. Ini baru efek sederhana belum lagi perbuatan itu berbuah penuh.

Harusnya kita merasa sangat berterima kasih, apabila sampai saat ini kita masih dapat mengenal, mempelajari dan melaksanakan Dharma dengan baik. Karena dharma ini begitu dalam tidak semua orang dapat memahaminya dan memiliki kesempatan seperti kita. Dharma ini hanya dapat dipahami oleh para bijaksana. Sehingga kita termasuk orang yang sangat beruntung !”

Bagaimana kebijaksanaan dapat tumbuh dan berkembang ?” Ada 4 (empat) hal yang dapat menopang pertumbuhan kebijaksanaan, yaitu  : Bergaul dengan orang yang bijaksana, mendengarkan Dharma, Perhatian yang tepat dan praktek sesuai  Dharma.

Bergaul dengan orang yang bijaksana
Dalam Manggala sutta disebutkan : Tidak bergaul dengan orang yang bodoh, melainkan bergaul dengan orang yang bijaksana, menghormati orang yang pantas dihormati itulah berkah termulia.

Kita bergaul atau berhubungan dengan siapa, ini memiliki pengaruh bagi kehidupan kita. Sebagaimana diuraikan dalam Sigalovada Sutta, Buddha bersabda terdapat enam bahaya bagi orang yang mempunyai pergaulan tidak baik, yaitu setiap penjudi adalah temannya, setiap orang yang asusila adalah temannya, setiap pemabuk adalah temannya, setiap pembohong adalah temannya, setiap penipu adalah temannya dan setiap orang suka berkelahi adalah temannya.

Kalau kita bergaul demikian, waktu yang ada tidak kita manfaatkan secara maksimal. Kecenderungannya lebih memboroskan waktu yang ada. Bahkan di samping itu, kemungkinan besar kalau kita terus-menerus melakukan pergaulan demikian. Kita pun dapat memiliki sifat dan perilaku seperti mereka.

Seperti dikisahkan seorang pemuda, pada awalnya pemuda ini tidak terbiasa minuman keras. Di keluarganya tidak ada orang yang meminum arak.  Namun karena dia suka bergaul dengan teman-temannya kebetulan semuanya peminum berat. Setiap bertemu mereka selalu menawarkan dia minum. Beberapa kali pemuda ini dapat menolak permintaan temannya yang lain. Namun karena didesak berulang kali dan untuk menunjukkan persahabatan, pemu

Meskipun pertama kali dia merasakan hal yang tidak enak atau nikmat. Karena sering dilakukan dan diulang, akhirnya pemuda ini terbiasa dan dia menjadi seorang peminum yang lebih berat dari teman-temannya. Kalau pada permulaan dia selalu menolak atas pemberian arak dari temannya. Sekarang dia malah meminta. Bahkan tidak sampai di sana saja, dia pun menawarkan hal yang sama kepada orang yang belum pernah minum arak.

Dalam hal tersebut kita melihat perbuatan sederhana tersebut ternyata dapat mempengaruhi orang yang lain. Belum lagi orang yang tercandu makanan dan pengkonsumsi obat yang tergolong psikotrapika yang dilarang menurut hukum. Selain membahayakan diri sendiri, masyarakat bahkan berbahaya pula untuk kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Bergaul dengan orang yang tepat akan mendorong sifat baik yang belum muncul menjadi timbul sebaliknya sifat yang baik yang telah muncul menjadi berkembang. Apa yang belum pernah kita alami kita menjadi tahu. Apa yang belum kita ketahui kita menjadi mengerti. Inilah faedah yang begitu besar bergaul dengan orang-orang yang bijaksana.    

Mendengarkan Dharma
Dharma merupakan ajaran yang luar biasa, tidak lapuk oleh waktu maupun usia, selalu mengundang bagi siapa saja untuk mempelajari, meneliti dan membuktikan dalam kehidupannya. Sehingga dapat memberikan faedah dalam menjalani kehidupan ini.

Manfaat kita mendengarkan Dharma begitu besar, sebagaimana diuraikan oleh  Geshe Kelsang Gyatso, dalam bukunya berjudul Joyful Path of Good Fortune sebagai berikut : Dengan mendengarkan Dharma kita akan mengetahui semua Dharma. Kita akan menghentikan semua perbuatan tidak baik. Kita akan menghindari semua yang tidak ada arti. Kita akan mencapai pembebasan.

Bahkan dalam kisah-kisah kelahiran kembali, Aryasura menyebutkan manfaat lainnya, yaitu manfaat mendengarkan Dharma seperti sebuah lampu yang menghalau kegelapan dan kebodohan, mendengarkan Dharma merupakan harta terbaik yang tidak dapat dicuri oleh pencuri, mendengarkan Dharma merupakan senjata yang ampuh untuk menghalau musuh kebingungan, mendengarkan Dharma merupakan teman terbaik dimana kita mendapat pengarahan terbaik, mendengarkan Dharma adalah keluarga dan teman yang setia saat kita jatuh kemiskinan materi, mendengarkan Dharma merupakan obat yang mujarab mengobati penyakit kegelapan, mendengarkan Dharma merupakan petarung hebat menghancurkan kesalahan, mendengarkan Dharma merupakan harta terbaik karena dasar dari segala pengetahuan dan sumbernya, mendengarkan Dharma merupakan hadiah yang dapat diberikan pada teman dan mendengarkan Dharma merupakan cara terbaik menyenangkan orang lain.

Perhatian yang tepat
Perhatian yang tepat di sini mengandung makna bahwa kita dengan cermat melatih dan memperhatikan terus menerus setiap aktivitas yang kita lakukan. Pada saat kita makan, berjalan, berdiri, duduk, berbicara bahkan dalam keadaan tidur kita tetap tidak mengendurkan perhatian kita.

Begitu pula terhadap perubahan mental atau emosi yang terjadi. Kita perhatikan dengan penuh kewaspadaan dan teliti lebih jauh. Sehingga gejolak mental atau emosi akan memiliki makna tersendiri. Kita akan mengerti apa yang disebut gejolak mental atau pun emosi tersebut. Sehingga kita tidak membiarkan pikiran kita terlena dan terbuai atas momen atau kejadian yang kita hadapi.

Apabila hal tersebut timbul lagi. Kita tidak menjadi takut, khawatir atau terbawa emosi. Kita akan mudah mengatasi dan tidak terpancing oleh keadaan tersebut. Karena kita telah memiliki pengertian benar yang merupakan permata paling berharga bagi siapapun yang dapat mengerti dan merealisasikannya.

Praktek sesuai  Dharma

Vasubandhu dalam Treasury of Abhidharma, mencontohkan seorang teller Bank yang menghabiskan sepanjang waktu bekerja menghitung uang dan mengepaknya. Teller ini memiliki jumlah uang yang sangat besar namun dia tidak dapat melakukan apa-apa atas uang yang ada didepannya karena uang tersebut bukan miliknya. Begitu pula kita dapat mendengarkan semua ajaran yang begitu bermanfaat/ berharga dan memberitahukan kepada orang lain bahaya roda samsara dan kualitas unggul pembebasan. Tetapi kalau kita tidak pernah melaksanakan, merenungkan/ bermeditasi, hal tersebut tidak bermanfaat.

Buddha menyebutkan berberapa tipe orang berkaitan dengan Dharma. Orang yang mempraktek Dharma adalah orang-orang yang hidup dekat dengan Dharma. Apa yang dimaksud hidup dekat dengan Dharma, yaitu Orang yang menguasai Dharma, khotbah, khotbah, prosa campuran, penjelasan, syair, ungkapan-ungkapan yang penuh inspirasi, ucapan-ucapan singkat, cerita-cerita kelahiran, cerita-cerita luar biasa dan lain-lainnya. Dia   melewati hari-harinya dengan sibuk menguasai Dharma, dia tidak mengabaikan kesendirian, dia melatih dirinya untuk memperoleh ketenangan pikiran di dalam. Selanjutnya dia memahami artinya dengan kebijaksanaan.

Janganlah kita hanya membawa dan memperlihatkan permata yang begitu indah dan berharga. Kalau permata tersebut tidak dijalankan tentu sangat disayangkan sekali. Buddha menyebutkan hal ini dengan datang terang, pergi gelap. Orang yang sudah berhadapan langsung dengan ajaran yang begitu berharga dan dapat membawa pada jalan pembebasan namun dia tidak mampu untuk melaksanakan bahkan menyia-nyiakan hidup begitu saja.

Selain itu, ada 8 (delapan) hal yang menyebabkan berkembang dan matangnya kebijaksanaan, yaitu : Berlalunya waktu, bertumbuhnya reputasi, sering bertanya, berhubungan dengan pembimbing spiritual, penalaran di dalam diri, diskusi, berhubungan dengan orang-orang yang berbudi luhur dan berdiam di tempat sesuai.

Berlalunya waktu
Kita sering mengenal dan mendengar orang tua banyak makan asam garam dibanding dengan anak-anak muda. Ini memiliki pengertian seiring  dengan waktu yang telah dijalani, dilewati dan dilalui, mereka telah mengalami banyak hal dan kejadian. Peristiwa bahagia maupun peristiwa menyedihkan seperti bumbu masakan yang mewarnai setiap langkah perjalanan hidupnya.

Peristiwa-peristiwa yang telah dialami tersebut menjadi pengalaman hidup yang sangat berarti dan merupakan modal bagi penempuh jalan baru untuk menghadapi hal yang sama. Karena mereka telah berpengalaman atau mengetahui kejadian yang kemungkinan orang lain belum alami karena dia telah mengalami terlebih dahulu. Sehingga berlalunya waktu menjadi pelajaran tersendiri bagi siapapun juga.

Kadang sangatlah disayangkan pada waktu tertentu orang sangat sulit dinasehati mengenai hal-hal yang tidak membawa kemajuan baik kehidupan duniawi maupun spiritual. Hal ini disebabkan karena darah muda yang masih bergejolak atau pikiran yang tertutup. Nasehat yang berharga tersebut, seperti tiupan angin berlalu begitu saja.

Pada saat dia mengalami sendiri dia mulai mau mengerti apa yang orang lain telah katakan atau nasehati kepada mereka. Seperti saat ini maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pihak keluarga, sekolah maupun pemerintah. Dengan pemberian seminar dan pelatihan tentang bahaya dari pergaulan bebas. Nyatanya tetap saja ada orang yang tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Mereka tetap terlibat dalam pergaulan bebas yang merugikan, tidak hanya dirinya tetapi juga orang lain.

Bertumbuhnya reputasi
Bertumbuhnya reputasi membuat orang berhati-hati dalam berpikir, berucap maupun melakukan perbuatan. Apa yang dilakukan akan dilakukan oleh orang lain, perbuatan negatif mereka akan menjadi sorotan bagi masyarakat luas. Apakah mau diakui atau tidak !” Seakan-akan ada kamera berjalan mengikuti setiap gerak langkah yang mereka lalui.

Kalau ditanya apakah hal tersebut baik atau buruk, jawabannya tergantung pada kebutuhan mereka. Kalau orang tersebut mengambil sisi positif dia akan melihat tidak buruk sepenuhnya. Karena ada orang yang selalu mengingat dan menyadarkan dirinya untuk berbuat yang terbaik. Sehingga dia tidak akan ceroboh atau teledor melakukan perbuatan yang tidak pantas atau merugikan. Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang bagi masyarakat luas atau para bijaksana sebagai perbuatan tercela atau bodoh. Sehingga orang tersebut memiliki pengendali dirinya dengan baik.

Sering bertanya
Apa yang tidak kita ketahui akan kita tahu kalau kita dapat bertanya kepada orang lain. Karena orang lain akan membantu menjelaskan kebimbangan dan ketidaktahuan kita sehingga kita menjadi tahu dan mengerti. Di dunia ini kita tidak harus mengalami semua kejadian agar kita menjadi tahu atau mengerti. Ada hal yang perlu kita tanyakan pada orang lain yang lebih mengetahui atau ahlinya. Kita tidak perlu memiliki sifat malu bertanya. Orang bertanya tidak berarti dia bodoh justru dia ingin mengetahui lebih lanjut kebenaran dan mengembangkan pengetahuan yang dia miliki. Dengan bertanya ini akan membuat orang menjadi pandai dan bijaksana. Mereka melakukan satu langkah lebih maju, cepat dan praktis.

Seperti saat kita ingin pergi ke tempat teman kita yang berada di daerah tertentu yang mana tidak pernah kita lalui. Kalau kita tidak mau bertanya kita kemungkinan banyak menghabiskan waktu untuk berputar-putar mengitari daerah tersebut. Hal ini dapat pula membuat kita tidak ketemu apa yang kita tuju. Tetapi kalau kita bertanya maka dalam waktu sekejab kita akan menemukan tempat yang ingin kita tuju tersebut.

Begitu pula dengan permasalahan hidup lainnya kalau kita menghadapi hal demikian. Ada baiknya kita bertanya kepada orang yang tepat yang dapat membantu mengatasi dan mencari jalan keluarnya lebih cepat dibanding kita hanya berdiam diri saja.

Berhubungan dengan pembimbing spiritual
Dalam tradisi Vajrayana, Guru adalah orang yang sangat penting. Bahkan Guru diletakkan pada kedudukan paling atas dibanding yang lain. Termasuk kepada Buddha, Dharma dan Sangha sekali pun. Para praktisi Vajrayana akan mendudukan begitu tinggi para Lama dan Rinpoche. Meskipun terkadang Rinpoche ada yang berkeluarga. Penghormatan kepada guru Rinpoche dapat melebihi penghormatan kepada Bhikkhu yang telah meninggalkan kehidupan duniawi. Yang mana kalau pada tradisi Buddha Selatan, Bhikkhu tersebut mewakili Buddha. Sehingga mereka lebih dihormati dan dipuja.     

Guru merupakan orang yang sangat berjasa di samping kedua orang tua kita. Karena guru dapat membimbing dan membuka mata memandang dunia ini. Selain itu menunjukkan jalan pencerahan.

Penalaran di dalam diri
Dalam latihan Vipassana menekankan penalaran atau perenungan terhadap segala obyek yang kita temui. Kita melatih kesadaran terhadap segala kejadian dan merenungkan dengan seksama. Segala gejolak atau obyek yang timbul dicermati, diperhatikan, dianalisa dan direnungkan sumbernya.

Dengan latihan tersebut kita akan memahami keberadaan fenomena atau obyek-obyek yang kita temui tersebut. Apakah obyek tersebut betul-betul timbul dengan keberadaan yang jelas.

Ternyata setelah kita telusuri lebih jauh, keberadaan obyek adalah kosong. Dikatakan ada tetapi kosong. Dikatakan kosong tetapi ada. Seperti saat kita menganalisa mengenai “manusia.” Apakah yang disebut manusia ?” Apakah tangan ini kita sebut manusia ? Ternyata tidak. Apakah kaki yang kita miliki ini manusia ? Jawabannya bukan juga. Apakah Kepala yang disebut manusia ?” Tidak. Apakah hidung ini disebut manusia ? Kita akan menemukan jawaban sama, tidak. Lalu apakah yang disebut manusia ? Apakah hanya kumpulan organ-organ yang kita miliki ? Itu pun bukan jawaban yang tepat. Karena kalau organ-organ yang dikumpulkan. Orang sudah menyebutnya sudah berbeda, bukan manusia lagi.

Manusia adalah perpaduan organ-organ dan unsur-unsur batin secara berkesinambungan yang mana keberadaan yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Sehingga kalau kita telah mengerti keberadaan manusia. Kita pun dapat melanjutkan kepada hal-hal lain yang terjadi pada diri kita. Seperti marah, perasaan emosi, tersinggung, kesal atau kecewa. Mengapa hal tersebut dapat terjadi pada diri kita. Kita telusuri pada unsur indera yang berkait. Misalnya “Kebencian.” Apa yang membuat timbul kebencian. Apakah orang mengucapkan kata-kata yang tidak benar mengenai diri kita ? Mengapa kita harus benci ?” Apakah dengan perlakuan orang lain tersebut membuat kita langsung kehilangan indera ? Setelah kita telusuri lebih lanjut. Ternyata kebencian tidak memiliki hakikat berdiri sendiri. Kalau demikian mengapa kita harus membenci !”

Sering kali orang dimainkan oleh perasaan dan penglihatannya. Seperti ada orang lain bermaksud menasehati apa yang dilakukannya tidak bijak atau tidak tepat namun orang tersebut penampilannya tidak menyenangkan dan penyampaiannya kasar, atau orang tersebut sebelumnya pernah menyakiti dirinya. Ini pun dapat membuat orang benci atau bertambah benci dan tersinggung.

Hal tersebut akan berbeda kalau penyampaian dilakukan oleh orang yang menarik dengan tutur kata baik, teman baik atau orang yang berjasa dalam hidup kita dengan cara sama kita tidak marah malah kadang berterima kasih. Meskipun esensinya sama.

Dengan perenungan tersebut membuat kita lebih dewasa. Mudah menghadapi realita dan tidak mudah terbawa arus kehidupan. Tidak mudah terbawa emosi, terombang-ambing oleh permasalahan hidup. Menjalani hidup ini lebih realistis.

Diskusi
Diskusi dapat menambah pengetahuan dan ketajaman pemikiran yang kita miliki. Dalam diskusi kita dapat belajar dari orang lain, bagaimana mereka menyikapi suatu masalah apakah secara obyektif atau tidak. Pendapat, pemaparan pandangan yang telah diutarakan oleh orang lain terkadang pada kesempatan lain sangat berguna dan bermanfaat bagi kita.

Dalam Milinda Panha, Nagasena menyebutkan ada 8 (delapan) tempat yang harus dihindari oleh orang yang ingin berdiskusi secara mendalam, yaitu : tanah yang tidak rata dimana masalah yang didiskusikan menjadi tercerai-berai, bertele-tele, menjadi kabur dan tidak ada hasilnya ; tempat yang tidak aman dimana pikiran menjadi terganggu oleh rasa takut sehingga tidak dapat mencerap maksudnya dengan jelas ; tempat yang berangin dimana suara menjadi tidak jelas ; tempat terpencil dimana ada kemungkinan orang mencuri dengar ; tempat yang sakral dimana pokok pembicaraan kemungkinan terarah ke situasi sekitarnya yang tenang ; jalanan kemungkinan pembicaraan menjadi dangkal ; jembatan dimana pembicaraan kemungkinan menjadi tidak stabil dan bergoyang dan tempat pemandian umum dimana pembicaraan akan menjadi percakapan sehari-hari.

Dalam Maha Parinibbana Sutta, Buddha bersabda perkembangan kemajuan akan dicapai apabila menghayati dan mengamalkan tujuh syarat, diantaranya sering berkumpul mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat, selalu menganjurkan perdamaian dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi diselesaikan secara damai. Maka perkembangan dan kemajuan yang harus kita harapkan. Bukan kemundurannya.

Sehingga diskusi mempunyai peran yang amat penting dalam menyelesaikan setiap permasalahan, perselisihan atau kesalahpahaman sehingga diperoleh pengetahuan dan perdamaian.

Berhubungan dengan orang-orang yang berbudi luhur
Orang yang berbudi luhur mendorong dan mengingatkan kita berjalan pada jalan kebenaran. Karena mereka merupakan orang yang dapat dijadikan panutan dan contoh kebajikan yang dapat dilakukan oleh orang.

Dalam Itivuttaka disebutkan, “Apabila orang yang tidak melakukan kejahatan bergaul dengan orang yang melakukan kejahatan, dia akan dicurigai melakukan kejahatan dan nama baiknya tercemar.”

Betapa pentingnya teman yang kita ajak bergaul. Semakin tinggi kualitas atau keluhurannya maka akan membuat kita sama kualitasnya dengan temannya tersebut. Hal ini sangat sulit untuk dipisahkan. Cepat atau lambat akan mempengaruhi orang tersebut. Seperti orang yang mengikat ikan yang busuk dengan beberapa helai rumput, akan membuat rumput tersebut berbau busuk. Begitupula orang yang mengikuti orang yang bodoh. Sebaliknya orang yang membungkus bubuk Cendana dengan dedaunan yang lebar akan membuat daun itu berbau harum. Begitu pula orang yang mengikuti orang yang bijaksana atau berbudi luhur.

Berdiam di tempat sesuai
Berdiam di tempat yang sesuai merupakan berkah utama. Tempat tinggal merupakan kondisi yang cukup mendukung pembentukan watak dan kepribadian kita.

Tempat yang didiami penuh orang bermoral maka yang lain pun akan terbawa menjadi orang yang bermoral. Begitu juga dengan tempat yang didiami dengan orang-orang yang kemoralannya rendah mempengaruhi masyarakat sekitar pun memiliki kemoralan yang rendah.

Seperti kita dapat saksikan mereka yang berdiam di tempat yang kumuh, orang-orangnya gemar berjudi dan minum-minuman keras. Anak yang terlahir di lingkungan tersebut sangat sulit untuk terlepas dari kondisi demikian. Setiap hari mereka melihat perilaku negatif tersebut. Hal ini mempengaruhi mental mereka. Mereka pun menganggap sebagai hal biasa dan wajar.Sebaliknya saat mereka melihat ada orang yang tidak berperilaku demikian dikatakan sebagai orang yang aneh. Karena sebagian besar orang yang hidup di sana berjudi. Ternyata ada orang yang tidak mengerti berjudi. Membuat mereka heran dan aneh.

Untuk keluar dari lingkaran tersebut sangatlah sulit dan hanya beberapa saja yang betul-betul mampu untuk keluar dari sana. Sebagian lagi menjadi penerus malah lebih berbahaya dari sebelumnya.

Sehingga saat kita berdiam di tempat yang sesuai kita perlu bersyukur bahwa kita memiliki kesempatan positif dalam hidup untuk menanam dan mengembangkan kebajikan.

Selain itu tidak semua tempat dapat mendukung dalam praktek Dharma dengan bebas. Ada daerah tertentu keberadaan agama dilarang. Ini memang sangat memprihatinkan. Namun bagaimana pun supaya tidak terlalu bertabrakan dengan hukum negara. Untuk hidup aman dan sejahtera orang harus mematuhi dan tunduk pada aturan yang ada tersebut.

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas Kelahiran sebagai manusia ternyata amat berharga dilengkapi dengan segala keistimewaannya memungkinkan kita untuk mencapai hasil maksimal. Keberhasilan atau tidak tergantung dari usaha kita sendiri dan kita tidak dapat melepaskan realita bahwa kehidupan ini adalah tidak kekal. Dalam ketidakkekalan memungkinkan kita mencapai pencerahan. Oleh karena itu marilah kita hargai kehidupan ini dengan aktivitas positif untuk kemajuan diri sendiri maupun masyarakat luas.